Di Antara Hamparan Hijau Kebun Teh Jamus 

Oleh Lala Jingga M.W

Pagi itu, matahari terbit dengan cerah. Suasana pagi yang cerah membuat diriku semakin semangat untuk pergi bersama teman-temanku. Benar sekali! Kami ingin pergi ke Kebun Teh Jamus di Ngawi. Siapa sangka kami bertiga sama-sama menyukai wisata alam! Kami sudah merencanakannya dengan baik dan kami sudah mempersiapkan barang-barang yang akan kami bawa nanti. Bagi kami, hal yang paling menyenangkan tinggal di kota kecil adalah wisata alam yang hijau dan asri. Kebetulan masa sekolah sudah ingin berakhir. Kami merasa ini adalah rencana yang tepat untuk bersenang-senang sebelum kami sibuk dengan dunia dan kesibukan kami ke depannya. Pagi ini aku sudah siap untuk berangkat bersamamu, tentu saja dengan motor kesayanganku ini.

Tak banyak yang kami bincangkan selama perjalanan. Sama-sama, berangkat menggunakan motor kami. Selama perjalanan aku mendengarkan musikku melalui earphone. Alunan musik menemaniku saat perjalanan, tapi aku harus tetap berhati-hati karena aku sedang mengendarai sepeda motor milikku. Kami melewati perkebunan karet milik warga yang terbentang luas. Vila yang di bangun indah ala arsitektur jawa. Serta rumah warga yang terletak di pedesaan serta di kelilingi sawah. Cukup indah untuk memanjakan kedua mataku.

Sesampainya di gerbang Kebun Teh Jamus sekitar pukul sebelas siang, kami langsung disambut hamparan hijau tanaman teh yang membentang luas hingga lereng Gunung Lawu. Udara dingin menusuk tulang terasa begitu menyegarkan setelah perjalanan panjang, sementara aroma daun teh basah khas langsung memenuhi hidung kami. Banyak sekali kami menjumpai pekerja yang sedang memetik teh. Kami juga melihat banyak warung yang menjual berbagai macam jenis teh khas kebun teh Jamus. 

Tanpa basa-basi lagi, kami menuju tempat parkir khusus pengunjung yang akan berkemah. Pihak pengelola kebun teh sudah menyiapkan tenda glamping yang nyaman di area perkemahan resmi, lengkap dengan alas tebal dan pemandangan langsung ke jalur trekking Tangga Langit. Kami tinggal menaruh tas dan memeriksa fasilitas seperti matras serta lampu emergency, siap menikmati sunset sore nanti. Sesampainya di tenda, kami menaruh barang dengan rapi. Kami menyiapkan daging yang akan kita panggang saat sore nanti sembari menikmati sunset

Setelah selesai menyiapkan makanan dan barang di tenda, kami mengobrol bersama sambil menikmati makanan ringan yang kami beli di minimarket. Cuaca yang cerah dan udara yang segar membuat suasana menjadi asyik. Tidak lupa kami juga berfoto di kebun teh yang indah dan melakukan banyak hal seru lainnya. Kami mulai menjelajahi kebun teh dengan trekking ringan menyusuri jalan kayu elevated yang meliuk di antara barisan tanaman hijau. 

Pepohonan pinus tinggi menaungi jalur, disertai kabut tipis yang perlahan menghilang di bawah sinar matahari. Aku sibuk mengabadikan momen dengan kamera ponselku. Tawa kami menggema bebas, menikmati keindahan alam Ngawi yang tenang sebagai penutup manis momen kebersamaan kami sebagai anak sekolah, sebelum memulai hal baru nantinya ketika kami semua sudah lulus sekolah dan mengambil jalan kami masing-masing. Sangat disayangkan waktu itu sangat cepat berlalu. Rasanya begitu cepat.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Kami kembali ke tenda dan bersiap mandi di kamar mandi bersama pengelola yang bersih dan airnya dingin menyegarkan. Setelah berganti pakaian yang hangat, kami menyalakan kompor kecil yang sudah disediakan oleh pihak kebun. Daging yang sudah dimarinasi sejak pagi mulai dipanggang di atas kompor. Aroma menggugah selera bercampur dengan wangi teh yang baru diseduh dari daun segar. Wanginya sangat membuatku lapar, terlebih cuaca di sini dingin. Tentu saja kami akan semakin cepat merasa lapar.

Sore itu menjadi momen paling indah saat matahari perlahan tenggelam di balik lereng Gunung Lawu, mewarnai hamparan kebun teh jingga keemasan. Kami duduk melingkar sambil menyanyi-nyanyi lagu favorit menggunakan gitar akustik milikku. Obrolan ringan tentang rencana kuliah, kenangan SMA, dan janji untuk tetap berteman meski terpisah kota membuat suasana hangat. Di bawah langit senja Kebun Teh Jamus, momen ini justru terasa seperti awal dari sesuatu yang ingin kami mulai.

Malam semakin larut. Bintang-bintang bertaburan di langit gelap lereng Gunung Lawu. Tiada bosannya kami melanjutkan obrolan sambil membakar marshmallow. Tak habis-habisnya, topik pembicaraan kami selalu ada. Kami melanjutkan dengan sesi cerita horor tentang hantu petani teh zaman Belanda yang konon masih berkeliaran di kebun. Tawa dan jeritan campur aduk menggema, diiringi hembusan angin dingin yang membawa aroma pinus dan daun teh basah. Kami tampak menikmati suasana itu, tanpa beban dan sangat ringan bercanda tawa Bersama

Kami akhirnya masuk ke tenda glamping sekitar pukul sembilan malam, berbaring di matras tebal sambil main kartu Uno di bawah cahaya lampu emergency. Hujan gerimis mulai turun. Suaranya di atap tenda justru menambah suasana nyaman seperti lagu pengantar tidur. Rasanya sangat nyaman. Suasana dingin benar-benar mengajak kami agar terlelap. Tak lama kami pun tertidur lelap dengan kartu Uno yang masih berantakan di mana-mana.

Pagi berikutnya, kabut begitu tebal menyelimuti kebun teh seperti selimut putih yang lembut, membangunkan kami pukul enam dengan udara segar yang dingin menusuk tulang. Aroma tanah basah bercampur dengan embun pagi terasa begitu alami, sementara suara burung walet berkicau dari pepohonan pinus menambah suasana pagi yang baru. Kami bangun dengan malas-malasan. Setelah kami sudah saling mengumpulkan kesadaran, kami merebus air untuk teh tubruk dari daun segar kemarin, yang disandingkan dengan mi instan panas dan roti bakar yang kami beli di warung pengelola. Nikamat adalah kata yang sangat cocok untuk momen itu. Udara dingin yang segar ditambah makanan dan minuman yang hangat sangat sepadan.

Sebelum check-out pukul sepuluh, kami sempat bermain di lapangan rumput basah dekat kandang rusa. Dan foto bersama di Tangga Langit jadi penutup sempurna, lengkap dengan belanja oleh-oleh teh hijau premium dan teh orth yang wangi. Langkah untuk pergi ke parkiran terasa berat. Rasa nyaman, momen ini akan sangat mahal untuk didapatkan.Tetapi tidak apa-apa, tiap libur panjang nanti kami bisa bermain Bersama Kembali. Itu membuat senyumku kembali merekah. Kebun Teh Jamus telah masuk kedalam momen kami bersama.(*)