Satu Gedung Dua Kisah Kelabu

Oleh Shafana Amelia Putri Hidayat

Semarang selalu punya cara untuk terlihat cantik, entah itu melalui lampu-lampu di Simpang Lima atau aroma hujan yang membasahi aspal jalanan Tembalang. Bagiku, kota ini adalah kamera yang merekam setiap tawa dan luka yang pernah singgah. Di kota ini, aku pernah merasa menjadi orang paling bahagia sekaligus juga pernah hancur, terperangkap dalam sebuah perasaan yang mati.

Masa SMA ini seharusnya menjadi masa yang paling berwarna seutuhnya, namun bagiku masa berwarna itu menjadi tidak seutuhnya. Karena hadirnya sebuah kisah klasik masa remaja yang pahit. Pada masa itu, aku pernah memiliki seseorang yang sangat spesial, sebut saja dia Samudra. Kami membangun sebuah kedekatan yang begitu erat hingga satu sekolah mengira kami adalah sepasang perahu yang telah berlayar di samudra. Kami menghabiskan waktu bersama dalam hal nonakademik seperti proyek P5. Kebetulan kami dalam satu proyek drama yang di mana kami adalah salah satu aktornya yang berdiri di atas panggung yang sama, di bawah sorot lampu yang seolah merestui, tanpa mereka tahu bahwa kami tak pernah ada kata “kita”.

Samudra adalah tempatku pulang setelah sehari menjalani hari yang berat bagiku. Kami berbagi cerita apa saja,mulai dari cerita tentang kafe di Semarang yang suka ia kunjungi dan ceritaku tentang Kota Lama dan segala kenangannya. Suatu hari ia bercerita tentang seorang perempuan yang terus mengusiknya, seorang yang dia label sebagai “orang tidak disukai”. Aku percaya sepenuhnya,tanpa sedikit pun curiga bahwa di balik kata-kata negatifnya, tersimpan sebuah sejarah yang sengaja dia sembunyikan dariku.

Luka itu mulai menganga ketika Samudra tiba-tiba menghilang tanpa pamit. Tak ada kata putus karena memang tak pernah ada kata mulai. Namun, rasanya lebih perih daripada kalah dalam sebuah kompetisi atau perpisahan mana pun. Tak lama kemudian aku mendengar dari salah satu teman yang bilang : Seorang perempuan itu adalah masa lalunya yang kini menjadi masa depannya lagi. Aku ditinggalkan di persimpangan jalan,sementara dia melanjutkan perjalanan dengan  orang lain, ibarat seperti lirik lagu Pelangi, yaitu “namun sayangnya kau tak pilih aku, jadi pelabuhanmu”.

Hal yang paling menyakitkan adalah kepura-puraan yang harus dia mainkan di depan teman-teman kita. Dia masih bersikap manis dan romantis seolah-olah kami masih baik-baik saja. Dia melakukan gimik yang membuat teman-temanku mengira kami masih bersama. Padahal di balik layar aku menyaksikan dia sudah dengan perempuan itu dan itu menyakitkan.

Aku memilih untuk diam dan memendam segalanya sendirian. Tak ada satu pun teman dekatku yang tahu bahwa setiap hari, dengan cahaya malam Semarang, aku bersedih. Saat kami berkumpul untuk mengerjakan proyek di daerah Mranggen bersama jajanan, mi ayam dan es jeruk kesukaannya, teman-temanku selalu meledek tentang namanya. Aku hanya bisa tersenyum getir, menelan pahitnya kenyataan bahwa kenangan yang mereka anggap lucu adalah ibarat aku makan mi ayam seperti menelan duri yang sakit.

Setelah pengalaman kisah itu, aku banyak menghabiskan waktu bersama teman-temanku. Kami sempat bermain di Simpang Lima ditemani oleh pecel lele dan es teh khas Semarang di pinggir jalan. Terlihat sederhana, tapi itu yang aku butuhkan. Mencari sebuah kesibukan atau momen menyenangkan bersama teman-teman. Saat aku masih di sana, aku banyak sekali menghabiskan waktu travelling bersama keluarga, teman, dan saudara jauh. Itu sangat menyenangkan. Kita menelusuri Pantai Tirang, Pantai Marina, Kota Lama, Tugu Muda, Jalan Pahlawan, dan masih banyak lagi. Moment sederhana itu membuat aku lupa sejenak kalau aku pernah terluka.

Waktu terus berjalan hingga kami tumbuh pada masa yang lebih dewasa. Doa yang dulu kami aminkan bersama kini terkabul satu per satu. Aku sebagai almamater Unnes impianku, dan dia dengan pendidikannya. Aku sempat memberikan ucapan yang singkat, sebuah bentuk bangga atas proses yang pernah kami lalui, walaupun dengan cara masing-masing. Aku teringat saat-saat asing dengan perasaan yang samar. Aku bingung. Kami saling jauh dan aku masih terus menahan perasaan luka itu, tetapi ia seperti masih membutuhkanku. Terakhir aku menemaninya berlatih sebelum dia menjalani pendidikannya. Walaupun di situ aku lihat dia masih berusaha menghubungiku, perasaanku masih tetap di sana. Ya, perasaan gelap itu yang masih membuatku trauma. Aku mencintainya, tapi aku membencinya.

Ada kutipan yang kurasakan sangat nyata saat itu : “kau yang singgah tapi tak sungguh”. Aku sering bertanya-tanya untuk apa dia membawaku sejauh ini jika tujuannya hanya untuk melepaskan? Kami pernah berada dalam satu gedung yang sama, berbagi udara yang sama, namun kisah yang kami bangun ternyata hanyalah istana pasir yang tersapu ombak sebelum sempat menjadi kokoh. 

Semarang seolah menjadi galeri luka bagiku. Setiap kali aku melewati jalan Sekaran dan Patemon Gunungpati,bayangannya selalu muncul. Ketika aku melihat hal-hal kecil yang sama seperti yang aku ingat, yaitu kendaraan yang mirip milik Samudra melintas di jalanan. Melewati Kota Lama dan Gereja Blenduknya pun tak luput dari jejak kelabu ini; setiap sudut kota seolah punya cara untuk mengingatkanku pada seseorang yang membawaku jauh, lalu meninggalkanku begitu saja.

Sekarang, aku menjalani hari-hariku di kampus dengan perasaan yang sudah jauh lebih tenang, meski belum sepenuhnya pulih. Ada kalanya saat menonton bioskop bersama teman-teman atau sekadar membeli jajanan bersama di Jalan Taman Siswa, duka itu muncul lagi secara tiba-tiba. Aku senang dengan diriku yang sekarang, namun aku juga tidak bisa memungkiri bahwa masa SMA-ku akan selalu memiliki bercak kelabu. 

Kini kisah dan kotaku, aku sudah jauh lebih baik tanpa dirinya. Ada juga orang yang bilang “kalau cintanya besar, ikhlasnya juga besar”. Seperti kota Semarang, “kalau jalannya panjang, mimpinya juga harus maju lebih panjang”. Jangan pernah berhenti jatuh karena seseorang. Kami memang pernah ada dalam sebuah rasa, namun tak pernah ada dalam sebuah ikatan yang nyata. Semarang tetaplah berwarna-warni bagiku. Kota ini akan selalu menjadi saksi bisu tentang sebuah ketulusan yang pernah singgah, namun tak pernah menetap. Walaupun rasanya seperti kota ini tak sama tanpamu.(*)