Oleh Resti Dwi Handayani
Pada liburan tahun lalu saya dan sekeluarga sepakat untuk sama-sama meluangkan waktu dan berlibur ke Pantai Menganti. Ini bukan kali pertama saya berlibur ke Pantai Menganti, seperti yang dikatakan banyak orang bahwa pantai itu indah dan rindu akan selalu membawaku kembali. Semua orang harus membuktikan bahwa keindahannya benar apa adanya, meskipun banyak juga isu bahwa perjalanan menuju ke sana sangat ekstrem, karena melalui pergunungan yang jalannya berliku dan menanjak-menurun yang sangat menguji kesabaran. Mungkin itu juga yang menjadi tantangan untuk menuju ke Pantai Menganti. Namun di setiap perjalanan ada janji keindahan yang menunggu di ujung sana.
Pantai Menganti berada di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Tepatnya berada di daerah selatan yang langsung berbatasan dengan Samudera Hindia. Pantai Menganti merupakan ikon wisata utama di Kebumen. berbeda dengan pantai lainnya, pantai ini diapit oleh tebing-tebing curam yang subur. Kontras antara birunya laut yang cemerlang dan tebing karst hijau yang menawan disertai hamparan pasir putih yang terbentang luas adalah pemandangan yang benar-benar indah dan memukau.
Saat saya ke sana bersama keluarga, kami menempuh perjalanan sekitar 47 menit dari rumah kami. Selama perjalanan menuju lokasi kami mendengarkan alunan musik, namun suasana menjadi sedikit tegang ketika kendaraan yang kami tumpangi ini akan melaju menanjak. Namun kami percaya pada keahlian ayah saya dalam menyetir, karena sudah bertahun-tahun melayani keluarga kami ke mana saja. Sampailah kami di turunan terakhir. Sungguh dari sini keindahannyan sudah terlihat menakjubkan, membuat saya tidak sabar untuk segera turun dan menyusuri semua sisi Pantai Menganti. Setelah sampai ayah saya langsung memarkirkan kendaraan pada tempat yang sudah disediakan pengelola.
Saya berdiri di pinggiran pantai cukup lama karena takjub melihat pemndangan yang ada di depan mata saya saat ini. Sungguh sangat indah, dan saya bergumam ini adalah spot foto yang sangat alami dan indah, sehingga saya langsung memotret beberapa foto diri dengan kakak perempuan saya. Ayah saya yang saat itu berada di samping saya berkata, “Ndeleng ngene rasane luwih tentrem.” (lihat seperti ini rasanya lebih tenang). Saya pun setuju mengingat hiruk-pikuknya kehidupan. Tak lama kemudian Ibu memanggil kami untuk mengantre shuttle yang menuju bukit. Shuttle yang disediakan tentu saja gratis.
Udara yang segar, angin laut yang berembus lembut dan suara deburan ombak yang terdengar jelas membuat kami semua terdiam sejenak. Angin yang menyentuh wajahku terasa seperti membawa ketenangan, seolah semua beban pikiran perlahan menghilang sejenak bersama hembusannya. Kami pun tiba di pos yang ada di bukit, kami melanjutkan perjalanan untuk menuju beberapa spot seperti Mercusuar Tanjung Karangbata, Jembatan Merah, Lembah Menguneng dan Tebing Bidadari. Langkah demi langkah kami lalui dengan bersama, kakak perempuanku beberapa kali mengajakku bercanda, membuat suasana semakin hangat, sementara ayah dan ibu berjalan lebih santai dibelakang kami. Dimomen sederhana ini, saya merasa benar-benar bahagia tanpa alasan yang rumit.
Pemandangan Pantai Menganti terlihat jauh lebih luas dan megah. Laut tampak seperti bentangan tanpa batas dan garis pantainya terlihat lebih indah dari ketinggian. Setelah cukup lama menikmati pemandangan dari sini, kami melanjutkan perjalanan menuju Mercusuar Tanjung Karangbata, tiba di lokasi kembali memotret beberapa foto dengan angle yang cahayanya sangat bagus dengan latar belakang mercusuar yang menjulang tinggi berwarna dominan putih dan dikelilingi oleh pagar yang juga berwarna putih, sesekali kami tertawa saat hasilnya kurang sesuai karena angin yang cukup kencang.
Setelah cukup puas di mercusuar, kami menuju spot selanjutnya yaitu Jembatan Merah, sesuai namanya jembatan itu berwarna merah dan dikelilingi batu-batuan karang yang cadas, jembatan itu membentang diantara lautan disekelilingnya. Saat berada disini kami dapat melihat gubuk-gubuk diatas Tanjung Karangbata dengan paduan pohon kelapa. Jembatan merah ini juga merupakan spot foto yang paling ikonik di Pantai Menganti, sehingga banyak wisatawan antre untuk mengambil foto. Namun, sesekali juga ada efek gebyuran air keatas diantara bebatuan yang disebabkan oleh ombak yang cukup besar.
Di sebelah barat Jembatan Merah juga terdapat Menganti Waterspot yang bari dibuka akhir-akhir ini dan menjadi ikon baru wisata air sehingga menjadi daya tarik tambahan. Wahana ini menawarkan aktivitas pacu adrenalin seperti jetski, speedboat dan sarana rekreasi laut lainnya untuk menjelajahi tebing dari laut, namun jika ingin menaiki wahana ini diperlukan reservasi terlebih dahulu, untuk menghindari antrean, tersedia beberapa paket untuk semua level, mulai dari pemula hingga profesional. Wisata ini tentunya aman karena difasilitasi lengkap dengan pelampung dan watershoes, namun perlu pastikan untuk mematuhi tips keselamatan yang diberikan oleh petugas.
Setelah kami puas menjelajah hampir seluruh sisi pantai, akhirnya kami memutuskan untuk singgah sejenak di warung makan yang ada di area sekitar pos shuttle untuk turun. Perut kami sudah mulai terasa lapar setelah berjalan cukup jauh. Ibu berkata “maem sek ben kuat maneh” (makan dulu biar kuat lagi). Kami pun duduk bersama, menikmati hidangan khas laut dengan pemandangan laut. Menurut saya makan dengan suasana seperti ini jauh lebih nikmat dibandingkan biasanya, apalagi bersama keluarga. Di warung-warung juga banyak yang menjual ikan laut yang masih segar dan ditangkap langsung oleh nelayan setempat.
Setelah selesai makan, kami kembali mengantre shuttle untuk turun, sepanjang perjalanan, kami melihat banyak kapal-kapal milik nelayan setempat yang berjejer rapi di sisi pantai, melihat pemandangan ini sungguh seperti lukisan yang nyata dan saya tidak berhenti untuk takjub dan saya sempat mendengar bahwa kapal tersebut bisa disewa untuk melihat tebing-tebing dari jarak dekat di atas air, bayangan itu saja sudah terasa begitu indah. Menurut info yang beredar, nelayan setempat juga rutin mengadakan tradisi sedekah laut sebagai wujud syukur atas rezeki dari hasil tangkapan ikan.
Sesudah kami sampai di bawah, saya menyempatkan mampir sebentar membeli jajanan dari pedagang kaki lima yang banyak berjejer disekitar tempat parkir, lalu menikmati jajanan itu bersama sembari melihat banyak anak-anak bermain disekitar pantai, entah itu bermain pasir atau bermain papan selancar. Ditengah-tengah momen itu ayah saya memberitahu kami bahwa sebenarnya ada air terjun, namun itu hanya akan muncul ketika musim hujan, saya pun semakin penasaran seperti apa wujud nyatanya, namun disisi lain saya senang karena Pantai Menganti masih menyimpan keindahan lain yang belum saya lihat. Saya menimpulkan bahwa seolah tempat ini selalu punya alasan untuk membuat orang kembali lagi.
Sudah cukup lama kami berada di Pantai Menganti, akhirnya Ibu mengajak kami untuk pulang. Karena saya merasa masih terlalu betah di sini, saya pun sempat mengusulkan untuk menginap atau camping semalam saja di sini, karena Pantai Menganti juga menyediakan pengalaman berkemah di perbukitan karst dengan pemandangan langsung ke laut selatan, apalagi ketika senja atau sunrise dan suara ombak di malam hari dengan langit penuh bintang, pastinya akan semakin indah pemandangannya. Namun usulan saya ditolak ayah saya, mengingat kita belum ada persiapan dan masih ada kegiatan pada esok hari. Akhirnya kami pun menyudahi penjelajahan Pantai Menganti ini. Sungguh pengalaman yang sangat seru dan berkesan.(*)