Kebersamaan Keluarga di Pantai Larangan Tegal

Oleh Ikfina Atika Sari Agustin

Pantai Larangan terletak di Desa Munjungagung, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Pantai ini dinamai Pantai Larangan karena terletak di Pedukuhan Larangan. Nama ini berasal dari sejarah wilayah tersebut yang dulunya merupakan kawasan tertutup atau terlarang untuk aktivitas umum, sebelum akhirnya berkembang menjadi destinasi wisata bahari dan daerah nelayan. Bagi warga Tegal, khususnya di Kecamatan Kramat, pasti tidak asing dengan Pantai Larangan ini. Pantai ini menjadi tempat andalan masyarakat Tegal, khususnya di Kecamatan Kramat, sebagai tempat wisata sederhana yang tidak perlu mengeluarkan biaya berlebihan.

Dari kecil saya sering sekali mengunjungi pantai ini bersama keluarga dan saudara. Kami pergi ke pantai bukan hanya sekadar untuk melihat pemandangan ombak yang sangat menenangkan, tetapi juga untuk bermain air dan pasir. Setiap hari Minggu, saya tidak pernah bosan mendatangi Pantai Larangan ini, walaupun hanya sekadar bermain air dan pasir, tetapi bagi saya Pantai Larangan ini adalah tempat yang sangat menyenangkan dan menenangkan. Bahkan dari hari Sabtu saya sudah merengek untuk pergi ke Pantai Larangan di hari Minggu nanti.

Ketika orang tua saya sedang ada urusan dan tidak bisa membawa saya pergi ke pantai, saya akan mengajak saudara sepupu untuk pergi ke pantai ditemani oleh Budhe dan Pakdhe. Setiap pergi ke Pantai Larangan, saya selalu membawa baju ganti, tetapi pada saat itu, karena terburu-buru, saya lupa untuk membawa baju ganti. Pada akhirnya, setelah bermain air dan pasir, saya hanya membilas menggunakan air bersih dan tetap menggunakan baju yang basah untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan ke rumah, saya kedinginan dan pada saat sampai di rumah, baju yang saya gunakan sudah setengah kering. Sesampainya di rumah, saya dimarahi oleh mama saya karena tidak membawa baju ganti tetapi tetap bermain air. Sehabis kejadian itu, saya jadi selalu teringat untuk selalu membawa baju ganti ketika ingin pergi ke Pantai Larangan.

Pantai Larangan ini tidak hanya disukai oleh anak-anak seperti saya dulu, tetapi hampir semua kalangan menyukai Pantai Larangan ini karena Pantai Larangan tidak hanya sekadar tempat untuk anak-anak bermain air dan pasir, tetapi juga bisa dijadikan tempat berkumpul dengan santai sambil menikmati pemandangan dan ombaknya.

Sesekali pada sore hari ketika Budhe dan Pakdhe saya yang memiliki motor tosa pulang berjualan lebih cepat dari biasanya, mereka akan mengajak saya dan keluarga besar untuk pergi ke Pantai Larangan untuk refreshing menghilangkan penat setelah seharian bekerja. Dengan kompak, keluarga besar sayang setuju untuk pergi bersama ke Pantai Larangan menggunakan motor tosa yang disopiri oleh Pakdhe saya. Sampai-sampai mama dan budhe-budhe saya membawa makanan dari rumah untuk dimakan bersama di pantai. Kami sekeluarga duduk beralaskan sandal masing-masing sembari menikmati makanan rumahan dengan pemandangan ombak dan angin yang semilir.

Pantai Larangan masih menjadi tempat andalan saya ketika ingin menghilangkan penat dari tugas-tugas sekolah. Pada saat SMA, saya sudah bisa dan diperbolehkan membawa motor. Sering kali, ketika sekolah dipulangkan lebih cepat dari jam biasanya, saya dan teman-teman akan bersama-sama ke Pantai Larangan dengan membawa jajanan yang dibeli dari kantin sekolah. Terkadang Pantai Larangan juga saya gunakan sebagai tempat mengerjakan tugas kelompok bersama teman-teman. Saya sangat senang berkumpul bersama teman-teman di Pantai Larangan hanya sekadar bertukar cerita dan tertawa bersama.Di sekitar Pantai Larangan banyak didirikan warung yang menjual aneka jajanan dan minuman.Jadi kami tidak perlu lagi repot-repot membawa jajanan dari kantin sekolah. Di Pantai Larangan juga sudah banyak dibangun tempat foto dan ayunan. Kami sering sekali berfoto di Pantai Larangan ini untuk diunggah di media sosial.

Sekarang Pantai Larangan sudah banyak berubah. Dimulai dari dibangunnya gerbang, ketika mau masuk, harus dikenakan biaya sebesar 4.000 per orang. Jalan untuk akses masuknya pun sudah diaspal dan sudah diperluas lagi. Tetapi sangat disayangkan, semakin terkenal Pantai Larangan, semakin ramai dan banyak sekali pengunjung yang tidak perduli dengan kebersihan Pantai Larangan. Banyak pengunjung yang membuang sampah sembarangan ketika berada di Pantai Larangan ini. Tetapi sejak diadakan penarikan biaya masuk, pemerintah setempat menggunakan dana yang telah didapatkan untuk pembersihan Pantai Larangan.

Sejak saya berangkat kuliah dan tinggal di Semarang, saya tidak pernah lagi pergi ke Pantai Larangan. Rasanya kangen sekali berkumpul dengan teman-teman atau keluarga sembari menikmati pemandangan dan suara ombak Pantai Larangan. Sampai pada hari Minggu, saya diajak oleh teman kuliah saya untuk pergi ke pantai yang ada di Semarang. Karena sedang kangen dengan Pantai Larangan, saya langsung menerima ajakan dari teman saya itu. Dengan harapan akan mengobati rasa kangen saya untuk bermain di Pantai Larangan. Tetapi perjalanan menuju pantai itu sangat melelahkan. Di samping jalannya yang lumayan jauh, akses yang dilewati itu juga berlumpur, yang menjadikan sesekali hampir tergelincir.

Ketika sudah sampai di pantai, saya sangat terkejut karena seluruh pantai dipenuhi dengan sampah dan potongan-potongan kayu yang entah dari mana asalnya. Dari situ saya sangat kecewa dan memutuskan untuk kembali ke kos. Rasa kangen saya untuk menikmati keindahan Pantai Larangan belum sempat terobati dan saya memutuskan untuk melanjutkan fokus berkuliah tanpa memikirkan rasa kangen dengan suasana Pantai Larangan.

Ketika libur semesteran tiba, saya sangat senang dan sangat ingin pergi ke Pantai Larangan. Setelah 5 bulan lebih, akhirnya saya pergi ke Pantai Larangan bersama teman dengan hati yang sangat gembira. Sesampainya di Pantai Larangan, saya dibuat kaget untuk kedua kalinya karena seluruh pantai dipenuhi dengan potongan-potongan kayu yang entah dari mana asalnya. Banyak warga sekitar yang sedang berusaha membersihkan potongan-potongan kayu tersebut. Pada akhirnya, saya hanya duduk di warung yang ada di sekitar pantai dengan menatap Pantai Larangan yang dulu bersih dan nyaman dipandang, tetapi sekarang justru banyak potongan-potongan kayu yang memenuhi seluruh pantai.

Ketika saya coba cari tahu, ternyata potongan-potongan kayu itu berasal dari material hutan di lereng Gunung Slamet. Kayu-kayu gelondongan tersebut terbawa arus banjir bandang dari kawasan atas Guci sehingga masuk ke aliran Sungai Gung dan akhirnya terdampar di pesisir Pantai Larangan akibat terbawa arus ke muara. Kejadian ini tidak membuat rasa suka saya terhadap Pantai Larangan itu berkurang, apalagi sampai hilang, tetapi justru memberikan pelajaran berharga untuk tetap peduli terhadap lingkungan sekitar, dimulai dari hal-hal kecil dengan membuang sampah pada tempatnya. Karena hal-hal kecil akan sangat menyebabkan dampak yang besar bagi lingkungan sekitar kita.(*)