Oleh Aulia Maghfirotusyam
Temanggung adalah kabupaten tempat aku lahir dan tinggal. Aku tinggal di sebuah desa bernama Madureso, desa yang berada di tengah Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Ayahku berasal dari Temanggung dan ibuku juga berasal dari Temanggung. Temanggung adalah kabupaten yang mempunyai ciri khas dingin dan hijau royo-royo. Jika musim hujan, Temanggung sering tertutup oleh kabut tebal yang menjadikan suasana dingin. Selain itu, dengan sebutannya Kota Tembakau dan slogannya yaitu Temanggung Bersenyum. Temanggung bersenyum mempunyai arti ber adalah bersih, se adalah sehat, ny adalah nyaman dan um adalah umum. Yang mempunyai tujuan agar rakyat Temanggung menjaga kebersihan lingkungan, mempunyai gaya hidup sehat, menjadikan Temanggung sebagai tempat tinggal yang nyaman dan juga bersifat terbuka kepada siapa saja. Sebagaimana singkatan bersenyum juga mempunyai tujuan bahwa rakyat Temanggung adalah masyarakat yang ramah dan tamah kepada siapa pun.
Temanggung sendiri memiliki ciri khas berupa nama yang dikenal sebagai kota tembakau. Di Temanggung terkenal dengan tembakaunya, bahkan sudah mendunia, yaitu jenis tembakau yang bernama Srintil. Tembakau ini berasal dari lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Tembakau Srintil menjadi salah satu tembakau yang dianggap oleh masyarakat sebagai yang terbaik di dunia karena aromanya yang khas. Pada saat musim panen tembakau, aku sering melihat masyarakat Temanggung yang sibuk menjemur tembakau di lapangan. Daun tembakau yang sudah dipanen lalu dirajang dan ditempatkan di wadah yang dibuat untuk menjemur, lalu dijemur di lapangan. Pada saat aku berjalan-jalan, setiap melewati lapangan yang berada di pinggir jalan selalu tercium aromanya dari jalanan. Itu semua yang menjadikan Temanggung mempunyai ciri khas tersendiri, dan ciri khas yang seperti ini tidak akan kalian jumpai di daerah manapun.
Selain tembakau, Temanggung juga mempunyai kopi yang dikenal dengan cita rasa yang kuat dan sudah mendunia, yaitu kopi Arabika dan Robusta. Ada juga kopi yang dihasilkan dari suatu daerah yang juga dinamai daerah tersebut, yaitu kopi Gemawang, kopi Bejen, kopi Candiroto, dan lain-lain. Aku juga sering menjumpai tanaman kopi di daerah Kandangan yang berada di pinggir jalan. Setiap daerah mempunyai rasa tersendiri. Keluargaku suka membeli salah satu kopi, yaitu kopi gemawang, karena lebih suka kopi gemawang. Ibukku sering membeli dari petani langsung yang menanam di Desa Gemawang, makanya dinamai Kopi Gemawang. Semua kopi dihasilkan dengan menanam sendiri dan mengolah sendiri. Biasanya, kalau aku melewati desa yang sedang panen kopi, petani menjemur kopi di sepanjang jalan di desanya. Lalu setelah dijemur beberapa hari, kopi dimasak menggunakan tungku yang terbuat dari bata, lalu sampai berwarna hitam, dan setelah itu dihusk menggunakan mesin hingga menjadi bubuk yang siap dikonsumsi.
Temanggung juga mempunyai wisata yang sangat memukau. Aku pernah pergi ke salah satu wisata alam yang indah di Temanggung, yaitu wisata alam Posong yang terletak di Desa Tlahap, Kecamatan Kledung. Pada pagi hari yang sangat cerah, aku dan teman-teman kami berempat pergi ke wisata alam Posong. Kami berangkat pada pukul enam pagi. Titik kumpul kami adalah rumahku. Kami berangkat berboncengan dengan dua motor. Perjalanan yang kami tempuh sekitar tiga puluh menit. Di perjalanan kami sangat senang dan juga berhati-hati karena Posong berada di lereng gunung, jadi jalannya berkelok-kelok. Lalu sesampainya di Posong, kami membeli tiket masuk dengan harga dua puluh ribu per orang. Setelah membeli tiket, kami menuju parkiran untuk memarkirkan sepeda motor. Lalu setelah itu, kami berjalan menuju salah satu gazebo untuk beristirahat. Perjalanan cukup melelahkan karena jalan yang kami lewati untuk menuju Posong jalannya berbatu.
Setelah kami beristirahat, kami berfoto-foto menikmati pemandangan yang ada di wisata alam Posong. Pemandangannya sangat indah. Banyak pepohonan di sekitarnya. Bunga-bunganya juga bagus dan udaranya sangat sejuk sekali. Di sana kita juga bisa melihat Gunung Sindoro dan Sumbing yang besar dan terlihat dekat sekali, karena Posong berada di antara Gunung Sindoro dan Sumbing. Lalu setelah kami sudah capek berfoto-foto, kami pulang karena sudah siang. Semakin siang, wisata alam Posong semakin ramai pengunjung. Banyak pengunjung bukan hanya dari Temanggung, tetapi juga dari berbagai daerah. Selain wisata alam Posong, Temanggung juga mempunyai wisata alam yang lain seperti Embung Kledung, Embung Bansari, dan wisata alam lainnya yang pemandangannya tidak kalah indah. Aku dan teman-teman sangat senang bisa mengunjungi wisata alam Posong walaupun dalam perjalanan penuh perjuangan untuk mencapai Posong.
Selain wisata alam, Temanggung juga terkenal dengan Gunung Sumbing dan Sindoro karena Temanggung berada di antara Gunung Sumbing dan Sindoro. Maka dari itu, Temanggung memiliki daya tarik khas, yaitu udara yang sejuk dan dingin. Aku merasa senang jika berjalan-jalan mengelilingi kota, apalagi di daerah ujung kota, perbatasan antara Temanggung dan Wonosobo, karena pemandangan yang indah sekali. Dari Temanggung untuk naik ke Gunung Sindoro dan Sumbing, banyak jalur pendakian yang bisa kita tempuh. Pada umumnya, peminat yang sering naik ke Gunung Sumbing dan Sindoro bukan hanya warga sekitar saja, melainkan juga dari berbagai daerah. Pada saat aku mau pergi ke alun-alun, pas malam ada pertunjukan, aku bertemu dengan beberapa pendaki yang menuju ke arah base camp Gunung Sumbing. Pendaki yang lewat membawa motor dengan pelat luar Temanggung. Aku mengamatinya dan saat itu juga banyak pendaki yang lagi istirahat di pinggir jalan karena habis mendaki Gunung Sumbing.
Jaranan juga menjadi ciri khas yang berasal dari Temanggung. Di Temanggung hampir seluruh desa mempunyai paguyuban jaran kepang. Di desa ku juga mempunyai paguyuban seni dan mempunyai sanggar sendiri. Biasanya sanggar untuk latihan berada di balai desa. Latihan biasanya di iringi dengan gamelan karena di daerahku mempunyai gamelan sendiri. Jaranan biasanya berisikan penari jaran kepang enam belas orang laki-laki. Ada juga satu orang sebagai pemimpin yang juga suka dikombinasikan dengan penari Bali. Selain itu, ada juga yang namanya leak bali untuk mengiringi jaranan. Pada jaranan penari berisi laki-laki dan perempuan mereka mempunyai posisi masing-masing. Dalam jaranan, penari mengikuti aliran kejawen di mana penari jaranan bisa kerasukan saat berjoget. Saat pentas, biasanya digunakan panggung untuk berjoget dan para penari memakai make-up dan kostum sesuai dengan perannya masing-masing serta dilengkapi dengan properti khusus. Selain itu, ada juga yang bagiannya menabuh gamelan sebagai iringan jogetan yang sudah disusun lagunya sesuai arahan yang sudah diterapkan di latihan. Aku sangat suka menonton pertunjukan jaran kepang karena selain pertunjukan yang seru, juga ada banyak jajanan di area pertunjukan jaran kepang itu.
Selain jaran kepang, ada juga tarian yang dinamakan warokan. Warokan hampir mirip dengan jaran kepang, tetapi berbeda kostum yang dipakai dan juga properti yang digunakan. Di Temanggung ada salah satu tarian warokan yang terkenal, yaitu Warok Wahyu Cipto Budoyo yang sering dipanggil WCB. Warok tersebut berasal dari Desa Sengganen, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Aku sudah pernah menonton warok tersebut. Pada saat tampil, penontonnya sangat antusias. Bahkan, aku menonton bersama ribuan orang karena sedang tren di media sosial. Penonton yang menonton bukan hanya dari daerah Temanggung saja, tetapi juga banyak dari daerah luar Temanggung. Warok wcb tampil sudah sampai ke luar Temanggung. Pertunjukan warok disukai bukan hanya kalangan anak muda, tetapi juga anak kecil sampai orang tua. Mereka suka menonton. Melihat pertunjukan juga termasuk kalau bahasa di Temanggungnya “nguri-uri kabudayan jawi”, jadi antusiasmenya sangat tinggi untuk menonton pertunjukan jaranan dan juga warokan.
Temanggung juga mempunyai tempat ciri khas yang tidak ditemukan di mana pun, yaitu Papringan. Arti dari papringan adalah tempat yang banyak dipenuhi bambu-bambu karena di Temanggung sendiri bahasa Jawa-nya bambu adalah pring, maka dinamakan papringan. Aku pernah mengunjungi Papringan. Papringan sendiri identik dengan pasar, tetapi tempatnya semuanya terbuat dari bambu. Pembayaran yang digunakan terbuat dari pring. Awal mulanya, aku ke sana, aku berangkat, lalu aku menukarkan uang dengan keping pring. Satu pring harganya dua ribu. Di sana jika menukarkan sudah di-bundling, pringnya dan harganya tinggal pilih. Hari buka tidak setiap hari, tetapi hanya hari tertentu, yaitu pada minggu wage dan minggu pon, buka dari jam enam pagi sampai jam dua belas siang. Pada saat itu aku ke sana sekitar jam sepuluh pagi. Di sana aku bisa melihat pertunjukan gamelan yang sedang ditabuh. Selain itu, aku juga bertemu dengan orang asing yang juga mendatangi, salah satunya orang Rusia karena temanku bertanya. Semakin siang semakin ramai, bahkan sampai memenuhi desa yang ada di samping parkiran tersebut.
Selain pertunjukan gamelan, aku juga melihat pertunjukan permainan tradisional yang dimainkan di sana. Permainan tradisional tersebut sudah ada dan dimainkan sejak dahulu. Semua pengunjung bisa mencoba permainan tradisional tersebut karena diperbolehkan untuk umum dan diajarkan juga. Selain penduduk lokal dan pengunjung luar daerah, pengunjung dari mancanegara atau turis juga ikut mencoba permainan tradisional tersebut. Banyak juga turis yang menontong di sampingnya karena mereka merasa itu pertunjukan yang langka mereka jumpai dan tidak ditemukan di mana-mana. Di samping permainan tradisional, ada juga permainan anak-anak yang disediakan seperti ayunan, perosotan, dan jungkat-jungkit. Semua permainan yang ada di sana juga berasal dari atau dibentuk dengan bambu yang dirakit dan dikokohkan agar bisa dinaiki. Media untuk berdagang, seperti meja dan kursi, juga semuanya terbuat dari bambu.
Makanan khas yang ada di Temanggung adalah ndas borok, bajingan, dan lainnya. Di papringan kita bisa menemukan berbagai makanan khas yang ada di Temanggung. Kita bisa membeli dengan membayar sesuai ketentuan, misalnya gorengan satu gorengan, harganya satu pring, maka kita membayar dengan pring yang sudah ditukarkan. Misalnya, kalau kita membeli minuman seperti dawet, kita tidak menggunakan gelas, tetapi kita bisa minum menggunakan gelas yang dibentuk dari tempurung kelapa atau namanya bathok. Jika kita membeli banyak makanan, kita bisa membeli tas belanja bukan dari plastik, tetapi dari anyaman bambu yang dibentuk menjadi tas belanja. Di papringan, semua buatan tangan oleh pengrajin, bahkan ada yang menjual hasil pengrajinannya seperti permainan tradisional dan lain-lain. Bungkus makanan yang digunakan pada umumnya menggunakan bungkus daun pisang. Pasar pepringan tersebut terletak di Desa Ngadiprono, Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung.
Di Temanggung juga ada tempat yang dari zaman penjajahan sampai sekarang masih sering digunakan untuk peringatan. Ada Jembatan Kali Progo yang dulu pada saat penjajahan Belanda sering meledakkan bom oleh penjajah dan juga sudah banyak korban saat penjajahan yang meninggal dunia di jembatan itu. Pada Hari Pahlawan, masyarakat sekitar jembatan itu selalu melaksanakan kegiatan rutin, yaitu kegiatan tabur bunga dan pergi ke makam pahlawan yang ada di pinggir jembatan tersebut. Masyarakat sekitar situ, selain melaksanakan tabur bunga, mereka juga bersama-sama berdoa dan makan bersama untuk mengenang tradisi yang sudah menjadi ritual wajib dilaksanakan. Setiap hari pahlawan dilaksanakan pada malam hari. Jembatan tersebut bernama Jembatan Kali Progo Kranggan yang berada di Kabupaten Temanggung. Aku pernah ke sana karena sekarang kali Progo itu selain menjadi tempat peristiwa, juga dijadikan sebagai wisata yang disebut Taman Kali Progo. Di sana terdapat jajanan dan juga bisa bermain-main di sekitar taman.(*)