Pondok itu bernama Pondok Cisu yang sudah berdiri selama 20 tahun lamanya. Sekarang berada di bulan Maret 2025 bertepatan dengan dibukanya penerimaan peserta didik baru. Salah satu pendaftar baru itu adalah seorang anak yang dianggap bodoh dan ia selalu menolak untuk melaksanakan salat 5 waktu.
Ia bernama Srontol, berasal dari daerah Pangalusan. Ia dikenal sebagai seorang yang sangat hoki dalam berjudi, suka mabuk-mabukan, dan bahkan dianggap kafir di lingkungannya. Ketidakpercayaan terhadap dogma (dogma adalah pokok ajaran yang harus diterima sebagai kebenaran mutlak oleh suatu kelompok) membuat Ia jatuh terlalu dalam ke dunia pemabuk.
Tapi anehnya Ia tidak merasakan kesalahan apapun saat melakukannya. Bahkan, ia menikmatinya seperti sedang tenggelam dalam surga duniawi yang sangat indah dan menyenangkan. Di sisi lain, Srontol adalah orang yang sangat halus kepada orang tuanya. Dari cara bicaranya, nada yang digunakannya, pemilihan kata yang halus, dan juga caranya dalam menerima kemarahan orang tuanya karena kelakuannya yang sudah terkenal buruk dalam kalangan Masyarakat Pangalusan. Pada satu waktu Srontol merasakan kosong, yaitu sebuah rasa tidak ada arah, bingung, bosan, resah, yang dimana rasa itu membuat Srontol berpikir “untuk apa aku hidup?”. Di saat yang bersamaan Srotol juga didesak oleh orang tuanya untuk mendaftar ke Pondok Cisu. Karena ditanyakan berulang-ulang bahkan membuat Srontol muak, akhirnya Srontol mau untuk mendaftar ke pondok Cisu.
Pada hari pertamanya sekolah Srontol berkewajiban diberi materi tentang tata cara berwudhu dan melakukan salat. Guru yang memberinya materi itu bernama Ustad Dobleh Tapi ketika selesai pemaparan materi tersebut, Ia mulai gelisah. Ia mulai resah, bingung, dan bertanya-tanya. Karena belum terlalu paham makna dari kenapa dia harus berwudhu dan salat, Sontol mencoba untuk melakukannya dan mengikuti anjuran dari para guru. Srontol semakin resah, gelisah dan memilki banyak pertanyaan setelah melakukan keduanya. Lalu Ia tidak bisa menahannya lagi. Akhirnya Srontol mendatangi Ustad Dobleh dan mengeluarkan semua hal yang ia dia resahkan.
Sore hari di antara waktu salat ashar dan magrib, terlihat Srontol mencari Ustad Dobleh dengan raut wajah sangat serius dan pusing. Di jalan menuju Masjid Srontol melihat Ustad dengan wajah yang penuh rasa kepintaran dan kebenaran yang dipegangnya dan para para santri yang mengikutinya di belakangnya seperti induk bebek yang diikuti anak-anaknya. Srontol tanpa ragu menghampiri Ustad dengan perasaan yang penuh semangat penasaran.
“Assalamualaikum, Ustad. Saya masih bingung dengan yang ustad sampaikan tadi pagi. Apakah saya boleh bertanya beberapa, Ustad?”,
Ustad Dobleh menjawab salamnya. “Waalakumsalam nak, apa yang kau bingungkan? Bicaralah.”
Dobleh melanjutkan dengan pertanyaan yang meresahkannya. ”Setelah saya melaksanakan salat, saya bingung Ustad. Kenapa sebelum kita salat kita harus berwudhu dengan aturan yang sangat banyak?, sedangkan manusia adalah ladangnya Najis, apa itu berarti bahwa itu sebuah Kesia-siaan dalam beribadah?
Ustad Dobleh pun menjawab dengan penuh keyakinan. ”Ya, biar kita bersih dan suci. Biar kekotoran dunia kita luntur dan hilang. Ketika kita menghadap tuhan pun salat kita diterima, lalu bisa jadi tabungan ke akhirat. Memang kamu ga mau masuk surga?”
Srontol pun menjadi penasaran dan mengkritisi pertanyaan dari Ustad Dobleh. ”Apa benar itu ustad? Tapi kan manusia memiliki tai di perut mereka pribadi. Jika begitu, apa namanya itu bila bukan najis? Apakah itu berarti manusia tidak suci? Apakah itu juga berarti manusia itu najis? ”
Emosi Ustad Dobleh mulai mendidih, raut wajahnya berubah menjadi merah, nafasnya cepat dan tak beraturan, kata-katanya pun tak mempunyai arah yang jelas. ”Apa maksudmu dengan pertanyaan itu? Kau sudah tak percaya lagi kepada Tuhanmu? Kau tak takut dimasukkan ke dalam neraka jahanam yang sangat panas, dibakar dan diulangi tiap hari tanpa rasa ampun?”
Srontol pun mengkritisi lebih lanjut jawaban Ustad Dobleh yang membuatnya naik darah. ”Kenapa bisa seperti itu, Ustad? Bukannya Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Apalagi ketika kita sering menanyakan tentang-Nya, itu bukannya tanda bahwa kita peduli dan sayang kepada tuhan?
Emosi Ustad Dobleh pun tidak bisa dipendam, dan seketika menumpahkan makian yang tajam kepada Srontol. ”Dasar orang bodoh! Kafir!!! Memang anak muda sekarang bodoh-bodoh. Tidak tahu agama, membangkang ajaran tuhan, meragukan perintah-perintahnya.”
Srontol menjawab dengan nada yang tenang dan masih mengkritisi pernyataan dari Ustad Dobleh. ”Itu artinya apakah Ustad mengakui bahwa Ustad itu bodoh? Dengan tidak memikirkan makna dari perintah-perintah-Nya?”
Ustad pun pergi meninggalkan Srontol dengan wajah marah. Dengan keadaan bingung, Srontol pun kembali merenung di pojokan belakang masjid dengan monolog-monolog yang terjadi dalam pikirannya.
“Siapakah kau sebenarnya, Tuhan? Ketika aku melakukan salat kenapa aku merasa tidak dekat dengan-Nya. Malah ketika aku bermabuk-mabukan aku merasa ada kehadiran-Nya di dekatku. Apakah ada yang salah dengan caraku salat? Apakah aku terlalu jauh darimu tuhan hingga kau membenciku? Lalu kau menjauhiku atas semua perbuatan yang telah aku lakukan? Sudahkah kau muak denganku tuhan? Sudahkah kau tak mau menemuiku lagi lewat tata cara yang telah kau tuliskan kepada hamba-hambamu? Ataukah kau begitu dekat kepadaku tapi aku tidak menyadarinya? Berikan aku petunjuk tuhan! Aku sudah tak tahu harus ke mana lagi dengan kegelisahan dan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan ini. Apakah aku perlu menghafal semua kitab-kitabmu agar aku merasa paling tahu dan paling benar? Apakah aku harus seperti Ustad Dobleh yang tidak mempertanyakan setiap hal tentang Kau dan hanya mengikuti apa yang diajari oleh kiai atau ustad?
Setelah beberapa waktu Srontol bergulat dengan pikirannya sendiri. Suara Azan magrib dari masjid terdengar sangat jelas dari belakannya. Pada waktu itu, Srontol adalah orang yang sangat tidak peduli dengan aturan dan hukuman yang berlaku di pesantren. Karena merasa belum menemukan sebuah petunjuk, akhir nya Srontol pun beranjak untuk melakukan salat yang kedua kalinya. Srontol berwudhu dengan sangat serius dan mengikuti semua petunjuk yang telah diajarkan guru dobleh. Lalu Srontol melanjutkan dengan salat yang sama persis telah diajarkan kepada Srontol waktu pertama kali masuk ke pesantren.
Setelah melakukan salat, perasaan Srontol masih sama. Ia masih belum menemukan petunjuk, ia masih kebingungan dengan pertanyaan-pertanyaan abstrak yang menimpa dirinya. Ketika ia mau beranjak dari tempat salat, ia mendengar santri yang di sebelahnya mencoba menghentikannya untuk singgah sejenak untuk mendengarkan ceramah dari kiai yang memimpin salat tersebut. Hati Srontol tergerak lalu Srontol mengundurkan niatnya untuk pergi dari tempat salat. Tak lama setelah lima belas menit menunggu, tepat setelah kiai tersebut melakukan doa. Kiai pun duduk di kursi yang telah disiapkan di depan para santri dan ustad yang sebelumnya telah selesai melakukan salat. Ketika pemaparan ceramahnya mendekati waktu akhir selesai, Srontol sangat berusaha mengingat-ingat bahkan mencatat satu paragraf penutup yang membuatnya berpikir bahkan sampai menyentuh hati dan rasa ingin tahu Srontol. Paragraf tersebut berbunyi demikian:
“Ya Tuhan, kalau aku menyembah engkau hanya karena takut neraka-Mu. Masukkanlah saja aku ke neraka. Kalau aku menyembah Engkau karena ingin surga-Mu. Bakar saja surga itu untukku. Tapi kalau aku menyembah karena Ridha-Mu, maka terimalah aku”
Selesai ceramah disusul dengan Salat Isya. Karena sudah terlanjur di masjid dengan membawa rasa penasaran akan paragraf penutup yang diucapkan kiai tersebut. Ketika melaksanakan salat isya, Srontol masih berusaha memahami apa yang dikemukakan kiai pemimpin salat itu. Sampai-sampai salatnya menjadi tidak khusyuk karena banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang ingin dia lontarkan ke pak kiai. Ibadah salat, wirid, dan doa sudah selesai juga. Dengan menggebu-gebu Srontol menunggu pak kiai beranjak untuk menanyakan ketersediaan beliau menjelaskan maksud dari paragraf akhir yang menjadi sebab dari keingintahuannya yang dalam, ketika pak kiai mulai beranjak dari tempat salat dan meninggalkan tempat ibadah. Srontol pun mengejar dan menghentikan langkah pak kiai dan mengutarakan maksudnya.
“Pak Kiai apa saya boleh tahu maksud paragraf yang sudah Pak Kiai jabarkan di penutup ceramah”
Pak Kiai menjawab dengan jawaban yang singkat.
“Nanti jam sembilan malam langsung ke rumah saya saja.”
Lalu Pak Kiai melanjutkan jalannya keluar dari tempat ibadah. Disusul Srontol kembali ke kamar tempat dia tidur di pesantren.
Dengan pikiran yang sangat penuh dengan rasa penasaran, Srontol pun akhirnya menjadi tidak sabar untuk mendengar penjabaran pak kiai. Dia menunggu selama sekitar satu jam dengan perasaan gelisahnya. Lalu tepat lima belas menit sebelum pukul sembilan malam, Srontol pun bergegas berangkat menuju tempat kediaman pak kiai.
Saat mengetuk rumah pak kiai, putrinya yang cantik rupawan membukakan pintu. Lalu Srontol diperkenankan masuk dan duduk oleh putrinya itu. Selagi putri kiai memanggil kiai, Srontol memperhatikan seluruh ruangan dengan perasaan kagum, hanya terdapat kesederhanaan di rumah itu. Foto keluarga, jam dinding, selainnya diisi dengan tembok berwarna hijau yang sangat terawat. Aku terkagum oleh kesederhanaan pak kiai saat itu. Tak lama pak kiai datang.
“Assalamualaikum, sudah lama menunggu, Nak?”
Srontol menjawab, ”Waalaikumsalam Pak Kiai, kebetulan saya baru sampai. Saya Srontol, Kiai, saya masih penasaran dengan arti sebenarnya dari paragraf yang telah Pak Kiai jabarkan tadi sore”
Pak Kiai pun bertanya, “Ada pertanyaan seperti apa yang membuat Nak Srontol sangat penasaran?”
Srontol menjawab, ”Ya Tuhan, Jika menyembah engkau hanya karena takut neraka-Mu, Masukkanlah saja aku ke neraka. Kalau aku menyembah Engkau karena ingin surga-Mu, Bakar saja surga itu untukku. Tapi kalau aku menyembah karena Ridha-Mu, maka terimalah aku. Saya bingung. Mengapa dia malah menolak surga dan tidak takut neraka? Bukankah itu tujuan kita beribadah di dunia ini?
Pak kiai merespons, ”Pertanyaanmu sangat bagus, Nak. Paragraf ini sering dikaitkan dengan Rabi’ah al-Adawiyah yang mengajarkan kita tingkatan tertinggi dalam beribadah. Ia memurnikan niat asli kita beribadah.”
Srontol menjawab dengan penasaran. ”Yang dimaksud ‘tingkatan’ dalam hal itu apa, Guru?”
Pak Kiai menjelaskan bait kedua. ”Coba Nak lihat dua bait pertama. ‘Menyembah karena takut neraka’ itu ibarat ibadahnya seorang budak. Ia patuh pada tuannya hanya karena takut pada cambuk atau hukuman.”
Srontol menjawab, ”Oh iya, Pak Kiai, berarti ibadah orang itu karena terpaksa, bukan tulus.”
Pak Kiai menjelaskan bait pertama. ”Tepat. Lalu lihat bait keduanya. ‘Menyembah karena ingin surga,. Ini ibarat ibadahnya seorang pedagang. Dia memberi sesuatu (ibadah) agar mendapat keuntungan (surga).”
Srontol menjawab, ”Berarti ibadah orang itu bersifat transaksional, ada pamrih.”
Pak Kiai memaparkan dua bait terakhir. “Kamu cepat mengerti. Kedua tingkatan itu tidak salah, tapi ini belum murni. Paragraf ini ingin menunjukkan ada yang lebih tinggi. Lihatlah bagian terakhir.”
Srontol memaparkan bagian terakhirnya. “Tapi kalau aku menyembah karena Ridha-Mu, maka terimalah aku’. Jadi, apa itu Ridha? Apa bedanya dengan surga?”
Pak Kiai menjawab, “Surga dan neraka adalah ciptaan. Ridha adalah kerelaan, penerimaan, atau restu dari Sang Pencipta. Ini adalah ibadahnya seorang pecinta.”
Srontol bertanya lagi, “Seorang pecinta?”
Pak Kiai menjawab, ”Bayangkan nak Srontol sangat menyayangi ibu. Kamu membantunya di rumah. Apa anak Srontol membantu ibu murni supaya dapat uang jajan?”
Srontol mulai memahaminya dan merespons. ”Tidak, Guru.”
Pak Kiai bertanya lagi, ”Apakah Nak Srontol membantu hanya karena takut dimarahi atau dihukum?”
Srontol menjawab, “Tidak, Pak Kiai. Saya membantu karena saya sayang Ibu.”
Pak kiai bertanya lagi. “Apa yang anak Srontol cari saat membantu ibumu?”
Srontol menjawab, “Saya hanya ingin ibu saya senang dan bangga. Saya bahagia kalau melihat Ibu tersenyum dan menerima bantuan saya.”
Pak Kiai memaparkan artinya. ”Nah, perasaan ‘ibu senang dan menerima’ itulah yang kita sebut ‘Ridha’. Maksud dari paragraf ini adalah beribadah bukan karena ingin hadiah atau takut hukuman. Seseorang beribadah murni karena cinta. Satu-satunya tujuannya adalah agar Tuhannya ‘senang’ dan menerima cintanya.”
Srontol menjawab, “Jadi, ini tentang cinta yang murni kepada Tuhan, melampaui urusan imbalan dan hukuman.”
Pak Kiai menjawab dengan semringah karena Srontol paham. ”Tepat sekali. Doa itu adalah deklarasi cinta yang paling murni.”(*)
Oleh Muhammad Fauzi