Oleh Titan Bimo Nugroho
Aku masih mengingat dengan jelas masa-masa di SMP PGRI Kota Bekasi, sebuah sekolah yang berada di dalam kawasan perumahan militer Angkatan Darat. Setiap pagi, suasana di sana selalu khas dengan suara peluit komandan, derap langkah tentara, dan barisan rapi yang melintas. Lingkungan sekolah terasa disiplin, namun tetap memiliki kehangatan tersendiri bagi para siswa. Di tempat itulah, cerita yang tidak pernah aku lupakan dimulai. Cerita tentang masa remaja, tentang perasaan baru, dan tentang seseorang yang mengubah cara pandangku terhadap sepucuk rasa bernama cinta.
Hari pertama masuk sekolah, aku hanyalah siswa biasa yang belum mengenal siapa pun. Aku berdiri di barisan upacara dengan perasaan canggung, mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Sampai akhirnya, pandanganku tertuju pada seorang perempuan di barisan sebelah. Rambutnya pendek, kulitnya putih bersih, dan senyumnya begitu manis, seperti madu yang dihinggapi banyak lebah. Sejak saat itu, tanpa aku sadari, perhatianku selalu kembali kepadanya.
Namanya Dewi. Nama yang sederhana, tetapi terasa begitu berarti bagiku sejak pertama kali aku mendengarnya. Aku mulai mencari tahu tentang dirinya, dari teman sekelas hingga sekadar memperhatikan kebiasaannya di sekolah. Setiap gerak-geriknya terasa menarik untuk diperhatikan. Entah kenapa, ada perasaan hangat yang muncul setiap kali aku melihatnya. Perasaan yang saat itu belum sepenuhnya aku pahami.
Kedekatan kami bermula dari sebuah lomba debat yang didaftarkan oleh guru. Kami ditempatkan menjadi satu pasangan secara kebetulan, dan dari situlah percakapan pertama kami dimulakan. Awalnya hanya membahas pelajaran, tetapi perlahan berubah menjadi obrolan santai tentang hal-hal lain. Kami mulai bertukar cerita tentang hobi, musik, dan kehidupan sehari-hari. Dari situ, aku menyadari bahwa kami setidaknya memiliki 1001 kesamaan.
Hari-hari di sekolah terasa berbeda sejak aku mengenalnya lebih dekat. Setiap jam pelajaran terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Waktu istirahat menjadi momen yang paling aku tunggu karena bisa berbincang dengannya adalah suatu kesenangan sendiri bagiku. Kami sering duduk bersama di bangku dekat lapangan, tertawa tanpa alasan yang jelas. Kebersamaan itu terasa sederhana, tetapi sangat berarti bagiku. Hangat, aku berharap ini berlangsung selamanya.
Perlahan, aku mulai menyadari bahwa perasaan ini bukan sekadar suka biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuatku selalu memikirkannya. Inilah pertama kalinya aku merasakan apa yang disebut sebagai jatuh cinta. Perasaan yang membuat hati terasa penuh, tetapi juga rentan. Aku mulai memahami bahwa cinta tidak selalu sederhana.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ada kenyataan yang tidak bisa aku abaikan. Kami memiliki perbedaan yang cukup besar dalam hal keyakinan. Aku seorang Muslim, sedangkan Dewi seorang Kristen. Awalnya aku menganggap hal itu bukan masalah, karena kami tetap bisa bersama dan saling memahami. Aku memilih untuk mengabaikan perbedaan itu.
Seiring berjalannya waktu, perbedaan itu mulai terasa semakin nyata. Bukan karena kami berubah, tetapi karena kami semakin dewasa dalam memahami keadaan. Kami mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak akan semudah yang kami bayangkan. Ada batas-batas yang tidak bisa kami lewati begitu saja. Dan di situlah, perasaan bahagia mulai bercampur dengan kegelisahan.
Suatu sore sepulang sekolah, kami duduk bersama seperti biasa, tetapi suasananya berbeda. Tidak banyak kata yang terucap di antara kami. Hanya ada keheningan yang seakan berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Kami sama-sama memahami apa yang harus dilakukan, meskipun tidak ada yang benar-benar ingin mengatakannya. Hati kami saling terhubung, tetapi jalan kami berbeda.
Akhirnya, kami memilih untuk berpisah. Bukan karena kami tidak saling mencintai, melainkan karena kami terlalu memahami kenyataan. Kami sadar bahwa keyakinan adalah hal yang tidak bisa dipaksakan. Air wudu dan air baptis tidak dapat disatukan dalam satu jalan yang sama. Dan pada akhirnya, yang tersisa hanyalah air mata.
Hari itu menjadi akhir dari kisah kami. Cinta pertama yang indah harus berakhir dengan cara yang pahit. Aku belajar bahwa tidak semua yang kita cintai bisa kita miliki. Namun, kenangan tentang Dewi akan selalu tersimpan dalam ingatanku. Dan setiap kali aku mengingat SMP PGRI Kota Bekasi, sekolah di tengah perumahan militer itu, aku tidak hanya mengingat bangunannya atau suasananya, tetapi juga kisah pertama tentang cinta dan kehilangan yang pernah tumbuh di sana. (*)