Kisah Tragedi di Monumen Pancasila Sakti

Oleh Zahwa Dzikraeny Al Ghifari

Siapa yang tidak tahu peristiwa tentang G30S/PKI? Gerakan 30 September adalah gerakan yang melancarkan upaya kudeta pada malam 1 Oktober 1965. Gerakan itu terdiri dari pejabat tinggi Partai Komunis Indonesia dan simpatisannya dari kalangan militer. Pada dini hari 1 Oktober 1965, mereka membunuh enam jenderal TNI Angkatan Darat dalam upaya kudeta yang gagal. 

Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur, didirikan untuk mengenang tragedi penculikan dan pembunuhan tujuh Pahlawan Revolusi dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI). Tempat ini menjadi saksi bisu pengkhianatan PKI, perjuangan mempertahankan ideologi Pancasila, serta lokasi ditemukannya jenazah para perwira tinggi TNI-AD.

Saat saya masih menduduki sekolah dasar, Monumen Pancasila Sakti di setiap hari Minggu pagi selalu ramai dengan warga sekitar yang datang ke Monumen Pancasila Sakti untuk sekadar sarapan pagi, jalan pagi, hingga olahraga bersama di parkiran luas Monumen Pancasila Sakti. Karena setiap minggu pagi di Monumen Pancasila selalu dibuka untuk sekadar olahraga pagi sembari melihat-lihat ke dalam museum.

Dahulu, saya dan teman-teman saya setiap minggu pagi juga selalu datang ke Monumen Pancasila Sakti untuk olahraga dan jajan makanan yang tersedia di sana. Untuk masuk ke Monumen Pancasila Sakti dikenakan biaya. Dahulu saya masuk ke dalam Monumen Pancasila Sakti melalui pintu kecil di sebelah dan hanya membayar Rp1.000,00 per orang, tetapi jika masuk melalui gerbang utama dikenakan Rp2.000,00 per orang. 

Harga tersebut belum termasuk kendaraan yang dibawa. Motor dan mobil memiliki harga yang berbeda. Saya dan teman-teman saya saat masih sekolah dasar tidak pernah absen setiap minggu untuk pergi ke Monumen Pancasila Sakti. Akan tetapi, saya dan teman-teman saya tidak hanya sekadar olahraga, main, dan jajan-jajan saja, tetapi juga masuk ke dalam gedung-gedung satu per satu untuk mengetahui sejarahnya.

Untuk masuk ke dalam gedung dan melihat sumur maut tersebut, harus membayar lagi Rp2.000 per orang di gerbang dalam. Di dalam Monumen Pancasila Sakti terdapat 2 gedung utama, yaitu Gedung Museum Pengkhianatan PKI (diresmikan 1 Oktober 1992) dan Gedung Paseban. Selain itu, kompleks ini memiliki beberapa bangunan/area bersejarah, seperti Sumur Tua, Rumah Penyiksaan, Pos Komando, dan Rumah Relik.

Gedung Museum Pengkhianatan PKI merupakan museum yang dibangun untuk mengenang kejadian pemberontakan G30S/PKI yang menampilkan diorama yang menceritakan peristiwa G30S/PKI. Selain itu, ada beberapa koleksi barang yang ditampilkan seperti pakaian yang digunakan oleh Jenderal Ahmad Yani, mobil dinas Jenderal Ahmad Yani, dan mobil yang digunakan untuk menculik D.I. Pandjaitan. 

Diorama ini berkisah tentang hal yang terjadi pada 4 November 1945 di tiga daerah. Tiga daerah yang dimaksud adalah Tegal, Brebes, dan Pekalongan. Setelah teks proklamasi diikrarkan oleh Soekarno-Hatta, anggota kelompok komunis mulai bergabung ke dalam organisasi masyarakat; salah satu contohnya adalah masuk ke dalam Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan Angkatan Muda Republik Indonesia.

Pada 8 Oktober 1945, organisasi AMRI mulai melakukan serangan dengan cara membantai para pejabat pemerintahan. Serangan lainnya yang dilakukan AMRI yaitu serangan ke kantor-kantor kabupaten dan markas TKR Tegal pada 4 November 1945. Namun, hasilnya gagal karena anggota komunis tersebut membuat organisasi Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah dengan tujuan merebut kekuasaan di wilayah Tegal, Brebes dan Pekalongan. 

Gedung Paseban ini juga berisi sejarah pemberontakan-pemberontakan PKI untuk menggantikan Pancasila dengan komunis. Sejarah tersebut terekam hingga pemberontakan G30S/PKI. Di pintu masuk, terdapat beberapa koleksi foto pemberontakan PKI, Pengangkatan Jenazah 7 Pahlawan Revolusi, dan beberapa diorama yang menceritakan tentang pemberontakan PKI di berbagai daerah di Indonesia.

Sumur Tua ini adalah sumur yang ditemukan 7 jenazah Pahlawan Revolusi, yaitu: Ahmad Yani, R. Suprapto, M.T. Haryono, Siswondo Parman, DI Panjaitan, Sutoyo Siswomiharjo, Pierre Tendean. Sedangkan jenazah Katamso Darmakusumo dan Sugiono Mangunwiyoto ditemukan di Desa Kentungan, Yogyakarta. Selain itu, gugur pula Karel Sasuit Tubun dan Ade Irma Suryani Nasution, putri dari Jenderal TNI A.H. Nasution.

Rumah Penyiksaan adalah tempat para Pahlawan Revolusi disiksa, di mana Mayor Jenderal TNI Siswondo Parman dipaksa untuk menandatangani surat pernyataan untuk mengakui bahwa mereka adalah dewan jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno pada Hari Angkatan Bersenjata. Mereka disiksa sebelum akhirnya dibunuh. Di tempat ini ditampilkan diorama penyiksaan terhadap 4 perwira angkatan darat yang masih hidup.

Rumah ini adalah milik seorang penduduk RW 02 Lubang Buaya bernama Haji Sueb. Tempat ini dipakai oleh pimpinan G30S/PKI, yaitu Letnan Kolonel Untung, dalam rangka perencanaan penculikan terhadap 7 Pahlawan Revolusi. Di dalam pos komando ini masih ada barang-barang asli yang menjadi saksi bisu pemberontakan PKI seperti 3 buah petromaks, mesin jahit, dan lemari kaca. 

Ruang Relik merupakan tempat dipamerkannya barang-barang, terutama pakaian yang mereka kenakan ketika mereka diculik, disiksa, sampai akhirnya dibunuh, dengan hasil visum dari dokter. Selain itu terdapat pula aqualung, sebuah alat bantu pernapasan yang digunakan untuk mengangkat jenazah 7 Pahlawan Revolusi dari dalam sumur tua.

Hal tersebut merupakan gedung-gedung dan tempat bersejarah yang ada di dalam Monumen Pancasila Sakti yang sudah pernah saya dan teman-teman saya kunjungi beberapa kali untuk mengetahui sejarah G30S/PKI lebih dalam. Setelah mengunjungi gedung-gedung tersebut, kami jajan lagi untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing.(*)