Ada masa ketika rasa ingin tahu dianggap dosa. Masa ketika bertanya “mengapa bumi bergerak?” bisa membuat seseorang digantung, diseret, atau dihilangkan namanya dari sejarah. Masa ketika ilmu pengetahuan belum menjadi cahaya, melainkan api yang bisa membakar siapa pun yang mendekatinya.
Di masa itulah Orb: On the Movements of the Earth menempatkan ceritanya. Sebuah dunia gelap, bukan karena kurangnya cahaya matahari, tetapi karena terang pengetahuan sengaja dipadamkan. Dan justru di dunia gelap seperti itulah, manusia seperti lilin: kecil, rapuh, namun tetap menyala.
Ada satu rasa yang terus-menerus muncul ketika membaca Orb: sesak. Para cendekiawan dalam cerita ini tidak hanya berhadapan dengan larangan, mereka hidup dalam ketakutan yang lengket, sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang meski matahari terbit.
Mereka tidak bisa membaca buku di ruang terbuka. Mereka harus berbohong pada muridnya sendiri untuk menjaga keselamatan. Mereka tahu bahwa tulisan mereka bisa menjadi bukti yang menyeret mereka menuju hukuman. Mereka sadar bahwa kebenaran yang mereka temukan mungkin tidak akan pernah mereka lihat diakui selama mereka hidup.
Tekanan itu bukan sekadar rasa takut. Itu adalah perang melawan diri sendiri:”Apakah aku salah?”; ”Apakah aku gila karena memikirkan hal ini?”; ”Apakah benar kebenaran ini layak dipertaruhkan nyawa?”
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat Orb terasa begitu manusiawi. Para cendekiawan ini bukan pahlawan super. Mereka rapuh, mereka ragu, tetapi mereka tetap berjalan.
Apa yang membuat Orb terasa begitu menyentuh adalah kenyataan bahwa kisah seperti itu benar-benar pernah terjadi. Dunia pernah memiliki cendekiawan yang hidup dalam tekanan serupa, dikejar, dibungkam, dan dipaksa bersembunyi demi mempertahankan secercah kebenaran. Salah satu contoh paling penting dari rantai warisan pengetahuan ini adalah hubungan antara Albert Brudzewski (Wojciech Brudzewski) dan muridnya, Nicolaus Copernicus.
Brudzewski adalah seorang cendekiawan Polandia dari Universitas Krakow, seorang matematikawan dan astronom yang berani pada zamannya. Ia mengkritik model Ptolemaik dengan terang-terangan—sebuah sikap yang, di abad itu, bukan sekadar “pendapat ilmiah”, tetapi tindakan berbahaya. Ia mempertanyakan sistem orbit kompleks yang diajarkan turun-temurun, dan membuka ruang untuk cara pandang baru tentang langit.
Namun yang paling berharga dari Brudzewski bukan hanya tulisannya, melainkan keberaniannya untuk mengajar, meski tahu apa risikonya. Dan di antara murid yang duduk di kelasnya, ada seorang pemuda yang kelak akan mengguncang dunia: Nicolaus Copernicus.
Seandainya Brudzewski menyerah pada ketakutan, sejarah mungkin tidak pernah mengenal Copernicus seperti yang kita kenal sekarang.
Cerita Orb bukan hanya tentang bumi yang bergerak. Ini adalah kisah tentang manusia yang menolak diam. Tentang orang-orang yang tahu bahwa kebenaran tidak selalu membuat hidup lebih nyaman, kadang justru menghancurkannya, namun mereka tetap memilihnya.
Jika bukan karena langkah-langkah kecil yang menyakitkan dari orang-orang masa lalu, mungkin dunia hari ini masih terasa datar, gelap, dan diam. Tetapi mereka bergerak, mereka membuat dunia bergerak. Dan kini, kita bisa melihat langit sebagaimana adanya, bukan sebagaimana dulu dipaksa untuk dipercaya.(*)
Oleh Muhammad Rifqi Rafsanjani