Oleh Felix Gabriel Leonardo Marpaung
Seminggu sebelum aku berangkat kuliah ke Semarang, kakakku ngajak aku jalan ke Ancol buat sekalian perpisahan kecil-kecilan. Katanya, mumpung belum sibuk dengan urusan kuliah dan kos, lebih baik bikin kenangan dulu bareng keluarga. Sepupu laki-lakiku juga ikut, dan dia yang nyetir mobil. Sebenarnya dia baru lancar nyetir beberapa bulan terakhir, jadi dari awal perjalanan aja suasananya udah rame. Kami berangkat pagi supaya bisa puas keliling sampai malam.
Di mobil suasananya seru banget karena sepupuku kelihatan semangat sendiri pegang setir. Kakakku beberapa kali becanda bikin dia gugup. “Santai aja, bang, jangan tegang amat setirnya,” kata kakakku sambil ketawa. Sepupuku langsung jawab, “Ya gimana gak tegang, penumpangnya komentator semua.” Aku cuma ngakak sambil nyalain lagu dari playlist favorit kami. Perjalanan yang biasanya terasa jauh jadi terasa cepat karena sepanjang jalan isinya ketawa terus.
Pas sampai di Ancol, cuacanya cerah banget dan angin pantainya enak. Kami langsung jalan santai sambil melihat suasana sekitar yang lagi ramai pengunjung. Banyak anak kecil bermain sepeda dan orang-orang duduk di pinggir pantai menikmati laut. Aku sempat berhenti beberapa kali cuma buat lihat ombak sambil mikir kalau sebentar lagi hidupku bakal berubah karena kuliah. Kakakku menepuk pundakku dan bilang kalau semua bakal baik-baik aja di Semarang nanti.
Setelah itu, kami cari makan dulu karena dari pagi belum sarapan berat. Kami nemu tempat makan dekat pantai yang suasananya adem banget. Sepupuku langsung pesen makanan paling banyak karena katanya capai nyetir. “Gila, baru sejam nyetir aja udah lapar segini,” kataku sambil ketawa. Dia langsung jawab, “Nyetir itu butuh tenaga dan mental.” Kakakku malah makin ngakak sampai hampir keselek minum.
Selesai makan, kami lanjut jalan-jalan ke beberapa spot foto di sekitar Ancol. Kakakku paling semangat kalau soal foto karena dia suka cari angle yang bagus. Aku dan sepupuku cuma nurut disuruh berdiri sana-sini. Walaupun agak capai, hasil fotonya ternyata bagus-bagus banget. Ada satu foto candid waktu kami lagi ketawa yang jadi favoritku karena keliatan natural dan hangat banget suasananya.
Menjelang sore kami nemu photobooth kecil yang desainnya lucu dan estetik. Kakakku langsung ngajak masuk buat foto bertiga. Awalnya sepupuku malu karena katanya gak biasa foto begini. “Udah masuk aja, muka lu aman kok,” kataku sambil narik tangannya. Dia malah ketawa dan akhirnya ikut masuk juga. Di dalam photobooth, kami mulai pose aneh-aneh sampai operatornya ikut ketawa melihat tingkah kami.
Foto pertama kami bergaya normal, tapi makin lama malah makin absurd. Kakakku bikin pose so cool. Aku ketawa gak jelas, sedangkan sepupuku tiba-tiba bikin peace sambil merem. Hasilnya malah jadi lucu banget dan bikin kami ngakak tiap lihat hasil print-nya keluar. Kami akhirnya mencetak dua lembar biar masing-masing bisa disimpan. Aku langsung masukin fotonya ke dompet karena rasanya sayang kalau hilang. Buatku itu jadi salah satu kenangan paling sederhana tapi paling berkesan.
Malam mulai datang dan lampu-lampu di sekitar pantai mulai nyala. Suasananya jadi lebih cantik dan tenang dibanding siang tadi. Kami duduk di pinggir pantai sambil ngobrol banyak hal soal kuliah, masa depan, dan kehidupan nanti. Kakakku bilang aku harus siap hidup mandiri di Semarang. Sepupuku malah bilang dia siap nyusul kuliah asal gak disuruh nyetir jauh lagi.
Aku sempat diam beberapa menit sambil melihat laut malam itu. Rasanya campur aduk antara senang dan takut untuk memulai kehidupan baru. Tapi di sisi lain aku bersyukur banget punya keluarga yang selalu support dan mau meluangkan waktu buat hari itu. Kakakku bilang, “Nanti kalau kangen rumah ya telepon aja.” Aku cuma senyum sambil ngangguk pelan karena tiba-tiba jadi agak mellow.
Sebelum pulang, kami jalan lagi sebentar menikmati angin malam. Banyak orang masih duduk santai sambil makan jagung bakar dan mendengar suara ombak. Sepupuku tiba-tiba bilang, “Eh, jujur ya, hari ini seru banget.” Kakakku langsung jawab, “Iyalah, soalnya yang nyetir gak nabrak.” Kami langsung ketawa bareng sampai beberapa orang sekitar nengok ke arah kami.
Di perjalanan pulang, suasana lebih tenang karena kami udah capai seharian jalan. Lagu di mobil diputar pelan sambil kami sesekali ngobrol ringan. Aku lihat hasil foto photobooth berkali-kali sambil senyum sendiri. Rasanya aneh memikirkan kalau sebentar lagi aku bakal tinggal jauh dari rumah. Tapi kenangan hari itu bikin aku merasa lebih siap buat memulai semuanya.
Hari di Ancol itu akhirnya jadi salah satu momen yang paling aku ingat sebelum kuliah. Bukan karena tempatnya mewah atau kegiatannya luar biasa, tapi karena kebersamaannya terasa hangat banget. Dari perjalanan, candaan di mobil, sampai foto photobooth yang konyol, semuanya terasa menyenangkan. Aku sadar kalau kenangan sederhana kadang justru yang paling susah dilupakan. Dan sebelum berangkat ke Semarang, aku senang sempat punya satu hari bahagia bersama mereka.(*)