Pada masa kejayaan Kerjaan Mataram Islam, ketika ibukota masih bertempat di Kotagede, Yogyakarta, wilayah ini tumbuh menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Islam yang strategis di tanah Jawa. Di bawah pemimpinan Ki Ageng Pamanahan kerajaan berkembang pesat, hingga akhirnya beliau wafat dan digantikan oleh putranya Panembahan Senopati.
Setelah Panembahan Senopati mangkat, kekuasaan beralih kepada Prabu Hadi Hanyokrowati Sedo Krapyak. Ia dikenal sebagai raja yang bijak dan memiliki banyak keturunan. Di antara anak-anaknya, yang paling terkenal adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo, namun ada juga putri ke-15 yang bernama Raden Ayu Tompe, atau dikenal sebagai Raden Ayu Wirakusuma I.
Raden Ayu Tompe menikah dengan seorang abdi mantri bumi bernama Raden Mangkuyudo, yang kemudian setelah diangkat menjadi Bupati Pasarean Imogiri, mendapat gelar Wira Kusuma I. Garis keturunan ini terus berlanjut hingga mencapai Wira Kusuma V, lalu diteruskan oleh Raden Rangga Mangku Wijoyo I.
Suatu hari, Rangga Mangku Wijoyo I duduk bersama anak lelakinya yang bernama Raden Mangkudikromo di pendopo rumahnya. Angin sore berhembus pelan, dan suara burung terdengar merdu.
“Anakku, kelak kau akan menjadi penerus keluarga kita,” ujar Rangga Mangku Wijoyo sambal menatap mata anaknya dengan penuh harap.
“Aku akan mengabdi sebaik-baiknya, Romo,” jawab Raden Mangkudikromo tegas. “Aku ingin nama keluarga kita harum seperti leluhur terdahulu kita.”
Waktu berlalu, dan meletuslah Perang Diponegoro , Raden Mangkudikromo dipercaya oleh Keraton Yogyakarta memimpin laskar di wilayah Menoreh. Kemudia ia membentuk pasukan yang dinamai Batalyon Brodjosuro, sebagai simbol semangat dan keberanian. Di tengah persiapan perang, Raden Mangkudikromo memberikan pidato kepada pasukannya.
“Wahai saudara-saudaraku! Tanah ini bukan sekedar tanah, tapi warisan nenek moyang kita. Jika kita tidak bangkit, maka siapa lagi yang akan membela kehormatan kita?”
“Betul Kyai. Kami siap mati untuk Mataran dan rakyat!” seru para prajurit dengan semangat membara.
“Segera berangkat ke medan perang, Allahu akbar!”
“ Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,” jawab para prajurit.
Setelah melewati banyak peperangan, dan ia mengemban amanah dengan penuh kesetiaan. Raden Mangkudikromo diperintahkan oleh Keraton Yogyakarta untuk menjadi seorang demang di Dusun Mungseng, Temanggung. Ia juga diperkenankan menikah dengan salah satu putri dari KGPAA Mangkunegoro bernama Raden Ayu Mangkudikrama. Dari pernikahan itu, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Kyai Puspa Dikrama Penatus.
Namun, seiring berjalannya waktu, tubuh Kyai Brodjosuro melemah karena usia dan perjuangan panjangnya. Di ranjang peristirahatan terakhirnya di Mungseng, ia memanggil anaknya.
“Anakku, Puspo,” bisiknya lemah.
“Ya, Ayah. Aku di sini,” jawab Puspo.
“ Kelak jika aku tiada, jangan kuburkan aku di tempat yang dilalui manusia. Carilah tempat yang sunyi, yang di atasnya taka da desa. Biarkan aku istirahat dengan tenang,” minta Kyai Brodjosuro.
“Aku akan memenuhi wasiatmu, Ayah” jawab Puspo dengan air mata yang jatuh membasahi tangan sang Ayah.
Setelah wafatnya Kyai Brodjosuro, jenazah beliau dikebumikan di suatu tempat sunyi di Ndayan, Desa Losari. Sejak saat itu, tempat tersebut dikenal sebagai Makam Ndayan atau Makam Brodjosuro.
Jabatan demang Mungseng kemudian diwarisi oleh Kyai Puspo dikromo, yang menyandang gelar Penatus, yang berarti pemimpin serratus orang. Ia memimpin dengan bijaksana, meneruskan semangat leluhurnya dalam membela rakyat dan menegakkan keadilan.(*)
Oleh Muhammad Husni Nugraha