Oleh Adinda Putri Ridar
Aku mencoba menerka apa yang tersisa di kepalaku setiap kali mendengar nama Stasiun Bekasi. Tempat yang berjarak sekitar dua puluh menit dari rumahku itu selalu dipenuhi riuh. Suara langkah kaki yang tergesa, papan pengumuman menyilaukan mata, sampai suara pemberitahuan yang bersahutan dan cerita yang tidak pernah berniat untuk selesai.
Yang kuingat, tempat ini merupakan pusat tentang masalah datang dan pergi. Seperti, para Kakak yang sudah berani merantau jauh, Ibu dan Ayah yang pergi karena memiliki pekerjaan baru, Kakek dan Nenek yang datang untuk berkunjung melihat abu kelabu kota Bekasi, atau seekor Kucing yang baru saja tiba di kereta terakhir karena penasaran dengan rasa ikan tongkol di pasar Bekasi
Dari kacamata sederhana milikku, akan kuceritakan bagaimana Stasiun Bekasi menjadi tempat yang selalu kupijak—untuk datang dan, pada akhirnya, pergi.
***
Setiap hari, Stasiun Bekasi dipenuhi beragam rupa manusia yang selalu datang dan pergi dengan tujuan masing-masing. Tidak ada yang benar-benar menetap; kereta terus bergantian meninggalkan, mengantar, menjemput, dan memberi pengalaman.
Di antara semua itu, ada hal yang menyenangkan yang bisa kulakukan dari Stasiun Bekasi. Hal yang paling kusuka adalah pergi menghabiskan waktu bersama dengan sahabat terbaikku. Pada hari-hari sebelumnya, kita sudah sibuk mempersiapkan rencana luar biasa untuk menyambut libur semester selama dua bulan penuh. “Nanti kita pergi naik kereta ya”, “Berkumpul di Stasiun Bekasi, jangan lupa!”, “Nanti kita turun di Stasiun Gondangdia.”, “Dan makan soto mi Bogor bersama!”. Aku menyambutnya dengan senyum rekahku. Siap menginjakkan kaki kembali ke tempat itu lagi.
Pagi hari sebelum jalan Sultan Agung dipenuhi sesak oleh pengguna kendaraan, kami bertiga sudah mempersiapkan diri untuk merebut tempat duduk di dalam Stasiun Bekasi. Seperti biasa, tempat ini dipenuhi sesak oleh makhluk bernama manusia.
Sambil menunggu sahabatku membeli roti bulat yang harum tiada tara, aku sibuk menyaksikan potongan-potongan kecil dari kehidupan seseorang yang kulihat di sana. Para pekerja yang sudah siap berperang dengan desakan di dalam kereta, bahkan laki-laki pendiam yang sedang memandangi rel kereta—apakah ia sedang mengantuk? Atau sedang berpikir tentang sesuatu yang lebih berarti daripada perjalanan di hari itu? Aku mengangguk diam-diam, mendoakan agar para insan ini diberi keselamatan.
Roti bulat harum itu sudah dimakan habis oleh sahabatku. Kemudian, kita berjalan lebih dalam lagi di Stasiun Bekasi. Ramai sekali yang ingin menaiki kereta jarak jauh, koper-koper mereka seret, tiket mereka pegang kuat-kuat, kemudian para orang tua sibuk menangis haru dan memeluk anaknya dengan pilu. Aku mendesis sedikit melihat pemandangan itu. Aku pernah melihat adegan itu sebelumnya—adegan diriku sendiri di masa awal ku merantau jauh untuk berkuliah di Semarang. Aku sudah melewati fase “perpisahan” itu. Namun, kali ini aku pulang ke rumah lagi dengan banyak penawar hati yang kembali, dan sekarang diriku hanya akan fokus untuk bersenang-senang dengan para sahabatku yang baik hati.
Tetapi aku paham. Aku tidak bisa hanya berfokus pada diriku yang sedang diselimuti kebahagiaan. Perpisahan itu kembali lagi. Setelah melewati dua bulan berkelana sana-sini di Stasiun Bekasi, sebentar lagi aku akan kembali pergi.
***
Aku melihat kedua sahabatku ditelan kerumunan manusia yang memiliki tujuan yang sama dengan mereka. Aku melambaikan tangan sambil berteriak “Nanti kita ketemu lagi ya!” Kalimat yang kukeluarkan hanya berembus bersamaan dengan udara. Kereta sudah melaju kencang bak sinar mentari. Entah kapan kita akan bertemu lagi. Itu masih menjadi misteri. Yang terpenting, kabari diriku dan telepon aku pada malam hari, ya?
Kemudian aku mendecak tidak suka. Aku benci perpisahan. Aku tidak menyukai perasaan hampa setelah ditinggalkan. Hari ini, sahabatku sudah lebih dulu meninggalkan Bekasi. Menjemput segala rupa mimpinya untuk kuliah di tempat nan jauh di sana. Dan besok adalah jadwalku pula melambaikan tangan kepada orang tua dan sanak saudara.
Benar saja. Koper sudah ku seret, tiket sudah kupegang, dan bantal kecil sudah kupeluk erat-erat. Aku kembali merasakan adegan perpisahan ini lagi. Dua bulan penuh aku disuapi ibu masakannya, dua bulan penuh aku berguling bebas di kasur kesayanganku, dua bulan penuh aku sibuk berbagi cerita tentang apa yang ku di perantauan sana, dan dua bulan penuh pula aku merasa kehangatan rumah yang sebenarnya.
Aku menyadari bahwa sebuah perjalanan, seberapa pun singkatnya, tetap memiliki arti. Mereka tetap hidup; mereka terus bergerak, menyusun banyaknya narasi tentang mimpi-mimpi di tiap garis interaksi.
Yah, lagipula ini kehidupan. Semuanya bisa datang dan pergi. Yang datang bisa disambut dengan meriah sekali; yang pergi bisa ditangisi kembali. Namun, janji tetaplah janji,
“Nanti kita ketemu lagi” di Stasiun Bekasi. (*)