Oleh Anindita Zaskia Andini Putri
Aku selalu percaya setiap orang pasti memiliki sebuah kenangan di suatu tempat. Bukan sekadar bangunan atau ruang kosong, tapi seperti punya ingatan sendiri, yang diam tapi setia menyimpan setiap tawa, setiap tatapan, bahkan hal-hal kecil yang mungkin orang lain anggap biasa. Tempat-tempat itu pun beragam, tidak harus sebuah tempat mewah yang dikelilingi oleh gemerlap lampu gantung raksasa atau ornamen-ornamen pelengkap yang terlihat mahal harganya. Tempat itu bisa jadi hanya sebuah bangunan sekolah ataupun kafe kecil di sudut kota yang dapat mengingatkan kita tentang sebuah kenangan yang sulit untuk dilupakan.
SMA itu salah satunya. Pada hari pengumuman pendaftaran SMA, aku diterima oleh SMA Negeri 2 Ungaran sebagai salah satu peserta didik barunya. Sebenarnya aku tidak ingin bersekolah di SMA itu, namun karena sistem zonasi, aku akhirnya harus mendaftar di sekolah itu. Meskipun pada awalnya aku tidak suka dan tidak ikhlas untuk bersekolah di sekolah yang tidak aku inginkan, aku percaya bahwa sebaik-baik rencana kita pasti lebih baik daripada rencana Tuhan. Maka dari itu, aku harus menerima setiap rencana Tuhan dengan lapang dada. Setelah aku lulus, aku menjadi mengerti salah satu penyebab mengapa aku pada akhirnya harus berterima kasih kepada Tuhan karena telah membuatku masuk ke SMA Negeri 2 Ungaran.
SMA Negeri 2 Ungaran itu tidak terkenal, tidak seperti sekolah impianku yang memiliki prestasi yang bergelimang. SMA ini hanya lebih unggul di bidang olahraga karena kebetulan memiliki lapangan yang sangat luas, mempunyai lapangan futsal, lapangan voli, lapangan rumput, bahkan lapangan upacara yang rumputnya tidak boleh diinjak oleh siswa-siswinya. Sangat berbeda dengan sekolah impianku sebelumnya yang hanya memiliki lapangan olahraga sepetak yang sekaligus difungsikan sebagai lapangan olahraga karena keterbatasan lahan. Selain itu, tidak ada sesuatu yang spesial yang bisa aku bahas dari sekolah ini, bahkan untuk menuju ke sekolahnya saja harus masuk gang. Jadi, bangun sekolahku tidak terlihat dari pinggir jalan raya dan semakin cocok untuk dipanggil sebagai sekolah pelosok. Meskipun begitu, setelah lulus, aku tidak mempunyai penyesalan karena aku bersekolah di SMA Negeri 2 Ungaran ini.
Aku tidak menyesal bersekolah di sekolah ini, karena seiring berjalannya waktu, ada hal-hal kecil yang mulai mengubah caraku memandang SMA ini. Bukan tentang bangunannya, bukan juga tentang fasilitasnya, tapi tentang apa yang perlahan hadir di dalam keseharianku. Di antara rutinitas yang awalnya terasa biasa saja, aku mulai menemukan alasan untuk tidak lagi merasa terpaksa datang ke sekolah. Entah sejak kapan, sekolah yang tadinya terasa asing itu mulai terasa lebih akrab, seolah-olah ada sesuatu yang membuatku ingin berlama-lama di sana. Di tempat itu juga, aku mulai mengenal seseorang yang pada awalnya tidak memiliki peran apa-apa dalam hidupku. Kami hanya dua orang yang kebetulan berasal dari kelas yang sama, yang pada awalnya tidak memiliki banyak interaksi dan berkomunikasi hanya sekadar menanyakan tugas. Tidak ada momen besar yang benar-benar menandai awalnya. Semuanya berjalan begitu saja, sederhana dan tanpa rencana. Tapi justru dari hal-hal sederhana itu, perlahan tercipta kebiasaan-kebiasaan kecil yang sulit untuk diabaikan.
Aku masih ingat bagaimana kami bisa menjadi dekat. Hal itu bermula pada saat kami secara tidak sengaja mendaftar ekstrakurikuler yang sama, yaitu Karya Ilmiah Remaja, dan kebetulan sekali kami menjadi satu kelompok proyek dan harus membuat suatu inovasi bersama untuk mendaftar lomba. Semenjak saat itu, aku dan dia yang awalnya asing menjadi dekat. Aku masih mengingat bagaimana kita pernah duduk bersama, bercerita tentang kehidupan kami sebelum masuk SMA, menertawakan video tidak jelas, membahas tentang masa depan yang akan datang, sampai berjalan bersama meskipun hanya ke kantin sekolah. Hal yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa, tapi entah kenapa, momen itu justru melekat cukup lama di ingatanku. Hal-hal kecil itu yang membuat suasana sekolah terasa berbeda dari sebelumnya.
Sejak saat itu, ada beberapa sudut sekolah yang terasa lebih “hidup” bagiku. Seperti tangga menuju lantai atas, tempat yang dulu hanya kulewati begitu saja, kini terasa menyimpan sesuatu. Atau koridor panjang yang sering kami lewati, yang entah kenapa selalu membuatku refleks menoleh ke arah tertentu. Bahkan laboratorium kimia yang terasa membosankan pun dapat menjadi tempat yang sangat menyenangkan bagiku. Tiap-tiap sudut di sekolah pernah menjadi saksi dari waktu-waktu yang pernah kami habiskan di sana. Tidak ada yang benar-benar berubah secara besar, tapi kehadirannya membuat banyak hal terasa sedikit lebih berarti. Kadang aku menyadari bahwa tanpa sengaja aku memperlambat langkah atau memilih untuk berada di tempat-tempat tertentu lebih lama dari biasanya. Bukan karena ada sesuatu yang harus kulakukan, tapi karena tempat itu seperti menyimpan potongan-potongan waktu yang pernah kami lewati bersama.
Lalu, di luar sekolah, ada satu tempat lain yang secara perlahan ikut menjadi bagian dari cerita itu, sebuah kafe kecil yang terletak tak jauh dari rumahku dan dia, tepat berada di tengah-tengah tempat tinggal kami. Noms Cafe adalah namanya. Tempatnya sederhana, tidak terlalu ramai, dan tidak memiliki sesuatu yang benar-benar mencolok. Cafenya relatif kecil. Menunya tidak terlalu bervariatif, namun harganya ramah di kantong anak sekolah sepertiku dulu. Terdapat dua lantai di kafe itu. Di lantai satu terdapat kursi panjang dengan bahan kayu dengan desain sederhana dan meja panjang yang terbuat dari kayu pula. Aku lebih sering nongkrong di lantai dua. Di sana semuanya lesehan, tidak ada kursi kayu dan hanya terdapat karpet yang lumayan berdebu sebagai alas duduknya. Kafe ini bukan tempat mewah yang dapat kujadikan ajang pamer untuk aku posting di Instagram, tapi karena kenangan yang ada di dalamnya, yang membuatku berani sedikit pamer dan menceritakannya di cerita ini.
Di kafe itu, waktu terasa berjalan sedikit lebih cepat, atau mungkin itulah yang kurasakan. Aku banyak menghabiskan waktu sepulang sekolah bersama dia untuk mengunjungi kafe itu. Rasanya seperti ada kebiasaan yang terbentuk tanpa perlu direncanakan. Kami sering datang dengan alasan yang sebenarnya sederhana: mengerjakan tugas. Tugas-tugas yang kalau dipikir sekarang seharusnya bisa saja diselesaikan di rumah masing-masing. Seperti membuat PPT, merapikan materi, atau sekadar menyusun poin-poin presentasi yang tidak terlalu sulit. Tapi entah kenapa, mengerjakannya di kafe itu terasa jauh lebih penting daripada sekadar menyelesaikan tugasnya saja.
Aku ingat bagaimana kami duduk berhadapan, laptop terbuka, tapi fokus kami tidak selalu sepenuhnya pada layar. Kadang kami malah sibuk membahas hal lain, lalu tiba-tiba tersadar kalau waktu sudah cukup lama terbuang. “Eh, ini belum selesai,” salah satu dari kami akan berkata, lalu kembali mencoba serius meskipun biasanya tidak berlangsung lama. Selain PPT, kami juga sering mengerjakan makalah bersama. Dari menentukan judul, mencari referensi, sampai menyusun daftar isi, yang dulu pernah dia ajarkan dengan sabar di sekolah.
Hal-hal seperti itu yang sebenarnya terlihat kecil, tapi justru sering terulang di kafe itu, seakan tempat tersebut menjadi ruang untuk mengulang kebiasaan yang sama, dengan cara yang berbeda. Jika aku ingat-ingat sekarang, aku sudah lumayan terbiasa mengerjakan makalah sehingga saat masuk kuliah aku tidak terlalu kaget dengan tugas-tugasnya yang sebagian besar tentang menyusun makalah. Aku akan selalu berterima kasih kepadanya karena telah membuatku mengetahui tentang hal-hal baru yang ia ajarkan padaku.
Kadang kami terlalu lama di sana sampai tidak sadar waktu sudah menjelang malam. Lantai dua yang lesehan itu, dengan karpet yang seadanya, justru menjadi tempat yang paling sering menyimpan kebiasaan kami. Posisi duduk yang berubah-ubah, suara langkah orang naik turun tangga, dan suasana yang tidak terlalu ramai, semuanya terasa begitu akrab. Tidak selalu tentang tugas; kadang kami hanya duduk tanpa benar-benar melakukan apa-apa. Laptop tetap terbuka, tapi tidak digunakan. Obrolan mengalir tanpa arah yang jelas, dari hal yang penting sampai hal yang benar-benar tidak perlu dibahas.
Sekarang, ketika aku mengingat kembali tempat-tempat itu, aku menyadari bahwa keduanya bukan sekadar tempat. Mereka adalah saksi dari banyak hal yang pernah terjadi, dari hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja, hingga momen-momen yang tanpa sadar menjadi berarti. Dan mungkin memang benar bahwa tempat tidak pernah benar-benar menyimpan cerita. Tapi kita yang tanpa sengaja meninggalkan bagian dari diri kita di sana. (*)