Oleh Aisyah Lailatusyfa Azzahra
Di tengah kesibukan dan aktivitas yang tiada hentinya, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu bagi seluruh pelajar tiba: liburan kuliah. Liburan kuliah mempertemukanku lagi dengan teman lamaku. Teman satu perjuangan saat masih berseragam putih abu-abu. Rasanya seperti kembali membuka lembaran lama yang sempat tertutup oleh kesibukan masing-masing.
Kami berencana untuk pergi ke Grand Galaxy Park. Entah untuk sekadar makan sushi di food court atau berjalan santai di sepanjang Jalan Galaxy sembari membeli jajanan kaki lima di tengah hiruk-pikuk kota. Apa pun yang akan kami lakukan di sana, intinya harus pergi dulu. Rindu. Rasanya sedikit asing terbayang pertemuan dulu yang terasa biasa saja dan tidak ada yang spesial. Ternyata kini menjadi sesuatu yang diangan-angankan selalu.
Pikirku, teman-temanku pasti sama-sama menanti momen ini, momen sederhana yang dirasa cukup untuk menghidupkan kembali serpihan suasana lama yang sempat tercerai oleh kesibukan. Apa pun yang akan aku lakukan, di mana pun persinggahan, bahkan sesederhana duduk dan saling bertukar cerita saja, rasanya sudah cukup. Kalau kata orang-orang, sekadar life update saja sudah bisa membuat semuanya tampak seperti dulu lagi.
Suatu rumah yang dulu menjadi tempat kita mampir sepulang sekolah akhirnya kukunjungi lagi. Aku menuju rumah temanku yang bernama Safi, yang ternyata juga sudah ditunggu oleh Vania dan Kira di sana. Begitu pintu dibuka, aku merasakan tidak sedikit pun sekat waktu menghalangi betapa bahagianya kami bertemu lagi setelah sekian lama. Sembari menunggu Safi bersiap, kami berbincang dan bernostalgia, mengingat segala kenangan pahit dan manis saat berada di bangku sekolah dulu.
Mengingat bagaimana Safi dan Vania tak pernah absen membeli es krim kesukaan mereka yang ujungnya membuat gigi mereka jadi hitam, teringat pula Kira yang selalu tidur di lantai beralaskan jaket andalannya. Anehnya, hal-hal kecil itu sekarang terasa lebih membekas, seperti serpihan memori yang dulu bukan apa-apa, namun kini menyisakan sesuatu yang berbentuk rindu.
Kami tersentak dan menjeda nostalgia tersebut, lalu menyadari bahwa hari sudah mulai sore, yang artinya kami harus bergegas pergi ke tempat yang ingin kami tuju. Kami memesan taksi online untuk perjalanan ke sana. Sesampainya di sana, suasana Grand Galaxy Park sudah cukup ramai. Kami mengelilingi mal tersebut dan langsung makan sushi karena suara lapar dari perut yang sudah memberontak.
Sore hari adalah waktu yang tepat untuk orang-orang yang ingin bersantai di mal. Suasana Grand Galaxy Park saat itu cukup ramai. Suara pengunjung bercampur dengan musik dari tenant dan langkah orang ramai terdengar bersahutan. Kami berbincang sembari makan, sambil life update mengenai teman-teman yang tidak disangka sudah berbeda jalan hidupnya.
Selepas itu, kami mampir ke kedai kopi yang lokasinya ada di dekat-dekat situ. Dahulu, kira-kira seminggu sekali kami pasti menyempatkan diri untuk mampir ke kedai kopi ini. Kadang seluruhnya berkumpul, kadang hanya berdua atau bertiga saja. Setidaknya, kupastikan setiap sudut kedai kopi ini menyimpan kenangan kami. Aroma kopi tercium begitu kami masuk, berpadu dengan suara mesin kopi dan percakapan pengunjung lain yang samar. Kami duduk di tempat kesukaan kami, di pojok depan di samping tanaman. Ajaibnya, setiap kami ke sini, meja itu hampir selalu kosong. Bak menyisakan ruang khusus untuk kami.
Tidak ada yang berubah. Suasana kedai kopi ini rasanya tidak banyak berubah sejak terakhir kali kami datang saat masih sekolah. Tata letaknya tetap sama, posisi kasir tetap di sisi depan, rak gelas tersusun rapi di belakang bar, dan deretan kursi masih berjajar persis seperti di ingatanku. Tanaman di samping meja pojok kami pun tidak tampak berpindah. Seolah waktu berlalu begitu saja, tanpa sempat mengubah apa pun di tempat ini.
Sembari meminum es kopi, kami mulai mengingat bagaimana awalnya sampai bisa tahu kedai ini, apa saja yang terjadi pada saat-saat itu, dan bagaimana dulu kami bisa duduk berjam-jam tanpa merasa waktu berjalan. Kedai kopi kesukaanku ini menjadi salah satu dari sekian banyak kedai kopi yang aku jelajahi di Bekasi. Tiap sudutnya membekas dan racikan kopinya selalu berjodoh di lidahku. Mungkin karena aku dan teman-teman acap kali ke sini, tempat ini terasa begitu familiar, seperti tidak pernah benar-benar kutinggalkan.
Oh ya, di kedai kopi ini juga ada stand photobooth. Kami jarang berfoto di sini karena pada saat itu sekolah masih memberi uang saku harian. Membeli kopi dan patungan untuk photobooth terasa cukup memberatkan. Biasanya kami hanya melirik dari kejauhan atau sekadar bercanda “nanti deh, saat ke sini sekali lagi”. Tapi saat itu, tanpa banyak pertimbangan, kami langsung tergerak untuk masuk ke photobooth. Rasanya seperti membayar janji kecil dulu yang hanya terwacana.
Setelah kami berfoto, kami memutuskan untuk jalan sore sebentar. Udara di luar lebih sejuk. Rasanya menyenangkan bisa menikmati sore tanpa memikirkan sesuatu yang mengganjal. Kami duduk di bangku sekitar jalan. Obrolan kami tidak seheboh sebelumnya. Ada jeda-jeda kecil yang tidak canggung, hanya diisi dengan menikmati suasana.
Walau pertemuan itu terbilang singkat, nyatanya momen tersebut membekas di kepala dan membuatku merasa lebih baik. Seperti jeda kecil dari berbagai peristiwa yang aku alami bersama orang-orang baru di perkuliahan, dengan lingkungan yang terus berubah dan tuntutan adaptasi. Bersama mereka, aku tidak perlu menjadi versi lain dari diriku. Rasanya, diriku yang saat itu sepenuhnya adalah milik mereka, versi lama yang riang tanpa usaha berlebihan untuk terlihat baik-baik saja.
Bagaimanapun jarak yang memisahkan kita, aku merasa harus berterima kasih kepada mereka. Mereka tetap menjadi bagian krusial dari memori masa remajaku. Bersama mereka, aku bisa mengeluh tanpa takut dihakimi dan merasa cukup hanya dengan duduk bersama. Mungkin waktu akan terus berjalan dan pertemuan sederhana ini tidak selalu mudah terwujud, tetapi kenangan yang kami bagi akan tetap ada. (*)