Oleh Humam Abdillah
Hari Senin itu cuaca di daerahku tidak bersahabat. Panasnya minta ampun, seolah-olah matahari ada di mana-mana. Aku berjalan, menyeret langkah kaki yang terasa berat karena harus membawa begitu banyak buku yang isinya lebih banyak gambar dan coretan daripada materi pelajaran. Keringat mulai membahasi seragam putihku hingga warnanya menjadi putih tulang, sebuah pemandangan yang biasa terlihat bagi anak kelas 4 SD yang baru saja bergelut dengan pelajaran di kelas.
Langkahku terhenti di sebuah lapangan kecil saat telingaku mendengar bunyi yang khas bagi masyarakat lokal. “Dhung, dhah, taak!” Suara kendang itu terdengar nyaring, seolah memanggilku untuk segera merapat. Di Banyumas, suara itu merupakan bagian dari gemelan yang biasa digunakan untuk mengiringi pagelaran Kuda Lumping. Masyarakat lokal lebih sering menyebut Ebeg Banyumasan daripada Kuda Lumping. Suara kendang mulai terdengar, pertanda pergelaran sudah dimulai.
Aku tahu kalau habis pulang sekolah langsung main akan kena ceramah sama ibu terkait baju sekolah yang tidak boleh untuk main. Namun, rasa penasaran anak kecil dalam diriku lebih dominan daripada rasa takut akan kena marah ibu. Aku pun membelokkna langkah kakiku ke arah lapangan, bergabung dengan lautan manusia yang sudah melingkar rapi menunggu pertujunkan utama.
Ebeg Banyumasan bagi anak seusiaku merupakan perpaduan antara kekaguman dan kengerian. Ada suatu hal yang magis saat melihat para pelakon seperti dirasuki oleh makhluk halus dan menari mengikuti irama yang organik nan liar. Bau kemenyan mulai menusuk hidung, bercampur dengan keringat para penonton dan debu lapangan yang berterbangan, membuat suasana yang menurutku adalah gerbang menuju dunia lain.
Aku berhasil menyelinap ke posisi depan dan merasa senang karena mendapat posisi terbaik untuk menonton segalanya secara dekat. Di tengah lapangan, terlihat para pelakon sudah menunjukkan tanda-tanda akan mendem atau kesurupan, fase di mana gerakan mereka akan sangat liar dan tidak bisa diprediksi. Musik gamelan semakin kencang, temponya mulai meningkat gila-gilaan, seolah seperti orang yang sedang di dikejar anjing gila.
Kengerian yang sesungguhnya muncul ketika seorang pelakon mulai memakan daun ataupun rumput yang masih segar. Aku melihat ada pelakon yang dengan santainya menguliti buah kelapa hanya dengan giginya saja, seolah sedang mengupas kulit jeruk. Ada juga yang mengunyah pecahan kaca dengan bunyi “krauk-krauk!” hingga membuat gigiku ngilu sendiri, sebuah pemandangan yang tidak bisa dicerna oleh akal sehat. Di saat itulah, hatiku mulai menciut dan rasa berani tadi mulai menguap entah ke mana.
Tiba-tiba, seorang pelakon menghampiriku dengan membawa sayuran segar. Ia berjalan dengan langkah yang tersentak-sentak, mendekatiku dengan aura mengancam hingga aku tak sanggup untuk memutar badan, apalagi lari. Bau menyan perlahan semakin kuat ketika ia perlahan semakin dekat, membuat napasku mendadak sesak karena ketakutan.
Tanpa ada pemberitahuan, tangan sang pelakon menyambar ketiakku dan dalam sekecap badan yang mungil ini terangkat ke udara, digendong layaknya bayi. Jantungku rasanya seperti mau copot, membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. Rasanya seperti sedang bermimpi buruk, tapi sial, ini adalah kenyataan. Aku tak bisa melawan karena rasa takutku itu, bahkan untuk berbicara saja aku tak bisa.
Pelakon itu kemudian menyodorkan sayuran yang dibawanya tadi untuk diberikan kepadaku. Aku yang masih ketakutan hanya bisa terdiam sambil memperhatikan dan memikirkan bahwa sudah tamat riwayatku. Ia sendiri mulai mengunyah sayuran itu dengan sangat rakus di depanku. Air yang keluar dari sayuran yang masih segar itu mengenaiku, menambah kesan horor yang tidak akan pernah aku lupakan.
Keajaiban pun datang: seorang ibu-ibu dengan daster putih bermotif bunga tiba-tiba maju dan menolongku dengan sangat berani. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia mendekati sang pelakon dengan menepuk keras pundaknya sambil berkata, “Wis kiye bocah cilik aja digodani!”. Suaranya seperti perintah dari raja untuk para bahawannya.
Akhirnya, si pelakon itu menurunkanku kembali ke atas tanah dan ibu-ibu itu langsung menarik lenganku dan membawaku pergi menjauhi pegelaran tersebut. Aku yang masih termenung karena ketakutan akhirnya diberikan air putih untuk menenangkan diri.
Kejadian hari itu berhasil menanamkan rasa trauma yang cukup mendalam terhadap pertunjukan Kuda Luping secara bertahun-tahun. Benar kata Ibu, ada harga yang harus dibayar mahal atas rasa penasaran yang tak terkendali, dan bayarannya bagiku adalah merasa ketakutan (flashback) ketika mencium bau kemenyan.(*)