Besito dan SMK Raden Umar Said Kudus

Oleh Aditia Nugraha

Sejak kecil, aku sangat menyukai dunia seni visual dan perfilman. Aku terbiasa menggambar karakter kartun maupun film, bahkan menciptakan karakter imajinasiku sendiri. Bakat ini terus aku latih selama bertahun-tahun. Bagiku, SMK Raden Umar Said Kudus adalah tempat yang tepat untuk menyalurkan bakat dan ekspresiku dengan bebas, tanpa harus terjebak pada hal-hal yang tidak aku sukai.

Sekolah ini terletak di Kecamatan Besito, Kudus, dan dikenal sebagai tempat berkembangnya para calon kreator industri visual. Namun, berdasarkan informasi yang aku dapat sekitar tahun 2020, biaya pendidikan di sana cukup tinggi. Saat itu, aku hanya bisa mengagumi dari jauh, merasa bahwa aku tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk belajar di tempat tersebut.

Hingga pada suatu hari di tahun 2020, orang tuaku menawarkan agar aku melanjutkan pendidikan di sana. Aku terkejut sekaligus ragu, terutama soal biaya. Namun, mereka meyakinkanku bahwa mereka mampu mendukungku. Selain biaya, aku juga harus melewati berbagai seleksi seperti tes menggambar, tes tertulis, dan wawancara. Aku pun berlatih dengan sungguh-sungguh selama berbulan-bulan.

Setelah melalui semua proses, aku menunggu hasilnya dengan penuh harap. Suatu pagi pukul 3, aku membuka situs pengumuman dan melihat bahwa aku dinyatakan diterima. Perasaan bahagia dan bangga tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Namun, aku tetap harus menyelesaikan SMP terlebih dahulu sebelum benar-benar masuk ke sekolah tersebut.

Memasuki tahun 2021, pandemi Covid-19 masih berlangsung. Aku sempat khawatir tidak bisa merasakan pengalaman sekolah secara langsung. Benar saja, awal pembelajaran dilakukan secara daring. Meski begitu, aku tetap bersyukur dan mulai mengenal teman-teman baru. Berbeda dengan pengalaman SMP, aku merasa lebih diterima dan nyaman.

Sebelum pembelajaran tatap muka dimulai, aku sempat berkeliling di sekitar Besito. Meski bukan kota besar, tempat ini terasa damai bagiku—dengan udara segar, pemandangan hijau, dan suasana yang menenangkan. Aku mulai membayangkan kehidupan baruku di sana.

Pada September 2021, akhirnya pembelajaran tatap muka dimulai meski masih terbatas. Aku sangat kagum dengan fasilitas sekolah yang lengkap, mulai dari komputer hingga peralatan khusus untuk produksi karya. Semua terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

Namun, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Aku mengalami depresi yang berdampak besar pada semangat belajar dan kemampuanku berkarya. Aku kesulitan menemukan ide, tidak maksimal dalam menjalani program kerja lapangan, bahkan tugas akhirku pun tidak terselesaikan dengan baik. Masalah keluarga yang muncul di saat bersamaan membuat kondisiku semakin berat.

Di masa itu, aku berusaha bertahan. Aku bercerita kepada sahabat terdekatku agar tidak merasa sendirian. Meski sering gagal bangkit sepenuhnya, aku tetap mencoba menyelesaikan tanggung jawabku.

Anehnya, di tengah semua itu, sekolah justru menjadi tempat pelarianku. Aku sering menghabiskan waktu di laboratorium animasi atau perpustakaan lantai atas untuk menenangkan diri. Aku juga sering berkeliling Besito dengan motor hanya untuk mencari ketenangan. Tempat itu menjadi ruang aman bagiku, jauh dari tekanan yang aku rasakan di rumah.

Saat kelulusan tiba, aku merasa sangat berat meninggalkan sekolah ini. Tempat yang dulu aku perjuangkan justru harus aku tinggalkan dengan hasil yang kurang memuaskan. Hingga sekarang, aku masih sering melewati atau mengunjungi sekolah itu, seolah belum siap untuk benar-benar melepaskannya.

Aku sering membayangkan, jika aku tidak mengalami depresi dan masalah keluarga, mungkin hasilku akan jauh lebih baik. Kini aku melanjutkan studi di Universitas Negeri Semarang, meski bukan di bidang yang benar-benar aku inginkan karena keterbatasan biaya.

Menulis cerita ini bukan hal yang mudah. Kenangan di SMK dan Besito masih sangat melekat, bahkan rasa itu masih terasa hingga sekarang. Aku sampai merasa tidak sanggup untuk menulisnya dan harus terlambat dalam mengumpulkan cerita ini, karena aku memikirkan rasa sakit depresi yang menimpaku waktu itu, dan masih menimpaku hingga sekarang. Namun, aku tetap berusaha bangkit dan berharap suatu hari nanti aku bisa kembali, entah sebagai kreator, bagian dari studio, atau bahkan sebagai pengajar. Aku ingin membuktikan bahwa aku mampu menghasilkan karya yang bisa dikenal banyak orang.(*)