Belajar dan Hidup di Pesantren

Pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan Islam berbasis masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan diniyah, biasanya menggunakan sistem asrama atau pondok, di mana santri tinggal dan belajar agama di bawah bimbingan seorang kyai. Tujuannya adalah menanamkan keimanan dan ketakwaan, menanamkan akhlak mulia, dan membentuk pribadi muslim yang berilmu dan berguna bagi masyarakat, agama, dan negara. Hal tersebut menjadi alasanku ingin belajar dipesantren.

Pada tanggal 1 juli 2018, tepat setelah aku lulus dari sekolah dasar. Saat itu umurku masih 12 tahun disitu aku sangat yakin untuk menuntut ilmu dipesantren. Langkah kecilku menghantarkan aku dari lampung menuju ke magelang, jawa tengah tanpa rasa takut. Disitu aku hanya diantar oleh ibuku. Pagi pertama dipesantren aku bangun jam 4 subuh dan merasakan suasana yang sangat berebeda, yang biasanya dirumah ada keluarga dan ketika bangun bisa langsung mandi, namun dipesantren harus mengantri hanya untuk mandi, rasanya sangat sedih karena harus jauh dari keluarga dan harus bisa melakukan semuanya senidri.

Namun, itu merupakan pilihan besar yang aku ambil saat itu dan sadar bawha hal itu merupakan pilihan yang sangat baik untuk masa depanku, dan aku harus bisa melewati masa – masa itu dengan ikhlas. Hari kehari, minggu keminggu, bulan ke bulan, tahun ketahun pun mulai terlewati, 6 tahun sudah aku menjalani hidup di pesantren. Pengalaman yang takkan terlupakan seumur hidupku. Pesantren mengajarkan banyak sekali pengalaman hidup, mulai dari sedih, bahagia, kesabaran, kedisiplinan, dan kemandirian.

6 tahun merupakan waktu yang lama, tapi menurut saya selama dipesantren 6 tahun adalah waktu yang sangat singkat dan tidak terasa. Kebersamaan dengan teman – teman dipesantrenlah yang menjadikan waktu itu menjadi sangat berkesan. Mulai dari tidur, makan,

ngaji, mandi, dan sekolah kami selalu bersama. Selalu bersama tidak menjamin tidak pernah bertengkar, justru jika selalu bersama maka selalu ada perbedaan pendapat yang sering terjadi. Namun hal tersebut sangat wajar terjadi dipesantren, dan mengajarkan tentang bagaimana memahami karakter seseorang dan menerima pendapat orang lain. bukan hanya masalah itu saja, dipesantren banyak sekali masalah-masalah kecil yang biasa terjadi seperti, barang hilang, penyakit kulit, air habis, mengantri, kehabisan uang, dan makanan. Masa.lah – masalah tersebut mengajarkan kita untuk sabar, dan belajar untuk mengerti keadaan. Karena dalam kehidupan ini kita tidak bisa selalu mudah, pasti ada dimana masa – masa sulit itu.

Tak hanya masalah, banyak kegiatan dan moment – moment sangat menyenangkan selama dipesantrean. Kegiatan pembelajaran mulai dari solat berjamaah, mengaji, dan sekolah, kegiatan ini mengajarkan kita untuk disiplin, dan bagaimana dapat membagi waktu dengan baik. Kegiatan yang dilakukan itu mengukir banyak sekali moment – moment yang indah bersama teman. Moment saat bangun tidur, kemudian membersihkan kamar, solat berjamaah subuh, membaca qur’an bersama teman – teman dan wali kamar, ngaji dari pagi sampai siang sebelum dzuhur, setelah siang kami berangkat ke sekolah, kami bersekolah hingga jam 5 sore, setalah pulang sekolah kami bersantai sambil menunggu adzan magrib berkumandang, setelah adzan berkumandang kami bersiap – siap untuk melaksanakan solat magrib berjamaah di aula, bukan sekedar jamaah, setelah solat magrib kami melakukan dzikir dan mujahadah bersama sampai adzan isya dan lanjut melaksanakan solat isya berjamaah, Setelah itu kami ngaji tabarukan bersama pak kyai sampai jam setengah 9 malam, lanjut kami bersantai dan belajar sampai jam 11 malam karena jam itu adalah batas kami melakukan kegiatan dimalam hari, lalu terakhir kami bersiap tidur. Disana kami tidur menggunakan kasur seperti matras yang tipis, dan saling berhimpitan. Pengalaman hidup seperti itu itu sangat mengajarkanku untuk harus bersyukur dengan semua nikmat yang tuhan berikan untuk kita, mengajarkan tentang life skill yang kita butuhkan saat menginjak kehidupan yang sesungguhnya.

Selama 6 tahun disana saya menempuh pendidikan dari jenjang SMP hingga ke jenjang SMK dengan jurusan tata busana. Setelah lulus saya memutuskan untuk kuliah dan mengambil jurusan yang selinier, kebetulan karena itu merupakan hobiku dari kecil. Dan takdir mengizinkanku untuk berkuliah dengan jurusan yang aku inginkan di Universitas Negeri Semarang.  Perjuangan  menuju  kesana  tidaklah  mudah,  aku  mengalami  kegagalan  terlebih dahulu. 

Namun, semangat dan tekatku memberikan hasil yang baik. Dan sekarang aku sedang menempuh pedidikan S1 dengan jurusan tata busana. Kehidupan diluar setelah lulus dari pesantren tidaklah mudah, rasanya hampa sekali, karena biasanya di pesantren kita selalu bersandingan dengan ajaran – ajaran agaman dan selalu dituntun. Dan ketika diluar haru bisa memegang diri sendiri supaya tetap berada dijalan yang benar, hal itulah yang sangat sulit dilakukan apalahi di zaman seerti sekarang ini. Namun, seiring berjalannya waktu aku bisa mmegang diriku sendiri untuk menjaga keimananku dan nilai – nilai pesantren yang telah diajarkan. Tak lupa pula pengalaman – pengalaman di pesantren merupakan bekal yang sangat berguna untuk menghadapi kerasnya dunia di luar sana.(*)

Oleh Sabrinatun Najwa