Oleh Aulia Indy Fatikhah
Hening menyelimuti suasana kelas pada siang itu. Para siswa tengah sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Mereka mengerjakan tugas dengan serius. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09.55 WIB.
“Anak-anak, tugasnya bisa dilanjutkan di rumah ya…,” ucap Bu Guru mengingat waktu pulang kurang 5 menit lagi.
“Baik, Bu,” seru para siswa serempak.
“Oh iya, jangan lupa besok masing-masing membawa bekal dari rumah. Kita akan makan bersama,” tambah Bu Guru.
Mendengar pesan Bu Guru bahwa akan diadakan makan bersama, para siswa bergumam senang. Tak terkecuali aku. Sebagai siswa yang baru saja duduk di sekolah dasar, aku tak menyangka bahwa di SD akan ada acara makan bersama seperti saat TK. Itu sangat menyenangkan bagiku karena bisa mengulang masa-masa di TK.
“Kring!!!” bel pulang sekolah berbunyi nyaring, tanda kegiatan belajar mengajar telah usai. Aku segera pulang ke rumah dengan hati yang senang. Selama perjalanan aku memikirkan bekal yang akan kubawa besok. Aku tidak sabar untuk memberi tahu mama dan memintanya untuk memasakkan makanan kesukaanku.
Sesampainya di rumah, aku segera memberi tahu mama pesan yang disampaikan Bu Guru. “Kamu mau dimasakkan apa besok?” tanya Mama.
“Aku ingin lauk telur dadar dan sosis, Mah,” jawabku setelah aku memikirkannya di sepanjang jalan.
***
Pagi pun tiba, matahari memancarkan sinarnya. Aku sangat bersemangat untuk berangkat hari ini. Seperti biasa ayah mengantarku sampai ke depan gerbang sekolah. Sesampainya di kelas, aku dan teman-temanku saling bertanya dan melihat-lihat bekal yang kami bawa. Kami sudah tidak sabar menunggu Bu Guru untuk memulai acara makan bersama kali ini.
Tiba-tiba dari balik pintu, masuk dua orang wanita yang seumuran dengan Bu Guru. Aku kira mereka guru baru yang ikut acara makan bersama, tapi baju yang mereka kenakan agak berbeda dengan yang dikenakan para guru kami. Baju mereka lebih mirip petugas puskesmas. Mereka lalu mengeluarkan kotak seperti penanak nasi. Aku yang melihat itu cukup terpukau. Tak kusangka makan bersama di SD akan semeriah itu hingga disediakan seperti prasmanan.
Kekagumanku tiba-tiba berubah menjadi ketakutan ketika Bu Guru masuk dan berkata, “Selamat pagi, anak-anak. Hari ini akan ada imunisasi dari puskesmas kecamatan. Yang belum sarapan bisa memakan bekal yang sudah dibawa ya.”
Aku berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Bu Guru. Dalam pikiranku: kenapa tiba-tiba jadi imunisasi? Bukankah kita akan makan bersama?
Ternyata hari itu memang ada imunisasi dari puskesmas. Dua orang wanita yang aku kira guru baru, ternyata memang petugas puskesmas. Dan wadah yang kukira penanak nasi itu, ternyata berisi jarum suntik.
Suasana kelas berubah menjadi ricuh dan menegangkan. Ada yang menangis ketakutan, ada juga yang mencoba menenangkan yang lain. Aku sangat kaget dan tak menyangka, makan bersama yang kupikirkan akan berlangsung hangat dan menyenangkan berubah menjadi hal yang kutakuti.
Ya, benar sekali, waktu itu aku sangat takut dengan jarum suntik! Aku bingung dan kalut, aku tak mau disuntik. Kutarik napas dalam-dalam, berharap keberanian muncul dalam diriku. Namun hasilnya nihil, yang ada di pikiranku hanyalah cara bagaimana agar aku tidak disuntik hari itu. Aku ingin menangis supaya Bu Guru kasihan dan aku tidak jadi disuntik, tapi setelah melihat temanku yang juga menangis dan tetap disuntik, sepertinya menangis tidak mempan untuk sekarang.
Yang terlintas di pikiranku hanyalah kabur dari tempat itu. Kulihat sekeliling sebelum melancarkan aksi. Petugas puskesmas sedang sibuk memberikan imunisasi, sedangkan Bu Guru sibuk menemani dan menenangkan siswa yang menangis. Aku melihat peluang di sini. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari keluar kelas hingga ke gerbang depan.
Aku sungguh ketakutan saat itu, hingga tak kuasa menahan tangis. Tak sadar tangisku begitu keras, hingga seorang ibu-ibu pedagang yang mangkal di depan sekolah menghampiriku. “Kenapa kok nangis, Dek?” tanya ibu-ibu itu.
“Aku nggak mau disuntik!” jawabku sambil menangis.
Setelah mengetahui alasanku menangis, ibu-ibu itu menenangkanku dan mengajakku ke tempat dagangnya.
Aku masih menangis tetapi tidak sehisteris sebelumnya. Ibu-ibu pedagang itu tetap berusaha menenangkanku dan berkata bahwa aku tidak akan disuntik. Aku pun memercayainya, karena sudah cukup lama aku berada di luar tapi tidak ada guru yang menyadari. Aku rasa pelarianku ini berhasil. Namun ketika sudah merasa cukup aman, aku melihat dua orang guru berjalan menuju keluar gerbang. Aku tak menyangka mereka menemukan persembunyianku.
Sambil menangis, aku berpikir cepat. Aku teringat bahwa kakekku biasanya menunggu sepupuku di TK yang ada di sebelah SD. Jadi kuputuskan untuk meminta perlindungan kepada kakekku. Para guru makin dekat berjalan ke arahku, tak pikir lama aku langsung berlari menuju TK di samping SD. Aku berlari sekuat tenaga, namun belum sampai ke sana tiba-tiba ada guru yang berhasil mengadang jalanku. Aku tidak menyerah, aku mencoba mencari jalan lain dengan berbalik ke belakang. Ternyata di belakangku juga sudah ada seorang guru lagi yang menghadang. Aku terkepung! Aku hanya bisa menangis dan pasrah saat kedua guru itu membawaku ke kelas untuk disuntik.
Sesampainya di kelas tangisanku bertambah kencang. Aku memberontak ingin kabur tetapi tak bisa karena aku dipegangi oleh tiga guru.
“Jangan takut, tidak sakit kok. Kayak digigit semut aja!” kata Bu Guru menenangkan.
Tapi aku tidak percaya. Aku menutup mata rapat-rapat berharap ini semua hanyalah mimpi. Aku terus menangis dan hanya pasrah ketika perawat menyuntikkan vaksin imunisasi ke lenganku.
“Tahan sebentar ya! 1, 2, 3. Sudah, selesai, Alhamdulillah!” kata petugas puskesmas.
Mendengar itu, aku membuka mata, dalam hati aku berkata, “Hah, sudah? Kok tidak terasa?” Ternyata benar apa yang dikatakan Bu Guru, imunisasi itu tidak sakit. Aku tidak merasakan sakit sama sekali, tetapi karena sangat malu telah kabur, jadi aku tetap melanjutkan tangisku.
Hari itu menjadi hari yang melelahkan. Acara makan bersama yang aku kira akan menyenangkan berubah menjadi kekacauan. Banyak murid yang menangis, termasuk aku yang kabur, semua itu terjadi di luar prediksi kami. Aku juga mendengar bahwa ada temanku yang mengamuk dan hampir melempar kursi karena tidak mau disuntik. Ternyata pelarianku tidak terlalu buruk, ada yang lebih ternyata, hahahaha.
Jika aku mengingat kejadian itu, aku sangat ingin tertawa. Apalagi jika sedang bernostalgia dengan temanku, dia selalu mengungkit kejadian itu dan mengejekku. Aku juga heran dengan diriku sendiri, kenapa sangat takut pada waktu itu. Hanya karena takut diimunisasi aku sampai berbuat hal yang menghebohkan satu sekolah. Aku akan selalu mengingat kejadian itu, kejadian yang lucu sekaligus memalukan pada waktu SD.