Oleh Ayunda Anastasya
Kala itu aku tengah menikmati kedamaian ditemani oleh rintik hujan serta gemuruh guntur tatkala seseorang yang tampak asing datang ke rumah dengan raut wajah gelisah dan panik, bajunya basah oleh hujan, tanpa alas kaki, dan terlihat lusuh. Ayah segera keluar bersama Ibu dan menanyai anak yang sepertinya tidak lebih tua dariku. Sementara aku yang penasaran mengintip dari ambang pintu. Hujan masih mengguyur desa dengan petir yang makin vokal pula ketika aku mendengar perkataan orang itu.
“Pak, tolong, ada orang jatuh ke embung, dua orang,” katanya yang membuat keningku berkerut.
Ayah seketika langsung menanyai bertubi-tubi dan mulai terlihat bergegas pula. Ibu kembali masuk ke dalam dengan raut yang hampir sama dengan Ayah, aku lantas bertanya untuk memastikan sebab pikiranku seolah terhenti setelah mendengar perkataan orang tersebut.
“Ibu, maksudnya apa? Orangnya beneran jatuh ke embung? Terus Ayah tadi mau ikut memberi bantuankah?” tanyaku tanpa jeda.
Ibu mengangguk, lantas aku keluar dan melihat Ayah sudah berada di rumah Pak RT yang kebetulan rumahnya hanya di depanku dan tetangga untuk meminta bantuan. Aku berdiri di teras, terdiam dan hanya memperhatikan Ayah yang masih berjalan ke sana kemari. Ia mengatakan pada tetangga untuk membawa galah dan tali, lalu meminta Pak RT untuk memanggil teman yang bisa berenang. Ayah kembali berjalan ke rumah untuk mengambil motor. Ia sudah menungganginya sampai jalan di depan rumah ketika aku menghampiri dan bicara padanya. Ia tengah menunggu tetangga yang mengambil galah.
“Ayah jangan ikut turun,” kataku, mataku sudah berkaca-kaca, jujur aku sangat khawatir karena embung yang berada di dekat rumah kami itu cukup dalam, ditambah dengan cuaca yang tidak bersahabat. Akan tetapi, Ayah malah menyuruhku untuk diam.
“Sudah, kamu itu diam saja,” katanya dengan nada sedikit galak.
Lalu, aku berkata lagi padanya dengan sedikit penekanan, “Pokoknya Ayah jangan ikut turun.”
Ayah hanya diam tidak menjawab, aku melihat tetanggaku sudah memikul galah dan naik ke motor Ayah. Aku mengatakan hal yang sama lagi, namun sepertinya Ayah tidak menghiraukannya, ia sudah melaju ke arah timur. Aku tetap berdiri di sana, di pinggir jalan depan rumah kami dan mengamati Ayah yang mulai menjauh dan menghilang ketika ia berbelok. Ibu kembali keluar dan menghampiriku, para tetangga juga mulai heboh, sementara aku masih mengkhawatirkan Ayah, kendati aku tahu ia bisa berenang dengan baik. Aku sangat yakin ia akan ikut turun. Aku tahu persis bagaimana keadaan embung tersebut, meskipun terkesan dramatis karena itu hanya embung, akan tetapi lokasinya tetap menyimpan bahaya, aku pernah melihat beberapa ular yang tengah berenang di dalamnya. Itulah sebabnya aku sangat khawatir.
Para tetangga yang penasaran langsung mengunjungi lokasi yang memang tidak jauh dari rumah, entah apa yang akan mereka lakukan di sana. Di sisi lain, aku dan Ibu hanya menunggu di rumah, Ibu masih bisa bercanda, tampaknya ia sangat percaya pada Ayah. Aku menjadi lebih diam, adikku juga penasaran, ia mengajak Ibu untuk ikut melihat di lokasi, namun Ibu menolak karena alasan hujan. Adikku kemudian diajak oleh paman Ibu untuk datang ke lokasi, aku ikut diajak, tapi ku tolak karena tidak mau menambah kekhawatiran dan melihat Ayah yang turun langsung.
Kabar silih berganti datang, mengatakan bahwa korban belum bisa diselamatkan, hari semakin gelap, hujan tak kunjung reda pula dan aku makin gelisah karena Ayah juga tak kunjung pulang, sementara adikku sudah kembali bersama paman Ibu. Aku tidak mengerti kenapa Ibu masih terlihat tenang-tenang saja, ia tengah memanaskan air untuk mandi Ayah nantinya. Aku mendengar pula bahwa sudah ada yang menelepon petugas atau tim SAR, namun hatiku juga tak kunjung lega.
Detik jam terus berdentang, menggema di dalam otakku, aku hanya terus terdiam dan sesekali bermain ponsel untuk meredakan rasa gelisah. Aku sungguh takut. Sesekali mataku melirik pada jam dinding yang menggantung di tembok rumah kami. Tiap dentang yang terdengar terasa menyiksa, jarum jam terus berputar dan aku tak kunjung mendapat kabar tentang Ayah. Aku ingin sekali berteriak, merasa sangat frustrasi. Ingin sekali bertanya pada Ibu, namun hanya akan sia-sia sebab Ibu pun tak tau bagaimana keadaan Ayah saat ini.
Sampai akhirnya ketika jarum jam hampir menunjukkan pukul 6 petang, Ayah akhirnya pulang, keadaannya basah kuyup dari kaki hingga kepala sembari mengendarai motornya, itu mengonfirmasi kekhawatiranku kalau ia sungguh ikut turun dan berenang di embung yang cukup dalam. Aku dapat bernapas lega akhirnya. Ayah baik-baik saja dan itu adalah kabar yang paling penting bagiku. Ibu menyambutnya dan langsung bertanya mengenai kondisi di sana. Aku hanya mendengar pembicaraan mereka, tentu masih ada rasa penasaran mengenai korban.
“Yang satu tadi sudah bisa diselamatkan, tapi yang satunya belum. Sudah ada tim SAR di sana,” kata Ayah menerangkan dan menjawab pertanyaan Ibu.
Lantas Ibu menyuruh Ayah segera mandi setelahnya. Aku sangat bersyukur karena Ayah baik-baik saja, tapi masih memikirkan juga bagaimana kondisi korban yang belum ditemukan. Aku kembali memegang ponselku, mencoba mencari informasi. Rasa penasaranku tidak dapat dihilangkan begitu saja. Aku bertanya pada kakak sepupuku, namun tak kunjung mendapat jawaban, kemudian aku bertanya pada temanku. Hasilnya pun nihil, sehingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menunggu saja pembaruan informasi yang akan datang.
Aku menunggu sembari makan malam bersama anggota keluargaku. Ayah bercerita tentang keadaan di embung. Ia berkata bahwa kondisi di sana saat ini cukup ramai dan kurang kondusif karena banyak warga yang penasaran. Ia menjelaskan bahwa korban berniat memancing, namun kemudian terpeleset karena terpal penutup embung yang licin akibat hujan, lantas kemudian temannya ingin membantu, akan tetapi keduanya tidak bisa berenang sehingga mengakibatkan mereka sama-sama tenggelam.
Keningku berkerut lagi, aku masih mengunyah, sangat terheran-heran dengan perspektif dan nyali korban. Memancing ikan di embung dengan cuaca yang sedang tidak bersahabat bukanlah pilihan bagus. Aku yakin semua orang tahu itu. Rasanya sungguh aneh, bagaimana bisa mereka membuat keputusan untuk memancing di saat hujan? Sangat tidak masuk akal. Aku ingin bertanya lebih jauh, namun aku urungkan.
Setelah makan aku mencari informasi lagi, belum ada pembaruan informasi dari pihak manapun. Pesan yang kukirim pun tak terbalas. Mungkin mereka tengah sIbuk menyaksikan proses evakuasi yang dilakukan oleh tim SAR. Menurutku sungguh ironis, momen duka tersebut menjadi tontonan umum. Sekitar pukul 8 malam, akhirnya aku mendapat informasi terbaru bahwa korban telah berhasil dievakuasi, namun dinyatakan meninggal. Pihak berwajib akan menangani perkara tersebut sebelum akhirnya diserahkan pada keluarga.
Hari itu sungguh di luar dugaan, aku tidak menyangka hal tersebut akan menjadi bagian dari kisah hidupku. Di balik kekhawatiran yang ada, aku sungguh bangga pada Ayah yang berhasil menyelamatkan satu nyawa, tentu hal tersebut terjadi karena bantuan dari para tetangga dan kuasa Tuhan. Untuk ke depannya, semoga tidak ada lagi kasus sedemikian rupa, sebaiknya dipertimbangkan baik-baik untuk mengambil keputusan seperti memancing di kala hujan mengguyur.