Oleh Meliza Indri Lestiani
Aku (Meliza) bersama temanku Vebi, akhirnya memiliki kesempatan untuk mengunjungi Makam Sunan Kudus dalam rangka berziarah. Perjalanan ini sudah lama kami rencanakan karena kami ingin merasakan langsung suasana tempat bersejarah yang penuh nilai religi tersebut.
Sejak perjalanan dimulai, aku merasa sangat antusias. Di sepanjang jalan, aku dan Vebi banyak berbincang tentang sejarah serta kisah-kisah yang pernah kami dengar. Kami membayangkan bagaimana suasana di sana dan seperti apa pengalaman yang akan kami rasakan saat berziarah.
Ketika kami semakin mendekati lokasi, suasana mulai terasa berbeda. Jalanan terlihat lebih ramai dengan para peziarah yang datang dari berbagai daerah. Hal ini membuatku semakin yakin bahwa tempat ini memang memiliki daya tarik spiritual yang kuat.
Sesampainya di area makam, kami melihat pintu gerbang yang menjadi akses masuk utama. Kami berhenti sejenak, mengatur langkah, dan mencoba menenangkan diri sebelum masuk. Ada perasaan haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Kami pun melangkah masuk dengan sikap yang lebih sopan dan penuh rasa hormat. Udara di dalam area makam terasa sejuk dan menenangkan. Suasana yang hening membuat hati terasa damai dan pikiran menjadi lebih jernih.
Saat berjalan menyusuri jalan setapak, kami melewati makam-makam para tokoh yang dikenal sebagai orang-orang berilmu. Aku merasa kagum sekaligus tersentuh, membayangkan jasa dan perjuangan mereka dalam menyebarkan ajaran kebaikan.
Aku dan Vebi berjalan perlahan sambil sesekali memperhatikan sekitar. Banyak peziarah yang berdoa dengan khusyuk, ada juga yang duduk diam merenung. Suasana religius yang kuat membuat kami ikut larut dalam ketenangan tersebut.
Akhirnya, kami sampai di bagian inti, yaitu makam Sunan Kudus. Kami pun berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon kebaikan, kesehatan, serta ketenangan hati. Momen itu terasa sangat menyentuh dan memberikan kedamaian dalam hati.
Setelah selesai berdoa, kami melanjutkan perjalanan dengan melihat-lihat lingkungan sekitar. Tidak jauh dari makam, berdiri megah Menara Kudus yang menjadi ikon kota Kudus dengan bentuknya yang unik dan bersejarah.
Kami juga melihat Masjid Al-Aqsha Menara Kudus yang berada tidak jauh dari menara. Masjid tersebut masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah, dan suasananya terasa sangat khusyuk serta penuh kedamaian.
Setelah itu, kami berjalan ke area sekitar makam yang cukup ramai. Banyak pedagang yang menjajakan berbagai barang, mulai dari makanan hingga perlengkapan bernuansa Islami. Suasana menjadi lebih hidup dengan aktivitas jual-beli.
Aku dan Vebi melihat berbagai jajanan khas daerah tersebut. Salah satu yang paling menarik perhatian kami adalah Jenang Kudus yang terkenal dengan rasa manis dan teksturnya yang khas. Kami pun tertarik untuk mencobanya.
Selain makanan, terdapat juga berbagai barang seperti tasbih, peci, mukena, dan aksesoris lainnya. Kami memilih beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan dari perjalanan ini.
Setelah selesai berkeliling, kami duduk sejenak untuk beristirahat sambil menikmati suasana sekitar. Aku merasa perjalanan ini bukan hanya sekadar kunjungan biasa, tetapi juga pengalaman batin yang sangat berharga.
Perjalanan ziarah ini memberikan banyak pelajaran bagiku, terutama tentang pentingnya menghargai sejarah, ilmu, dan perjuangan para tokoh terdahulu. Aku juga merasa lebih tenang dan bersyukur setelah melewati pengalaman ini.
Akhirnya, kami pun bersiap untuk pulang. Aku merasa sangat bersyukur bisa mengunjungi Makam Sunan Kudus bersama Vebi. Pengalaman ini akan selalu kuingat sebagai salah satu momen paling berkesan dalam hidupku.(*)