Desaku dan Arti Sebuah Kehidupan

Oleh Viola Mardika Rahma

Aku tinggal di sebuah desa kecil yang cukup jauh dari keramaian kota. Desa ini dikelilingi oleh pepohonan mulai dari nangka, kapuk, serta kedondong, dengan jalan-jalan kecil yang menghubungkan satu rumah ke rumah lainnya. Di pagi hari, udara terasa sangat sejuk dan suara ayam berkokok menjadi alarm alami yang membangunkanku setiap hari. Setiap pagi, aku melihat para petani berjalan menuju sawah dengan membawa alat-alat mereka. Wajah mereka terlihat sederhana, namun penuh semangat. Mereka bekerja dari pagi hingga siang, berharap hasil panen mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari mereka, aku belajar tentang kerja keras dan kesabaran. Tidak hanya itu suara ketokan palu dan suara melengkingpun terdengar jelas yang berasal dari beberapa mesin kayu

Kehidupan di desaku sangat menjunjung tinggi kebersamaan. Jika ada warga yang mengadakan hajatan, semua tetangga pasti datang membantu. Ibu-ibu biasanya memasak bersama di dapur besar, sementara bapak-bapak membantu mendirikan tenda atau mengatur tempat. Tidak ada yang merasa terbebani karena semua dilakukan dengan rasa ikhlas serta rasa kekeluargaan.

Sore hari adalah waktu yang paling aku tunggu. Anak-anak bermain di lapangan, berlarian, tertawa, dan menikmati masa kecil mereka tanpa gangguan gadget. Banyak sekali yang aku lakukan bersama teman-teman, mulai dari bersepeda, mancing, tak lupa menyusuri sawah. Pemandangan matahari terbenam di balik sawah merupakan hal yang nyata dan menjadi momen yang selalu membuatku bersyukur karena aku tahu kejadian sekecil apa pun tak akan pernah terulang kembali meskipun pada orang yang sama. 

Namun, seiring berjalannya waktu, desaku mulai mengalami perubahan. Dulu bambu blarak banyak dicari untuk membuat mainan, tetapi anak sekarang bahkan enggan melihatnya. Banyak pemuda yang memilih untuk merantau dengan alasan penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan dengan di desa.  Masyarakat desa juga sudah sedikit berubah. Dulu, setiap ketemu orang, berpapun umurnya, pasti akan menyapa, tapi beberapa dari masyarakat desa sekarang tak satu kata pun terucap. Beberapa rumah bahkan dibiarkan kosong karena ditinggal penghuninya. 

Selain itu, perkembangan teknologi yang belum merata juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua warga memahami cara menggunakan teknologi dengan baik. Ditambah dengan kemajuan infrastruktur, yakni jalan tol, masyarakat semakin jauh karena digusurnya rumah dan lahan yang dulunya menjadi tempat bermain. Hal ini membuat interaksi antarmasyarakat semakin berkurang.

Aku pernah merenung, jika semua anak muda di desa memilih merantau, bahkan sampai lupa dengan kampung halaman, maka siapa yang akan meneruskan semuanya? Aku juga merasa khawatir apakah suatu hari nanti desaku akan benar-benar berubah dan kehilangan kehangatannya. Apakah kebersamaan yang selama ini kami jaga akan perlahan hilang?

Namun, di balik semua kekhawatiran itu, aku menyadari bahwa desaku masih memiliki banyak hal yang tidak dimiliki kota. Rasa kekeluargaan yang erat, kepedulian antarwarga, dan ketenangan hidup meskipun sekarang ada beberapa masyarakat yang sudah berbeda, tetapi semua itu adalah hal-hal yang sangat berharga. Setiap senyuman dan sapaan hangat dari tetangga menjadi bukti bahwa kebersamaan itu ada.

Aku percaya, meskipun zaman terus berubah, nilai-nilai yang ada di desaku tidak akan hilang begitu saja. Justru, sebagai generasi muda, aku merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya. Aku ingin nilai-nilai yang ada dikenal dan dilestarikan secara turun-menurun, dengan begitu nilai tersebut akan menjadi ciri khas dari desa aku.

Selain itu, desaku juga memiliki banyak tradisi yang masih dilakukan sampai sekarang. Setiap ada perayaan, masyarakat berkumpul untuk membantu melaksanakan kegiatan seperti memasak, kerja bakti, pengajian atau acara syukuran. Tradisi-tradisi tersebut bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga mengandung makna yang berbeda pada setiap tradisi dan menjadi cara untuk mempererat hubungan antarmasyarakat. Dari situ, aku belajar bahwa kebersamaan tidak hanya diciptakan, tetapi juga harus dijaga.

 Aku berharap desaku tidak kehilangan jati diri ke depannya. Kemajuan teknologi dan infrastruktur itu bagus, tetapi nilai kebersamaan dan nilai kepedulian harus tetap dipertahankan. Aku berharap suatu hari nanti aku dapat berkontribusi secara langsung di desaku, sekecil apa pun itu.

Bagiku, desaku bukan hanya tempat aku tinggal, tetapi juga tempat aku belajar tentang kehidupan. Di tengah dunia yang keras ini, desa mengajarkanku arti kebersamaan, kerja keras dan rasa syukur. Sejauh apa pun aku pergi nanti, desaku akan selalu menjadi tempat aku pulang.(*)