Oleh Nur Mazroatun Nikmah
Sebuah tradisi adalah suatu hal sakral yang biasanya dimiliki oleh setiap daerah di Indonesia, dan biasanya sebisa mungkin tradisi tersebut dipertahankan dan dijaga kelestariannya oleh masyarakat sekitar. Begitu juga dengan Kab. Demak, masyarakat Demak memiliki tradisi malam Jumat Kliwonan yang biasanya diselenggarakan di Makam Kadilangu, dengan melangsungkan tahlil dan doa bersama ke makam salah satu wali Allah swt yang berada di sana, yakni Sunan Kali Jogo.
Tradisi Kliwonan berakar dari masa Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, yang memanfaatkan malam Jumat Kliwon, hari yang dianggap sakral oleh masyarakat Jawa untuk berdakwah dan mengajak masyarakat beribadah.
Pada hari Kamis, setiap malam Jumat Kliwon yang dikeramatkan, keluarga kami pasti akan berziarah ke makam Sunan Kalijaga. Setelah magrib, sekitar pukul 18.50 biasanya kami sudah dalam perjalanan ke Kadilangu. Ada perasaan campur aduk setiap kali dalam perjalanan: cemas karena ramainya jalan raya, senang karena berziarah, dan perasaan semangat.
Biasanya perjalanan memerlukan waktu sekitar 30 menit, hingga kami tiba pada pukul 19.20. Setibanya di Kadilangu setelah memarkir motor dengan aman, kami memasuki wilayah makam. Di sisi kanan dan kiri kami sangat ramai oleh penjual makanan, oleh-oleh dan lain-lain. Lampu-lampu dan kios mereka berkilauan memantul pada aksesori, tasbih, dan pakaian-pakaian yang digantung, membuat suasana malam sangat hidup dan meriah. Karena malam Jumat Kliwon, tempat ini menjadi sangat ramai sehingga sulit untuk berjalan karena harus mengantre. Banyak peziarah dari daerah lain yang membawa rombongan dengan bus-bus besar sehingga tempat ini menjadi semakin padat. Banyak sekali aksesori yang tergantung dengan indah dan berkilauan. Malam Jumat Kliwon selalu membawa suasana yang berbeda di Kadilangu.
Kepadatan ini terjadi bukan tanpa alasan. Kepadatan ini salah satu faktornya karena pintu makam ditutup dan biasanya baru dibuka setelah Isya. Hal tersebut menyebabkan orang-orang berkumpul di pusat oleh-oleh terlebih dahulu. Para peziarah memilih untuk berbelanja atau sekadar duduk-duduk santai, menunggu waktu sakral itu tiba dengan sabar.
Setelah Isya, barulah para peziarah memasuki makam dan akhirnya kami pun turut serta. Begitu azan Isya usai berkumandang, gelombang manusia mulai bergerak masuk ke area dalam makam. Di sana, pemandangan berubah drastis menjadi lebih formal dan berwibawa. Di dalam, ada banyak orang yang mengenakan beskap seperti hendak melakukan sesuatu yang sakral, seolah-olah sedang bersiap melakukan sebuah upacara kerajaan yang sangat penting.
Di dalam area inti, kami duduk bersila di tengah kerumunan yang tenang namun intens. Suara gumam doa, pembacaan tahlil, dan lantunan surat Yasin menyatu menjadi dengung yang menggetarkan dada. Di bawah temaram lampu, setiap orang tampak khusyuk, sejenak melupakan urusan dunia demi mendekatkan diri pada Sang Pencipta melalui wasilah sang wali. Di sekitar kami banyak peziarah yang melakukan hal yang sama.
Setelah prosesi doa selesai, kami perlahan bergerak menuju pintu keluar yang melewati deretan makam keluarga dan kerabat Sunan. Di satu sudut, terdapat sebuah sumur tua yang dipercaya telah berusia ratusan tahun. Setelah itu, kami berjalan menuju pintu keluar. Di sana terdapat banyak makam lainnya dan juga sebuah sumur tua yang usianya diperkirakan sudah puluhan bahkan ratusan tahun. Banyak sekali orang yang mengantre untuk meminum air tersebut, mungkin karena cerita yang beredar di masyarakat bahwa air tersebut mujarab dan memiliki karamah.
​Saat melangkah lebih jauh, indera penciuman saya disambut oleh aroma dupa yang terbakar tajam, menyatu dengan bau kemenyan yang berat dan tumpukan bunga mawar serta melati di atas nisan-nisan tua. Suasana khidmat seketika berubah menjadi sedikit misterius, seolah-olah sejarah masa lalu sedang berbisik di antara kepulan asap dupa tersebut.
Saya segera pergi dan keluar dari area makam, lalu berjalan ke pusat oleh-oleh hingga ke masjid. Di sekitar masjid, banyak penjual makanan seperti siomay, sosis bakar, bakso bakar, dan lain-lain. Aroma siomay, sosis bakar, dan bakso bakar yang menggugah selera membuat saya tertarik untuk mencicipinya. Saya duduk di sekitar masjid sebentar, lalu saya menyempatkan diri melihat-lihat deretan pakaian dan aksesori yang berkilauan, meski akhirnya memutuskan untuk segera pulang karena malam semakin larut.
Perjalanan pulang terasa lebih tenang setelah berdesakan dengan puluhan peziarah lainnya. Di sepanjang jalan pulang saya melihat banyak sekali orang berjualan dan berlalu-lalang. Saya memilih rute memutar melewati alun-alun kota yang diterangi kerlap-kerlip lampu hias yang cantik. Meski biasanya kami mampir sejenak untuk menikmati suasana kota, malam ini kami memilih untuk langsung pulang dan beristirahat di rumah.(*)