Siswa Generasi Alpha: Meninjau kembali relevansi pendekatan layanan BK di Sekolah

Oleh

Fatimatun Nashihah1, Ernest Ceti Septyanti2

1,2Universitas Negeri Semarang

Generasi Alpha merupakan kelompok generasi muda yang lahir antara tahun 2010 sampai dengan 2025, keturunan dari generasi milenial dan merupakan adik dari Generasi Z. Keunikan mereka berasal dari kenyataan bahwa mereka tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, dengan ketergantungan manusia terhadap teknologi yang sangat tinggi sehingga sejak usia dini, anak-anak ini sudah terbiasa dengan gadget dan dunia internet. Generasi yang dikenal sebagai digital native, memiliki ciri, antara lain: Kebiasaan melakukan banyak hal sekaligus, Memiliki jejaring komunikasi yang luas, Relatif cepat beradaptasi dengan perangkat digital, serta Cenderung mandiri dalam belajar dan mencari informasi. Hal menarik tentang generasi ini adalah adanya perkiraan bahwa pada tahun 2025 ini, jumlah populasi Generasi Alpha bisa mencapai ± 2 miliar orang di seluruh dunia. Keadaan ini menunjukkan lonjakan besar potensi pengaruh mereka di masa depan dunia.

Perkembangan dunia digital membawa banyak perubahan, dengan berbagai tantangan dan peluang pada proses belajar yang dilalui oleh para siswa ini. Oleh karenanya, salah satu aspek penting yang harus dipertimbangkan di dunia pendidikan saat ini adalah bagaimana mengembangkan kemandirian belajar pada diri mereka. Kemandirian belajar tidak sekedar diartikan sebagai kemampuan anak untuk belajar secara mandiri, tetapi juga meliputi kecakapan mereka dalam mengelola diri (self-organize), memotivasi diri (self-motivate), dan menumbuhkan rasa tanggungjawab diri (sense of responsibility) terhadap proses belajar itu sendiri (Rahmadani et al., 2024). Di sinilah letak peran layanan BK yang sangat krusial dalam mendukung kemandirian belajar para siswa dari generasi alpha ini. Layanan BK di sekolah diharapkan mampu membantu siswa menemukan gaya belajar yang paling sesuai, merancang strategi belajar yang lebih efektif, serta menerapkan pendekatan yang mampu memenuhi dukungan emosional dan motivasi belajar mereka. Pada kenyataannya, meningkatkan kemandirian belajar siswa pada generasi ini bukan tanpa hambatan sama sekali. Beberapa tantangan bagi siswa tidak hanya terletak pada faktor potensi pengaruh negatif yang berasal dari dunia digital, minimnya kemampuan diri dalam manajemen waktu, dan kecenderungan untuk bergantung pada bantuan pihak lain dalam menyelesaikan tugas belajar, tetapi juga pada faktor kerentanan kesehatan mental dan psikologis mereka. Mempersiapkan anak di generasi saat ini pada penguasaan kecakapan hidup mendasar menjadi hal paling urgent yang harus diterapkan di dunia pendidikan sejak usia dini. Isu yang paling relevan saat ini adalah bagaimana pendekatan layanan BK di sekolah dapat mengimbangi tumbuh kembang anak-anak ini agar mereka mampu menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh sebagai pembelajar, sehat secara mental dan emosional, berkarakter dan beretika, kompeten dalam kecakapan hidup, adaptif dan siap menghadapi perubahan zaman, serta memiliki visi dan tujuan hidup.

Saat ini, generasi alpha yang tertua memasuki usia 15 tahun dan akan segera berpindah ke jenjang pendidikan berikutnya, yakni Pendidikan Menengah. Anak-anak pada generasi ini akan segera memasuki masa transisi menuju dewasa. Hal ini bukan sekadar fase studi lanjut dalam pendidikan, tetapi mencerminkan perpindahan generasi alpha ke masa pencarian jati diri yang semakin intens. Beberapa keunikan mereka di antaranya: Perkembangan fisik yang pesat, yang mempengaruhi kepercayaan diri dan cara pandang terhadap diri; Pencarian identitas, yang merupakan masa eksplorasi penting pembentukan karakter; Kebutuhan pengakuan sosial, yang menjadikan mereka sensitif terhadap penilaian orang lain, serta Kemampuan berpikir abstrak yang mulai berkembang. Kehadiran generasi ini seringkali bertolak belakang dengan ekspektasi generasi yang lebih tua karena adanya perbedaan nilai, pengalaman hidup, dan cara pandang terhadap masa depan.

Ciri khas generasi alpha adalah kecenderungan bersikap mengatur, individualis, enggan mengikuti peraturan, dan bahkan berpotensi memberontak, serta merasa tidak bisa hidup tanpa interaksi dengan media sosial, karena mereka telah menjadikan teknologi sebagai bagian integral dari kehidupan mereka (Anwar, 2022). Karakteristik ini tentu saja menempatkan fungsi program layanan BK yang harus disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak di generasi alpha ini. Kesadaran penuh para guru BK terkait cara atau pendekatan dalam pembelajaran di sekolah sudah tidak bisa lagi disamakan dengan cara dan pendelatan yang sama, seperti yang telah digunakan pada para siswa dari generasi sebelumnya.

Menghadapi siswa saat ini memiliki sejumlah tantangan yang cukup kompleks dan menuntut pendekatan yang lebih adaptif. Penelitian menunjukkan bahwa gangguan ini dapat menurunkan tingkat fokus dan konsentrasi siswa, sehingga menyulitkan mereka untuk menyelesaikan tugas secara mandiri. Selain itu, adanya kesenjangan antara kemampuan pedagogis para guru dan cara belajar yang diinginkan oleh Generasi Alpha, membuat pengembangan profesional menjadi sangat penting. Tantangan lain adalah kecenderungan untuk bergantung pada dukungan dari luar. Banyak siswa lebih memilih untuk meminta bantuan ketimbang berusaha menyelesaikan masalah secara mandiri. Hal ini menghalangi perkembangan kemandirian dan kemampuan memecahkan masalah mereka. Walau tantangan ini cukup besar, kehadiran mereka juga memberikan banyak peluang bagi para guru BK untuk melakukan inovasi dan meningkatkan metode pengajaran. Mengadopsi teknologi dan mendorong kolaborasi dapat menghasilkan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan karakteristik Generasi Alpha.

Guru BK harus memahami teknologi, karena mereka menerapkan program layanan BK pada siswa yang digital-native. Hal ini mencakup pendekatan layanan BK yang menekankan literasi digital dan penguatan nilai moral sebagai solusi, misalnya melalui penguatan nilai-nilai religius, dan pengembangan keterampilan sosial-emosional, penilaian perkembangan siswa yang dikembangkan dan diterapkan secara online. Bloom, J dan Walz, G (2004) menekankan bahwa konseling daring adalah layanan konseling yang dilakukan melalui internet tanpa mengabaikan prinsip-prinsip konseling. Jadi, dapat dipahami bahwa konseling daring adalah bentuk layanan profesional yang melibatkan guru BK dan siswa melalui internet, mengelola interaksi yang efektif melalui media tanpa memerlukan kehadiran fisik, serta dapat dilaksanakan kapan dan di mana saja. Konseling berbasis teknologi digital (teleterapi) ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk: konseling melalui telepon, konseling melalui radio dan televisi, konseling via email, dan konseling melalui video konferensi (Kraus et al. , 2011).

Pendekatan layanan konseling berbasis nilai budaya Indonesia yang dirancang untuk membentuk karakter siswa menjadi salah satu bentuk praktik dari pendekatan Postmodern- Konstruksionis (Mappiare-AT, 2017). Model Konseling KIPAS yang dikembangkan pada penelitian Naser dan tim ini diterapkan melalui kolaborasi antara guru BK, manajemen sekolah, dan proses pembelajaran. Model yang merupakan gabungan antara Konstruksionisme Sosial dan Konstruktivisme Psikologis ini memiliki kerangka kerja yang disusun untuk dapat menyesuaikan diri dengan konteks sosial-budaya di sekolah serta kondisi psikologis siswa. Model KIPAS adalah pendekatan konseling yang relatif baru bagi guru BK di lingkungan pendidikan. Kekuatan model konseling KIPAS terletak pada kemampuannya menjadikan nilai-nilai budaya sebagai dasar dalam pelaksanaan layanan BK, sehingga membawa pencerahan dalam pelaksanaan layanan BK di Indonesia.

Kesimpulan

Generasi Alpha merupakan siswa yang digital-native, dengan segala tantangan dan peluang baru bagi para guru untuk tetap efektif di dalam cara-cara mereka mengelola pembelajaran. Kehidupan generasi yang terfokus pada dunia digital ini menuntut perubahan mendasar pada layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Para guru Bimbingan dan Konseling perlu bertransformasi, lebih dari sekadar merubah pendekatan tradisional menjadi fasilitator digital, inovator sosial, dan komunikan yang efektif antara siswa dan lingkungan di sekitar mereka. Pendekatan Bimbingan dan Konseling yang sesuai untuk Generasi Alpha harus mencakup penggunaan teknologi, pemahaman mendalam terhadap karakter siswa, serta kemampuan untuk menciptakan suasana belajar yang interaktif, fleksibel dan inklusif. Hanya dengan cara ini, pendidikan karakter dan kemandirian siswa dalam belajar bisa berlangsung secara adaptif dalam konteks pendidikan saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, F. (2022). Generasi Alpha: Tantangan dan kesiapan guru bimbingan konseling dalam menghadapinya. Jurnal At-Taujih, 5(02), 68-80.

Munawir, M., Alfiana, F., & Pambayun, S. P. (2024). Menyongsong Masa Depan: Transformasi Karakter Siswa Generasi Alpha Melalui Pendidikan Islam yang Berbasis Al-Qur’an. Attadrib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 7(1), 1-11.

Naser, M. N., Hamzah, S., & Mappiare, A. (2022). Implementasi Langkah Kerja Konseling Model Kipas dalam Mengembangkan Karakter Generasi Alpha. Edu Consilium: Jurnal Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam, 3(2), 106-119.

Rahmadani, A., Lestari, D., Fitria, D. S., Dinillah, A., Yunita, H., & Febriani, V. (2024). Building Learning Independence in the Alpha Generation: Challenges and Solutions for Guidance and Counseling Teachers. Bukittinggi International Counselling Conference Proceeding, 2, 103–108. https://doi.org/10.30983/bicc.v1i1.112

Nazhifah, N., Handini, O., Putri, M., Siregar, Z., Nami, N., & Yenita, A. (2024). The Role of Guidance and Counseling Teachers in the Prevention of Bullying in the Alpha Generation. Bukittinggi International Counselling Conference Proceeding, 2, 91–96. https://doi.org/10.30983/bicc.v1i1.110

Sutijono, S., & Farid, D. A. M. (2018). Cyber counseling di era generasi milenial. Sosiohumanika, 11(1), 19-32.