Melihat Keindahan Cirebon dari Batik Trusmi

Oleh Chesario Agung Pamungkas

Nama “batik Trusmi” menggambarkan ciri khas batik Cirebon yang dihasilkan di Kecamatan Trusmi Kabupaten Cirebon. Batik pesisir yang membedakan batik Cirebon dengan batik lain di Indonesia memiliki ciri khas karena tema dan corak warnanya. Warga Cirebon bangga dengan keindahan Batik Trusmi yang sudah mendapat pengakuan dari banyak negara lain. Salah satu tempat untuk mulai mempelajari dan menjelaskan Batik Trusmi adalah sejarahnya sendiri.

Banyak sejarawan dan seniman yang memperkirakan perkembangan Batik Cirebon terjadi pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Salah satu faktor yang mendorong berkembangnya industri batik Cirebon saat itu adalah perekonomian kota yang semakin berkembang. Mungkin demikian. Catatan mengenai Batik Cirebon sudah ada sejak abad ke-14. Pada masa kerajaan Cirebon. Sungguh lucu mendengar banyaknya mitos dan cerita yang tercipta dan tersebar mengenai hal tersebut. Berbagai bentuk istilah Trusmi dapat kita temukan dalam literatur dan tuturan masyarakat Cirebon, dan kata inilah yang menjadi sumber dari kata grage dan Cirebon.

Batik Trusmi terkenal dengan keunggulan dan desainnya yang khas. Batik Trusmi Cirebon menampilkan beragam motif, antara lain tema modern, keratonan, dan natural. Motif batik memainkan peran penting dalam mendefinisikan individualitas dan kekhasannya. Tema-tema yang sangat simbolis yang terdapat pada Batik Trusmi Cirebon dikaitkan dengan adat dan budaya daerah tersebut. Hal ini meningkatkan nilai Batik Trusmi Cirebon dan menjadikannya sebagai aset budaya yang perlu dilindungi.

Salah satu motif yang banyak terdapat pada Batik Trusmi Cirebon adalah motif Mega Mendung. Motif ini melambangkan wujud awan yang sangat besar. Biasanya desain ini diilustrasikan dengan warna cokelat tua atau hitam. Motif ini juga adalah salah satu motif batik

Yang terkenal di berbagai daerah di Indonesia dan juga internasional. Kemudian ada motif keratotan. Motif ini menunjukkan unsur yang berhubungan dengan keraton seperti kaligrafi, bangunan atau aksesori. Kemudian ada juga motif paksi naga liman yang menampilkan bentuk naga berekor lima dengan warna cerah seperti merah, hijau, atau biru. Lalu yang tak kalah indahnya adalah motif keris patran yang menampilkan bentuk keris patran dan hiasan yang ditempelkan pada keris yang dipandang sebagai lambang ketabahan dan keberuntungan.

Aku memiliki pengalaman yang sangat indah terkait Batik Trusmi ini ketika aku SD. Aku pernah mengunjungi Batik Trusmi saat study tour kala itu. Di mana saat itu, ketika aku mengunjungi Batik Trusmi, aku dijelaskan sejarah Batik Trusmi itu sendiri dan dijelaskan juga mengenai Batik Trusmi. Dari kain apa yang digunakan, menggunakan lilin seperti apa, dan juga dijelaskan menggunakan apa membatik itu, yaitu menggunakan alat yang bernama canting.

Kemudian setelah dijelaskan mengenai semua tentang batik trusmi, aku diberi kesempatan oleh pengelola batik trusmi untuk ikut membatik. Aku diajarin bagaimana caranya membatik dari awal sampai akhir, yakni di awal kita harus melelehkan lilin khusus untuk membatik yang berwarna cokelat gelap, kemudian setelah lilin itu panas aku diberikan alat membatik, yaitu canting, dan juga sehelas kain berwarna putih sebagai media untuk membatik. Saat aku mulai membatik, aku merasa sangat susah karena tangan aku belum lihai mengoreskan canting di atas alas kain itu. Ketika aku menggoreskan canting terlalu lama, kemudian lilin tersebut malah meleber di luar area yang ingin aku goreskan.

Singkat cerita, ketika aku sudah selesai mencanting, kemudian kain itu didiamkan agar lilin tersebut kering. Setelah lilin itu kering, kemudian kain itu diberi warna sesuai dengan apa yang kita mau, kemudian lilin tersebut direbus dan air rebusan tersebut diberi sebuah cairan kimia agar lilin yang ada di lembaran kain tersebut luntur. Kemudian, setelah lilin tersebut luntur, akan terlihat sebuah motif yang telah kita lukis di lembaran kain putih yang awalnya polos.

Di situ aku merasa sangat senang karena bisa mendapatkan sebuah kain batik buah hasil tangan sendiri. Bagaimana tidak bangga, di umurku yang dianggap masih kecil, aku sudah bisa membuat kain batik sendiri. Itu rasanya bangga sekali. Setelah semuanya selesai aku dan teman- teman SD aku saat itu mulai kembali bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan study tour yaitu

Mencari oleh-oleh Cirebon untuk dibawa pulang ke rumah. Di tempat oleh-oleh itu aku hanya membeli beberapa jajanan yang aku sukai dan setelah itu melanjutkan perjalanan untuk kembali pulang ke rumah.

Di jalan pulang, aku sudah tidak sabar memamerkan kain batik yang sudah aku buat kepada orang tuaku, dan tidak lama setelah aku memikirkan itu, aku pun mengatuk lalu tertidur sepanjang perjalanan pulang. Kemudian setelah aku membuka mata, aku sudah bisa melihat daerah yang sudah kukenali, yaitu sekolahku sendiri, di mana sudah ada kakakku yang sudah siap menjemput. Di jalan pulang mengendarai motor, aku sempat bertanya kepada kakakku, “A, di rumah ada mamah papah ngga ya?” Lalu dibalas oleh kakakku, “Ada de.” Lalu di dalam hati aku senang sekali karena bisa memamerkan kain batik itu. Lalu sesampainya di di rumah, aku pun langsung tergesa-gesa untuk menemui orang tua ku kemudian “mah, pah liat liat iyo abis ngebatik, ini kain batiknya!!!!” kemudian mamahku menjawab “wahhh baguss banget sihh, bisaan iniii, nanti bisa jadi calon pengusaha batik nihh aamiinnn”

Pengalaman tersebut membuatku semakin memahami bahwa membatik bukan sekadar menggambar di atas kain, tetapi juga membutuhkan kesabaran dan ketelitian yang tinggi. Setiap goresan canting memiliki makna dan proses yang tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Dari kegiatan itu, aku mulai menyadari bahwa para pengrajin batik telah mencurahkan waktu, tenaga, dan perasaan mereka untuk menghasilkan sebuah karya yang indah dan bernilai budaya tinggi.

Selain memberikan pengalaman yang menyenangkan, kunjungan ke Batik Trusmi juga menambah rasa cintaku terhadap budaya lokal Indonesia. Aku menjadi lebih menghargai warisan budaya yang selama ini mungkin sering dianggap biasa saja. Melihat langsung proses pembuatan batik membuatku sadar bahwa menjaga kelestarian batik merupakan tanggung jawab bersama agar budaya ini tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Sejak saat itu, setiap kali melihat kain batik, aku selalu teringat pengalaman berharga tersebut. Batik bukan lagi hanya pakaian bermotif, melainkan simbol sejarah, kreativitas, dan identitas bangsa. Pengalaman study tour ke Batik Trusmi menjadi salah satu kenangan yang tidak terlupakan karena dari sana aku belajar tentang seni, budaya, sekaligus rasa bangga terhadap karya asli Indonesia.(*)