Mengapa Kesehatan Mental Menjadi Prioritas pada Era Modern?

Pada era modern yang penuh dinamika, tuntutan dan tekanan dalam hidup semakin tinggi. Kita selalu dituntut untuk selalu produktif, cepat, dan mampu bersaing dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari pekerjaan, pendidikan, hingga kehidupan sosial. Di balik semua itu, kita sering kali melupakan satu hal yang sangat mendasar, yaitu kesehatan mental. Kesehatan mental merupakan kondisi seseorang yang terbebas dari gejala gangguan mental dalam bentuk apapun. Seseorang yang memiliki mental sehat dapat menjalani kehidupan yang normal dan beradaptasi menghadapi masalah-masalah untuk mengatasi tekanan mental yang muncul.

Data dari WHO menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan mengenai kasus depresi dan gangguan kecemasan dalam tiga dekade terakhir. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu titik balik yang membuka mata dunia bahwa kesehatan mental bukan lagi isu yang dapat kita abaikan. Gangguan kesehatan mental membutuhkan fokus penuh dari para pengambil kebijakan, mengingat gangguan kesehatan mental mulai dianggap sebagai ancaman serius yang membutuhkan respon cepat dari penyedia layanan kesehatan3. Meski kesadaran masyarakat mulai tumbuh, upaya nyata untuk menjaga dan memprioritaskan kesehatan mental dalam kehidupan sehari-hari masih belum optimal. Lalu, mengapa kesehatan mental harus menjadi prioritas utama pada era modern?

Kemajuan teknologi dan globalisasi memang membawa berbagai kemudahan untuk kita, tetapi juga melahirkan sebuah tantangan baru. Misalnya, media sosial, yang sangat memungkinkan kita untuk terhubung kapan saja dan dengan siapa saja. Ironisnya, banyak orang justru merasa semakin kesepian dan terasing dalam kehidupan nyata. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out), dorongan mencari validasi sosial, serta tekanan untuk menampilkan citra hidup yang sempurna di dunia maya, dapat menciptakan beban psikologis tersendiri.

Selain itu, budaya “hustle” yang memuja kesibukan tanpa henti menjadi penyebab lain meningkatnya stres dan kelelahan emosional. Banyak orang merasa bersalah jika beristirahat, seolah waktu santai adalah tanda kemalasan. Padahal, dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menimbulkan burnout, kecemasan berlebih, hingga depresi.

Menyepelekan kesehatan mental dapat berdampak yang serius, baik bagi individu maupun masyarakat luas. Seseorang yang mengalami gangguan psikologis cenderung kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, dan menurunnya semangat hidup. Hubungan dengan orang lain juga bisa terganggu akibat perubahan suasana hati, perilaku impulsif, atau keinginan menarik diri dari lingkungan sosial. 

Tak hanya itu, gangguan mental juga berkaitan dengan kesehatan fisik. Stres yang berkepanjangan juga bisa memicu gangguan tidur, tekanan darah tinggi, hingga melemahkan sistem kekebalan tubuh. Dalam kasus yang ekstrem, gangguan mental yang tidak ditangani dapat berujung pada tindakan melukai diri sendiri bahkan upaya bunuh diri. 

Dalam  praktik  kebijakan  kesehatan  mental  di  Indonesia  masih  menghadapi beberapa kendala dan tantangan dalam implementasinya, beberapa di antaranya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan masalah kesehatan mental yang masih cukup tinggi  di  Indonesia,  kurangnya  sumber  daya  untuk  menyediakan  layanan  kesehatan mental yang memadai, kurangnya anggaran untuk kesehatan mental sehingga pemerintah sulit  dalam  meningkatkan  kualitas  layanan  kesehatan  mental,  Kesadaran  masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mental yang masih rendah, serta budaya Indonesia yang masih memandang kesehatan mental sebagai hal yang tabu dan tidak penting sebagai kendala dalam implementasi kebijakan kesehatan mental.

Mengapa kesehatan mental harus diutamakan? 

  1. Dasar dari Kehidupan yang Seimbang. Kesehatan mental adalah pondasi utama kesejahteraan hidup. Individu dengan kondisi mental yang stabil cenderung mampu mengelola emosi, menjalin hubungan positif, serta membuat keputusan dengan lebih bijak.
  2. Tidak Ada Kesehatan Tanpa Kesehatan Mental. WHO menegaskan bahwa kesehatan sejati bukan hanya bebas dari penyakit fisik, tetapi juga mencakup kesejahteraan mental dan sosial. Menjaga tubuh tanpa menjaga pikiran sama saja seperti membangun rumah tanpa pondasi yang kuat karena pikiran berpengaruh pada kesehatan tubuh.
  3. Menjawab Komplesitas Dunia Modern. Kehidupan masa kini menuntut kemampuan beradaptasi, ketahanan emosional, serta kecerdasan sosial yang tinggi. Untuk dapat bertahan dan berkembang, seseorang harus sehat secara mental, bukan hanya cerdas secara intelektual.
  4. Investasi untuk Masa Depan. Merawat Kesehatan mental sejak dini merupakan langkah pencegahan terhadap masalah yang lebih serius di kemudian hari. Ini bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab bersama. Hal ini melibatkan keluarga, intitusi pendidikan, tempat kerja, hingga pemerintah.

Karena itu, kita perlu menerapkan gaya hidup seimbang dengan tidur cukup, olahraga teratur, dan pola makan sehat, melakukan mindfulness atau meditasi untuk membantu mengelola stres, dan tidak ragu mencari bantuan profesional jika mulai merasa kewalahan secara emosional.

Untuk lingkungan sosial, perlu dibangun ruang aman untuk berbagi cerita tanpa takut dihakimi, dilatih kemampuan mendengarkan dengan empati agar dapat memahami orang lain dengan lebih baik, dan peningkatan literasi kesehatan mental agar masyarakat lebih peka terhadap tanda-tanda gangguan psikologis.

Pemerintah dan lembaga juga harus memperluas akses terhadap layanan kesehatan mental yang professional dan terjangkau, mengintegrasikan pendidikan tentang kesehatan mental dalam kurikulum sekolah, serta mengembangkan kebijakan kerja yang ramah terhadap kesejahteraan psikologis karyawan 

Dalam dunia yang serbacepat dan kompetitif, menjaga kesehatan mental bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama. Kita perlu berhenti menganggap “kuat” yang artinya mampu menahan segalanya sendiri. Justru dengan mengenali batas diri dan merawat pikiran, kita dapat menunjukkan bentuk kekuatan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, kita perlu menjaga baik-baik pikiran, tubuh, hati, dan semuanya. Jika perlu istirahat, lakukan saja. Beri diri sendiri waktu istirahat. Jangan pernah memaksakan diri, tidak apa-apa jika untuk berhenti sejenak kemudian melanjutkan lagi.

“Merawat pikiran adalah bentuk tertinggi dari mencintai diri sendiri”

Sudah saatnya kesehatan mental menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, bukan hanya diperhatikan ketika kita sudah berada di titik lelah dan terendah. Barangkali yang melelahkan itu bukan kehidupan, melainkan kita yang sering kali tumbuh dengan pikiran dan prasangka buruk tentang kehidupan yang bahkan belum terjadi. (*)

Oleh Ais Mauliddiyah