Menembus Banjir Rob Menuju Jepara

Perkenalkan  saya  Amrina  Rosyada.  Saya  ingin  membagikan  pengalaman  saya  tentang “Menembus Banjir Rob Menuju Jepara”

Setiap akhir pekan, Ketika jadwal kuliah di Universitas Negeri Semarang tepatnya di hari Jumat telah usai, aku selalu menantikan momen pulang ke kampung halaman di Jepara. Rasanya seperti sebuah perjalanan yang berkesan bukan hanya sekedar pulang, tetapi Kembali ke tempat dimana aku bisa beristirahat sejenak dari kesibukan kuliah, hiruk piruk kota, dan tumpukan tugas yang seolah tak ada habisnya. Namun, perjalanan menuju Jepara tidak mudah kedengarannya. Ada satu rintangan besar yang selalu menanti ditengah jalan yaitu banjir rob diwilayah Sayung, Demak.

Setiap kali hendak pulang, aku sudah menyiapkan diri secara mental. Bukan hanya untuk perjalanan panjang yang memakan waktu berjam-jam, tetapi juga untuk menghadapi genangan air laut yang baik ke daratan, menenggelamkan sebagian jalan utama yang menghubungkan Semarang dengan Demak. Ketika musim rob dating, Kawasan Sayung berubah menjadi danau buatan. Air asin yang mengenang membuat jalan tampak berkilau terkena sinar matahari sore. Pemandangannya memang menarik, tetapi kondisi itu menyulitkan para pengendara yang melintasinya.

Aku masih ingat betul bagaimana sensasinya ketika roda motorku mulai masuk ke genangan. Air setinggi lutut mulai naik perlahan, cipratan mengenai celana dan sepatu. Terkadang, ada mobil dan truk yang lewat terlalu cepat, membuat ombak kecil yng menerpa pengendara disekitarnya. Tak jarang juga aku melihat kendaraan mogok ditengah jalan, pengendaranya mendorong sambil menahan pasrah. Bau khas air laut bercampur aroma sampah dan oli, membuat suasana terasa semakin berat apalagi kalau sedang hujan. Namun, anehnya, setiap kali melewati situasi ini, ada rasa bangga tersendiri, seolah aku sedang menaklukan rintangan kecil kehidupan.

Perjalanan melintasi rob tidak hanya menguji kesabaran, tetapi juga keberanian. Kadang air terlalu tinggi karena habis hujan sehingga aku harus menepi dulu. Pernah suatu kali, saat malam hari dan rob sedang tinggi-tingginya, aku merasa tidak ammpu melewati itu semua, tetapi dengan tekad yang kuat aku kembali bersemangat. Aku akhirnya tetap berangkat, perlahan menembus air gelap yang memantulkan lampu kendaraan.

Bagi sebagian orang, banjir rob mungkin hanya dianggap masalah lingkungan yang mengganggu aktivitas. Namun bagiku, rob adalah pengingat bahwa tidak semua perjalanan pulang selalu mudah. Ada perjuangan yang harus dilalui, ada kesabaran yang harus dijaga.

Setiap kali aku sampai di Jepara, meski dengan pakaian basag dan motor kotor, rasanya semua lelah terbayar lunas begitu melihat senyuman orang tersayang dirumah.

Dari pengalaman ini, aku terus belajar tentang arti keteguhan dan tanggung jawab. Menembus banjir rob bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang mengajarkan makna pengorbanan dan cinta keluarga. Rob mungkin mengahalangi jalan, tetapi tidak mampu menghalangi niat dan kasih sayang untuk pulang. Bagi diriku, perjalana ini adalah simbol bahwa seberat apapun tantangan yang dihadapi, dengan tekad dan niat baik, kita bisa sampai ke tujuan.(*)

Oleh Amrina Rosyada