Matahari Jakarta siang itu terasa seperti menempel di kulit. Langit biru pucat menggantung di atas kepala sementara aspal di bawah kaki seolah memantulkan panas dua kali lipat. Di antara keramaian kota, aku ditemani oleh teman-teman SMP-ku melangkah, membawa rasa gugup dan semangat yang campur aduk. Ya, saat itu aku sedang mencari lokasi ujian SNBT-ku di Universitas Indonesia, kampus impian banyak orang.
Perjalanan itu awalnya hanya ingin sesederhana survei lokasi sebelum hari ujian agar tidak tersesat. Akan tetapi, ternyata takdir berubah menjadi perjalanan panjang penuh cerita. Kami sempat salah tujuan. Bukan ke UI Salemba, melainkan ke kampus utama di Depok. Sambil menertawakan kebingungan kami sendiri, akhirnya kami memutar arah kembali ke Jakarta Pusat.
Turun di Stasiun Cikini, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Jalanan sempit, rumah-rumah padat, dan suara kendaraan bercampur jadi satu dalam hiruk pikuk khas Jakarta. Napas mulai terasa berat, langkah terasa lambat, tapi semangatku untuk menemukan lokasi ujian tetap membara. Yah, walaupun ada rasa kasihan dengan teman- temanku, sih.
“Duh, masih jauh lagi apa? Capekkk.” keluh salah seorang temanku sambil mengeluh akan panasnya Jakarta hari itu, tetapi tetap membuatnya ikut menemani.
Setelah perjalanan yang terasa tak berujung, akhirnya lokasi UI-Kampus Salemba muncul di depan mata. Rasa lega bercampur bangga sebab semua lelah seolah terbayar dengan pemandangan itu. Aku dan salah satu temanku, Yuli, masuk ke dalam kampus tersebut sampai benar-benar mengetahui di gedung mana aku akan melaksanakan SNBT sementara teman-teman lainnya menyeberang melalui jembatan penyeberangan orang (JPO) menuju salah satu resto terdekat. Meskipun hanya survei, momen itu terasa seperti simbol perjuangan bagiku (jalan jauh, panas, dan salah arah) karena pada awalnya aku hendak berangkat bersama ayah. Sebelumnya beliau sudah janji untuk menemaniku survei, tetapi waktunya selalu tidak pas karena beliau harus bekerja. Selain itu, ayah sudah lumayan sering izin tidak masuk karena sakit, mungkin karena faktor usia beliau
juga. Maka dari itu, atasan tempat ayah bekerja tidak memperkenankan ayah untuk izin lagi. Aku sempat kecewa, merasa bahwa ayah itu bisanya hanya omong saja. Seiring dekatnya hari pelaksanaan SNBT, aku berusaha untuk menekan egoku sampai akhirnya di sanalah aku, bersama teman-teman yang menjadi pengganti ayah untuk menemaniku.
Setelah selesai menyusuri kampus tersebut, aku dan Yuli menyusul teman-teman lainnya ke resto yang berada di seberang kampus. Di sana kami makan dan beristirahat sebelum melanjutkan tujuan sebenarnya, yakni ke Blok M. Setelah sampai, kami memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk bersenang-senang hingga matahari ditelan bumi. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk pulang.
Beberapa minggu kemudian setelah SNBT dilaksanakan, tiba saatnya pengumuman SNBT dan jalannya tidak menuju kampus impianku itu. Justru berbelok ke Semarang, ke Universitas Negeri Semarang (UNNES). Yah, meskipun sama-sama beralmamater kuning, sih.
“Nggak apa-apa, mungkin emang gini jalannya. Pasti ada hal menakjubkan yang menunggu di sana,” batinku berusaha mengafirmasi diri dengan kata-kata positif.
Kini, aku menjalani hari-hari sebagai mahasiswa UNNES dengan rasa syukur. Setiap kali teringat perjalanan panasnya Jakarta kala itu, aku hanya tersenyum kecil. Perjalanan itu tetap berarti bagiku. Bukan karena tujuannya tercapai, tapi karena dari sanalah semangatku ditempa. Ketika aku mulai hidup mengekos sendirian, aku becermin. Berusaha untuk tetap tersenyum dan legawa, “Yang penting, aku tetap melangkah.” Begitulah hidup, tak selalu sampai di tempat yang dulu diimpikan, tetapi pasti membawa kita pada versi terbaik untuk diri sendiri.
Nama : Rahmani Luthfiana Bije NIM : 2502020104
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Rombel: R3 (Jumat, pukul 13.00)