Oleh Atik Qurota Aeni
Aku selalu percaya bahwa setiap tempat memiliki cara tersendiri untuk memanggil pulang kenangan. Bagi orang lain, mungkin itu pantai atau kota besar dengan gemerlap lampu. Tetapi bagiku, panggilan itu datang dari pegunungan yang diselimuti kabut tipis—dari Guci, di Kabupaten Tegal.Hari itu aku pergi hanya berdua dengan temanku. Tidak ada rombongan besar, tidak ada rencana yang terlalu matang. Hanya dua ransel ringan, tawa yang belum lepas, dan niat sederhana untuk melarikan diri sejenak dari penatnya rutinitas.
Perjalanan menuju Guci selalu punya rasa yang berbeda. Jalanan yang menanjak dan berkelok seperti mengajarkan kesabaran. Udara perlahan berubah menjadi lebih sejuk, bahkan sebelum kami benar-benar sampai. Jendela mobil kubuka sedikit, membiarkan angin gunung menyapa wajahku.Saat tiba, kabut tipis menyambut kami seperti selimut lembut yang menggantung di udara. Pepohonan pinus berdiri tenang, seakan menjadi saksi bagi setiap cerita yang pernah singgah di sana. Aku menghirup udara dalam-dalam. Aroma tanah basah dan dedaunan terasa begitu menenangkan.Kami berjalan menyusuri area pemandian air panas. Uap tipis mengepul dari permukaan air, membentuk siluet yang nyaris magis. Konon, air panas Guci berasal dari perut Gunung Slamet, membawa kehangatan alami yang dipercaya mampu menyembuhkan lelah, baik fisik maupun hati.Aku dan temanku tak berhenti tertawa. Entah karena lelucon sederhana, atau mungkin karena kebahagiaan memang sesederhana itu—berada di tempat yang tepat, dengan orang yang tepat, di waktu yang tepat. Tawa kami memantul di antara pepohonan.
Di tengah perjalanan mengelilingi kawasan itu, kami bertemu dengan sekelompok anak SMA yang sedang berkunjung untuk refreshing. Mereka berlarian, berswafoto, dan saling mengejek dengan canda khas remaja. Melihat mereka, aku seperti melihat diriku beberapa tahun lalu—bebas, ringan, dan belum terlalu banyak memikirkan masa depan.Salah satu dari mereka sempat menyapa kami dengan ramah. Percakapan singkat itu terasa hangat. Rasanya menyenangkan menyadari bahwa tempat ini bukan hanya milik kenanganku, tetapi juga sedang menjadi bagian dari cerita orang lain.
Kami duduk sejenak di tepi kolam, membiarkan kaki kami menyentuh air hangat. Sensasinya perlahan merambat naik, mengusir dingin yang sejak tadi menempel di kulit. Di saat seperti itu, waktu terasa berjalan lebih lambat.Aku menatap kabut yang perlahan turun lagi. Dalam diam, aku merasa bersyukur. Tidak semua kebahagiaan harus dirayakan dengan sesuatu yang mewah. Kadang, kebahagiaan hanya berupa perjalanan singkat ke tempat yang sudah lama dikenal.
Guci bukan sekadar destinasi wisata bagiku. La adalah bagian dari identitasku sebagai anak Kabupaten Tegal. Setiap tikungan jalannya, setiap aroma tanahnya, menyimpan rasa pulang yang tak bisa dijelaskan dengan logika.
Saat kami akhirnya bersiap untuk kembali, ada sedikit rasa enggan yang tersisa. Tetapi aku tahu, seperti halnya kenangan, Guci akan selalu ada. Dan suatu hari nanti, mungkin dengan cerita yang berbeda, aku akan kembali lagi mencari kehangatan di antara kabutnya.(*)