Oleh Dinda Puspita
Langit di atas Desa Minanga menghitam, bukan karena malam, melainkan mendung tebal yang membawa aroma hujan lebat dari hulu. Aku berdiri di pinggir dermaga kayu tua itu, menatap permukaan Sungai Komering yang mulai naik dengan cepat dan menggiriskan. Airnya yang biasa tenang tempat aku dan kawan-kawan kecil dulu sering mencuci kain di sore hari kini berubah menjadi kecokelatan pekat, membawa potongan batang kayu dan sampah bambu yang hanyut dengan kecepatan tinggi. Angin basah menerbangkan ujung kerudungku. “Jangan turun ke sungai, arusnyo lagi ganas nian,” terngiang-ngiang pesan Mang Jupri tadi siang di telingaku.
Aku seharusnya sudah pulang. Aku seharusnya sedang menggoreng ikan untuk makan malam Ibu. Namun ada sesuatu yang menahan kakiku di tepi dermaga ini semacam firasat perempuan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan di dalam dada.
Dan firasat itu ternyata benar.
Ketenangan sore yang mencekam itu pecah oleh teriakan histeris yang datang dari arah hilir. “Tolong! Perahu Mang Dul karam!” Suara itu melengking tajam di antara deru angin, seperti sembilu yang mengiris udara. Aku menoleh dengan jantung yang langsung berdegup keras. Di tengah arus yang menggila itu, sebuah perahu ketek kecil sudah terbalik, terombang-ambing dipermainkan air yang tak bersahabat. Di sana aku harus menyipitkan mata untuk memastikan Mang Dul dan cucunya, si kecil Andi yang baru kelas dua, sedang berjuang mati-matian berpegangan pada badan perahu yang licin dan basah.
Andi. Bocah itu baru kemarin minta tolong kukepangkan rambutnya sebelum sekolah.
Sesuatu di dalam dadaku meledak.
Tanpa berpikir panjang, aku berlari menuju satu-satunya perahu kayu yang masih terikat di dermaga. Tanganku gemetar saat mencoba melepas simpul tali yang basah dan mengeras karena terendam air. Kukuku patah dua di sela-sela simpul, tapi aku tidak merasakannya.
“Nok Sari! Jangan nekad kau! Pacak mati kito!”
Aku menoleh. Sepupuku, Edi, berlari tergopoh-gopoh dari arah jalan kampung, wajahnya pucat pasi melihat kegilaan air di depan mata kami. Matanya membelalak melihatku sudah hampir masuk ke dalam perahu.
“Kalau tidak sekarang, mereka lewat, Di! Cepat naik!” balasku berteriak melawan suara angin yang makin kencang. Edi, meski dengan kaki yang jelas-jelas gemetaran, akhirnya menelan ludah dan melompat masuk ke dalam perahu. Ia langsung menyalakan mesin dengan tangan yang tak kalah gemetar dariku. Mesin ketek itu terbatuk-batuk, mengeluarkan asap hitam pekat sebelum akhirnya menderu keras, hidup dengan segala keengganannya.
Kami memacu perahu kayu itu membelah arus, melawan terjangan air yang berkali-kali masuk ke dalam lunas dan membasahi sandalku hingga ke pergelangan kaki. Aku berdiri di bagian haluan, tanganku mencengkeram tiang perahu sambil terus memantau posisi Mang Dul dan Andi yang semakin jauh terbawa arus ke arah tikungan. Jika mereka sampai ke tikungan itu, arus balik akan menelan mereka.
Jangan sampai ke tikungan. Jangan sampai ke tikungan.
Ketegangan memuncak tiba-tiba ketika sebuah batang pohon besar hanyut tepat menghadang dari arah kiri. “Awas depan! Elak kiri!” teriak Edi. Aku baru saja hendak memekik ketika perahu kami miring tajam saat Edi memutar kemudi dengan paksa. Air sungai yang dingin menyapu seluruh kakiku hingga betis, rok panjangku basah kuyup dan berat, menempel di kulit. Namun syukurlah, batang pohon itu lewat mengelus sisi kanan perahu dengan suara berderak yang membuatku hampir copot jantung.
Tidak ada waktu untuk bernapas lega. Jarak kami kini tinggal beberapa meter dari Mang Dul dan Andi, namun arus di tengah sungai jauh lebih gila dari perkiraan. Perahu kami seolah ditarik oleh tangan-tangan tak kasat mata ke arah pusaran yang berputar lambat namun mematikan di sisi kanan kami.
“Laju lempar talinyo, Sari! Sebelum disorong arus ke pusaran!”
Aku berjongkok, meraba gulungan tali nilon di bawah bangku perahu dengan tangan yang sudah mulai kebas. Kutemukan talinya. Aku berdiri dengan kaki gemetar, memasang sikap selebar mungkin untuk menjaga keseimbangan di atas perahu yang terus bergoyang. Mata saya mengunci posisi Mang Dul yang sudah mulai terlihat sangat kehabisan tenaga satu tangannya memeluk Andi erat-erat, satu tangannya lagi berpegangan pada perahu terbalik dengan genggaman yang semakin melemah.
Aku membidik. Melempar.
Tali itu tersapu air sebelum sempat mencapai tangan Mang Dul. Pusaran menelannya begitu saja.
“Sekali lagi, Sari! Fokus kau!”
Aku menarik napas. Benar-benar menarik napas dalam, penuh, seperti yang diajarkan Ibu saat aku kecil dan menangis karena jatuh dari pohon rambutan. Tenang dulu, baru jalan. Aku menggulung ulang tali itu dengan jari-jari yang mulai lecet. Kutatap Mang Dul sekali lagi, kuhitung jarak, kuhitung arah hanyut tali, dan kulempar dengan seluruh tenaga yang tersisa di lenganku.
Tali itu membentuk busur di udara.
Dan jatuh tepat ke pelukan Mang Dul.
Ia berhasil menangkapnya. Dengan gerak yang tampak sudah sangat lelah, ia melilitkan tali itu berkali-kali di tangannya, sementara tangan satunya tetap memeluk erat Andi yang sudah menangis tersedu-sedu ketakutan, suaranya nyaris tak terdengar di antara deru sungai.
“Pegang erat, Mang! Jangan lepas!”
Proses menarik mereka adalah saat paling menegangkan dalam hidupku yang dua puluh empat tahun ini. Beban dua tubuh ditambah kuatnya arus membuat perahu kami oleng ke satu sisi, air masuk dengan bebas dari pinggiran. Edi mati-matian menjaga keseimbangan mesin sementara aku menarik tali dengan kedua tangan. Gesekan tali nilon pada telapak tanganku yang sudah lecet terasa seperti bara, tapi aku menatap wajah kecil Andi yang ketakutan dan tangan itu tidak mau berhenti menarik.
Tarik. Tarik. Tarik.
Satu sentakan keras terakhir dan jari-jari tua Mang Dul berhasil meraih pinggiran perahu kami. Aku langsung jongkok, meraih kedua ketiak Andi, dan mengangkat bocah basah kuyup itu masuk ke dalam perahu dengan sisa tenaga yang ada. Andi langsung memelukku erat, tubuhnya gemetar hebat seperti anak kucing yang kedinginan, rambutnya yang tadi kukepang sudah berantakan lepas semua.
“Sudah. Sudah, Andi. Sudah selamat,” bisikku berulang-ulang sambil mendekapnya, meski suaraku sendiri tak kalah gemetar.
Edi membantu Mang Dul naik. Lelaki tua itu hampir tidak punya tenaga lagi untuk mengangkat tubuhnya sendiri. Begitu ia akhirnya terbaring di dasar perahu dengan napas tersengal-sengal, Edi langsung memacu mesin kembali ke tepian dermaga yang dari jauh sudah terlihat dipenuhi kerumuan warga yang berdiri cemas dengan tangan yang ada yang mengatup di mulut, ada yang menggenggam erat tangan tetangga di sampingnya.
Saat lunas perahu menyentuh pasir dan kakiku kembali menapak tanah darat, seluruh isi tubuhku seperti menguap sekaligus. Aku terduduk begitu saja di atas pasir basah, tidak peduli pada rok yang sudah kotor, tidak peduli pada tangan yang berdarah. Warga segera mengerumuni Mang Dul dan Andi, menyelimuti mereka dengan kain sarung, ada yang membawa air hangat, ada yang sudah menangis duluan.
Tangan keriput Mang Dul menyentuh punggung tanganku yang lecet.
“Terimo kasih banyak, nok. Kalau katek kau, lah hilang kami duo,” bisiknya dengan suara yang retak dan basah. Kalau tidak ada kamu, sudah hilang kami berdua.
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya mengangguk, menggigit bibir, dan menundukkan kepala supaya tidak ada yang melihat aku menangis.
Malamnya, suasana desa yang tadinya mencekam berubah menjadi hangat penuh syukur. Di bawah lampu minyak yang bergoyang-goyang di teras rumah panggung Mang Dul, warga berkumpul membawa apa yang ada ada yang datang dengan sepanci nasi, ada yang membawa pisang goreng, ada yang cukup membawa dirinya sendiri dan duduk diam-diam di sudut, ikut merasakan lega yang tak terucapkan.
Andi duduk di pangkuanku, sudah mandi dan berganti baju, rambutnya yang harum aku kepang ulang dengan jari-jari yang kini dibalut kain tipis. Ia tidak banyak bicara malam itu. Sesekali ia menengok ke arah sungai yang kini hanya terdengar deburannya saja dari balik kegelapan, lalu menggenggam tanganku lebih erat.
Aku duduk di teras, menatap kegelapan di mana sungai itu berada. Suara airnya masih keras, masih terdengar garang. Namun malam ini suaranya tidak lagi terasa seperti ancaman. Ia hanya terdengar seperti apa adanya sebuah sungai, tua dan liar, yang sudah mengalir jauh sebelum desa ini ada dan akan terus mengalir setelah kita semua tiada.
Aku mengusap lembut kepala Andi yang sudah terlelap di pangkuanku.
Hari ini aku belajar bahwa keberanian bukan milik mereka yang tidak pernah takut. Keberanian adalah milik mereka yang kakinya gemetar, tangannya lecet, roknya basah kuyup sampai ke lutut namun tetap melempar tali itu untuk kedua kalinya. Di sini, di tanah kelahiranku, di tepi Komering yang keras dan tak kenal ampun ini, hidup memang tidak pernah mudah. Namun selama masih ada tangan yang mau mengulur tali kepada sesama, kita tidak akan pernah benar-benar tenggelam.(*)