Oleh Raihan Antero Alkautsar
Namaku Raihan. Aku ingin menceritakan perjalanan hidupku —perjalanan yang cukup panjang dan tidak mudah, tapi perlahan membentuk diriku menjadi seperti sekarang.
Aku lahir pada 12 Juni 2007. Saat kecil, aku adalah anak yang ceria, bisa tertawa dengan mudah dan tidak terlalu memikirkan bagaimana orang lain melihatku. Hidup terasa ringan, sampai akhirnya semuanya mulai berubah saat aku masuk sekolah dasar.
Di masa SD, aku mulai mengenal ejekan dan hinaan. Aku memiliki kulit yang gelap dan tubuh yang kurus, dan itu menjadi bahan olokan bagi teman-teman seangkatanku bahkan kakak kelas. Mereka sering memanggilku dengan sebutan “aspal”, seolah itu hal yang lucu.
Awalnya aku mencoba menganggap itu biasa saja. Aku pikir itu hanya candaan anak-anak. Namun, ejekan itu tidak berhenti. Justru semakin sering, semakin tajam, dan semakin membuatku merasa berbeda dari yang lain.
Hinaan itu berlangsung sangat lama —sekitar 9.5 tahun, dari SD hingga SMA semester 1. Kata-katanya mungkin sama, tapi dampaknya semakin dalam. Aku mulai kehilangan rasa percaya diri dan merasa rendah di hadapan orang lain.
Perlahan, aku berubah menjadi pribadi yang lebih pendiam dan tertutup. Aku takut berinteraksi, takut dihakimi, dan selalu merasa tidak cukup baik. Pikiran-pikiran negatif mulai sering muncul dalam kepalaku.
Meskipun begitu, aku masih memiliki beberapa teman dekat yang tetap bersamaku. Aku sering menghabiskan waktu di rumah salah satu dari mereka, tempat di mana aku bisa sedikit merasa aman dan diterima.
Disaat itu, pernah sekali aku bermain ke tempat salah satu temanku, aku mulai mengungkapkan isi pikiranku yang paling gelap kepada temanku. Aku pernah berkata, “Kalau aku mengakhiri hidup, gimana ya?” atau “Apa lebih baik aku selesai saja?” (maksudnya: bunuh diri). Temanku selalu menolak pikiran itu, tapi saat itu aku benar-benar merasa lelah.
Sampai suatu hari, dua temanku datang ke rumahku. Saat sedang ngobrol bersama, salah satu dari mereka bertanya, “Kamu nggak capek terus-terusan diejek?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi membuatku sadar bahwa aku memang sudah sangat muak dengan keadaan ini.
Saat itu aku merasa tidak punya kekuatan untuk melawan. Tapi mereka tidak membiarkanku terus seperti itu. Mereka mengajakku pergi ke gym, sesuatu yang awalnya tidak pernah terpikirkan olehku.
Seiring waktu berjalan, satu tahun setelah aku mulai latihan, banyak hal berubah. Bukan hanya fisikku, tapi juga cara pandangku terhadap diri sendiri. Aku mulai merasa lebih kuat, lebih percaya diri, dan lebih mampu menerima diriku apa adanya.
Sekarang, aku mungkin belum sempurna. Tapi aku sudah jauh dari titik terendahku dulu. Dari cerita ini, aku hanya ingin berterima kasih —terutama kepada tiga temanku yang tetap ada di sampingku saat aku berada di titik paling rendah. Tanpa mereka, aku mungkin tidak akan sampai sejauh ini.(*)