Pada era media sosial yang supercepat ini, tentu outfit bukan cuma soal tampil keren di kamera doang. Buat gen Z, fashion sekarang buat jadi cermin kepribadian, bukan sekedar tren musiman.
Haiii, kenalin aku Ay mahasiswa Universitas Negeri Semarang Prodi Pendidikan Tata Busana. Kalian pasti udah nggak asing lagi dengan generasi satu ini generasi Z atau yang kita kenal sebagai gen Z.
Kalau dilihat-lihat sekarang kebanyakan gen Z berpenampilan on point nggak mau ketinggalan tren outfit yang lagi hits dan nggak mau ketinggalan update, karena takut disebut kudet alias kurang update. Sikap inilah gen Z sering disebut FOMO (Fear of Missing Out) rasa takut ketinggalan tren yang sedang viral.
Padahal, outfit memiliki makna bagi diri sendiri. Setiap pakaian mencerminkan suasana hati, kepribadian, dan nilai yang ingin disampaikan tanpa banyak omong. Buat gen Z cara berpenampilan bukan cuma soal terlihat keren di mata orang lain, tapi juga cara untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
Setiap outfit punya ceritanya sendiri. Warna, model hingga detail kecil dari outfit yang dikenakan menjadi simbol mencermikan lingkungan, jati diri, dan identitas mereka alias gen Z. Tidak hanya itu saya fashion bagi gen Z bukan lagi tentang “siapa yang paling keren”, melainkan “siapa yang paling ontentik”. Mereka berani mencampurkan berbagai gaya mulai dari thrif outfit (baju bekas yang diolah kembali) sampai streetwear modern (gaya berpakaian kasual yang terinspirasi dari budaya jalanan) tanpa takut dipandang aneh.
Fashion yang bermakna tidak selalu harus mahal. Kadang, baju sederhana pun bisa jadi steatment kuat kalau dipadukan dengan rasa percaya diri dan keaslian diri. Setiap orang punya gaya berpakaian yang berbeda dan dari situlah kepribadian mereka sering kali terlihat.
Bagi sebagian anak gen Z, outfit skena bukan cuma gaya berpakaian saja. Kaos band, jaket denim, celana longgar, dan tas yang bertuliskan nama musisi jadi ciri khas yang nggak bisa dipisahkan dari dunia skena. Tampila yang terlihat “cuek”, anak skena justru menampilkan karakter yang kuat, apa adanya, dan punya rasa cinta terhadap dunia music serta seni.
Bagi sebagian cewek gen Z, tampil feminim cara untuk menonjolkan sisi lembut dan Anggun dalam diri mereka. Outfit feminim identik dengan warna pastel serta sentuhan aksesoris kecil seperti tas mini dan perhiasan sederhana. Jangan salah, gaya ini bukan sekedar penampilan manis, melainkan bentuk kepercayaan diri dan cara mereka mengekspresikan kebahagiaan.
Dan nggak semua cewek suka tampil feminim. Banyak juga cewek gen Z yang lebih nyaman bergaya tomboy, simple, sporty, tapi tetap stylish. Mereka lebih memilih outfit yang longgar, kasual, dan bebas gerak. Kaos oversized, celana jeans, jaket hoodie, sampai sneakers andalan. Gaya tomboy bukan menolak sisi feminim, tapi bentuk ekspresi diri yang menunjukkan kalau cewek bisa tampil kuat, mandiri, dan percaya diri tanpa terikat pada standar penampilan tertentu.
Perkembangan fashion yang cepat, muncul gerakkan baru dari anak gen Z “outfit daur ulang”. Anak gen Z mulai sadar kalau tampil keren nggak harus beli yang baru. Mereka memanfaatkan pakaian lama, mengombinasikan bahan bekas, atau mendaur ulang kain yang tak terpakai sampai menciptakan gaya baru yang unik dan penuh makna. Outfit daur ulang bukan cuma kreativitas, tapi bentuk tanggungjawab terhadap bumi. Setiap potongan pakaian punya cerita, dari jaket bekas dijahit ulang, sampai celana jeans lama diubah jadi rok stylish.
Pakaian vintage juga jadi favorit anak gen Z dari kunikan, sejarah, dan karakter. Di saat orang lain berlomba-lomba memakai pakaian baru, tapia nak gen Z ini memilih pakaian lama yang punya cerita. Jaket kulit, kemeja retro, dan celana high waist jadi bukti kalau gaya klasik tak akan hilang oleh waktu. Pakaian vintage menurut gen Z itu cara menghargai masa lalu sambil tampil relevan di masa kini.
Buat cowok gen Z, outfit warna hitam itu simple bisa dipakai nongkrong, kuliah, sampai acara formal. Warna hitam menggambarkan karakter tenang, misterius, tapi kuat. Dari luar terlihat simple, sebaliknya ada kepercayaan diri yang nggak perlu diumbar. Warna hitam bukan sekedar pilihan aman, tapi simbol dari ketegasan, kedewasaan, dan ketenangan. Dengan paduan sederhana kaos polos, celana hitam, dan sepatu anak gen Z bisa tampil keren.
Buat anak gen Z, dresswell bukan sekedar tampil rapi, tapi untuk mencermikan kepribadian tenang, elegan, dan sederhana. Gaya dresswell nggak perlu branded, yang penting bersih, enak dilihat, dan cocok. Dress pendek dan sepatu hak cukup membuat penampilan anggun tanpa ribet.
Gaya casual itu andalan anak gen Z terutama buat cowok. Simpel, nyaman, dan keren tanpa usaha berlebihan. Jaket hoodie, kaos polos, celana longgar, dan sepatu. Gaya ini nggak ribet, tapi punya ciri khas bisa kelihatan percaya diri, santai, dan keren. Anak gen Z bisa memadukan pakaian, tapi kuncinya ada di paduan warna dan potongan pas dibadan.
Fashion tidak mululu mengikuti tren agar nggak ketinggalan zaman, melainkan tentang seseorang yang merasa percaya diri dan nyaman dengan diri sendiri. Ketika seseorang yang berpakaian dengan makna, ia tidak lagi sekedar ikut-ikutan tren, tetapi sedang merayakan keunikan pribadinya.
Pada akhirnya, fashion bukan cuma tampil kece, tapi tentang “how you own your vibe” (bagaimana kamu menguasai auramu sendiri).(*)
Oleh Theresia Ayulia C.Y.