Pencarian yang Panjang

Oleh Yussuf Mulia Perwira

Aku selalu bertanya-tanya apa yang kurang dari diriku. Mengapa aku selalu kurang baik? Mengapa aku dianggap tidak berguna? “Apa sebenarnya salahku?” adalah pertanyaan yang selalu kuucapkan saat aku memikirkan yang selalu kualami selama ini. Hidupku dipenuhi dengan hal  yang tak berguna. Aku adalah orang yang menyedihkan. Orang orang selalu bertanya padaku “Mau jadi apa kamu nanti?” Saat itu, aku tidak peduli dengan kalimat itu, namun perlahan-lahan aku menyadarinya.

Namaku U, seorang anak kecil biasa yang hidup bersama keluarga yang sederhana dan cukup baik. Ayahku adalah seorang pegawai negeri sipil, ibuku adalah seorang ibu rumah tangga, dan kakak perempuanku adalah seorang pelajar. Aku terlahir dengan keadaan normal. Namun terdapat satu hal yang sangat memengaruhi kehidupanku, aku adalah anak yang temperamental. Aku sangat mudah untuk marah, bahkan hanya karena hal hal kecil. Aku terlahir dengan kepribadian yang cenderung untuk menghabiskan waktuku sendiri.

Saat aku memasuki taman kanak-kanak, aku sama sekali tidak mau untuk belajar, bermain dengan teman teman lain, dan lebih suka untuk menghabiskan waktuku untuk bermain sendiri dengan imajinasiku. Sehingga, aku hanya sempat merasakan pendidikan taman kanak-kanak selama dua bulan. Selama satu tahun, ibuku akhirnya mengajariku berbagai macam hal dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung kepadaku. Meskipun melewati berbagai tantangan dariku ibuku tetap dengan sabar mengajariku hingga aku menguasai dasar dasar tersebut sebelum aku memasuki sekolah dasar.

Saat berusia 6 tahun, aku masuk ke sekolah dasar, tempat kakakku juga belajar. Aku tidak jarang meminta bantuan kakakku terkait banyak hal, karena saat itu kakakku sudah kelas 4. Namun satu hal yang tidak berubah adalah kepribadianku. Aku sangat tidak suka diganggu. Aku memang temperamental, namun aku jarang memulai keributan kecuali diganggu. Sejak kelas 1 sekolah dasar, aku selalu terlibat perkelahian.

Aku memang memiliki daya tangkap dan kecerdasan yang cukup diakui oleh para guru. Sejak awal kelas satu hingga kelas tiga, aku hampir selalu mendapatkan nilai di atas 90. Setiap ujian semester, aku juga selalu berada di peringkat tiga besar. Namun sepanjang tiga tahun itu, aku hampir selalu terlibat dengan perkelahian ataupun keributan yang ada di kelasku, dan tak jarang juga aku bersikap tak sopan. Sehingga meskipun nilai dan prestasiku baik, aku dianggap sebagai anak yang nakal.

Aku mulai menyadari adanya hal yang tidak menyenangkan sejak aku berada di kelas 4 sekolah dasar. Aku dan teman temanku sudah mulai menghindari menggunakan amarah dan perkelahian untuk hal-hal kecil, meskipun beberapa perkelahian dan pertengkaran tetap terjadi. Saat itu juga aku mulai mengikuti kursus bahasa inggris. Semua tampak mulai lebih baik, namun aku tetaplah dia, si anak menyedihkan yang merasa sudah sangat baik dalam segala hal.

Tiga tahun setelahnya, aku masuk SMP. Aku masih anak yang sama, anak gendut yang temperamental itu. Masa masa SMP ini adalah yang terburuk untukku, karena dengan sikap dan sifatku yang seperti itu begitu juga dengan fisikku, aku mendapatkan banyak perundungan. Tak jarang aku terlibat keributan karenanya. Meskipun begitu, aku adalah seorang pengecut. Aku ikut menindas yang lebih lemah dariku, namun saat bertemu dengan para perundung itu aku bahkan tidak berani melawan.

Saat kelas satu SMP, aku masih tergolong pintar dan aktif mengikuti kegiatan seperti ekstrakulikuler. Jadi meskipun aku mulai mengalami perundungan, aku masih bisa menjalani hidup seperti biasa. Namun masalah selain di sekolah juga mulai muncul, saat itu aku mulai menyukai bermain ponsel dan mulai sering memainkan game daring. Aku sering terlibat perdebatan dengan ibuku, terlebih dengan kepribadianku yang suka melawan. Hingga suatu saat aku hampir kecanduan dengan game dan ponsel.

Saat kelas dua SMP, perundungan yang kurasakan mulai semakin berat. Aku sering merasa malas untuk ke sekolah, namun dari situ juga mulai muncul pemikiran baru di hidupku. Aku mulai berpikir untuk cepat melupakan hal yang tak perlu kupedulikan, dan aku tanpa sadar mulai mengabaikan rasa empati spontan, mungkin itu juga alasan aku belum pernah menyukai orang sampai saat ini. Hal tersebut menyebabkan aku mulai berani memberontak ke orang tuaku, dan bahkan mengetahui hal hal yang anak anak baik seumuranku belum ketahui. Prestasi serta nilaiku juga perlahan lahan merosot. Aku keluar dari semua ekstrakulikuler yang ku ikuti. Aku juga sering tidak mengerjakan tugas atau bahkan tak jarang membolos.

Hal hal itu berlanjut hingga aku kelas tiga SMP. Semua itu kemudian diperparah dengan adanya Covid-19. Sejak terkena Covid-19, aku jadi benar benar tertutup secara sosial. Aku menutup diri dari lingkungan. Fisikku menjadi benar benar tak terawat. Aku menjadi gemuk dengan rambut tebal tak terawat. Mata minusku semakin parah karena setiap hari aku menghabiskan waktu untuk bermain gawai. Bahkan setelah pandemi selesai, aku masih tetap menjadi anak antisosial dan sering terlibat pertengkaran dengan orang tuaku. Di sini juga aku sering berada di tengah kebingungan antara perasaan benci pada diri sendiri, amarah, rasa tak berguna dan tak berdaya. Semua pikiran itu membuatku sering merasa putus asa dan bahkan ingin mengakhiri diri sendiri.

Saat itu semester dua kelas tiga, aku mulai sering menghabiskan waktuku untuk mengikuti grup debat di aplikasi Facebook. Aku berharap dengan aku aktif di sana, setidaknya aku akan berhenti memikirkan hal-hal di dalam kepalaku. Bahkan dalam beberapa kesempatan aku hampir saja melakukan tindakan yang hampir meregang nyawaku sendiri, dengan berpikir “Kalau saja aku tiada mungkin hidup keluargaku akan lebih baik”.

Hingga pada suatu kesempatan, orang tuaku memutuskan untuk aku masuk ke pondok pesantren. Saat itu aku sempat takut, namun aku berpikir mungkin aku bisa mengsiasati ini sehingga nantinya orang tuaku akan berubah pikiran. Menjelang keberangkatanku ke pesantren, bukan hanya gagal mencegahnya, aku justru sempat mengalami depresi. “Apakah aku memang seburuk itu hingga orang tuaku mau membuangku ke tempat itu?” Itulah salah satu isi pikiranku saat itu. Di hari keberangkatan ke pesantren, aku menangis dari pagi hingga siang.

Pada sore hari, aku sampai di pesantren. Ibu, Ayah, dan keluargaku pergi dari sana, membuatku mau tak mau harus mengikuti aturan di pesantren itu. Namun, aku tidak menyadari bahwa hari pertama itu adalah salah satu titik balik paling mengejutkan. Seperti saat SMP dulu, aku memiliki pola pikir untuk mengabaikan hal hal yang akan membuatku merasa lemah serta tidak mengabaikan rasa emosi seperti sedih dan takut. Hal itu terbukti dari aku yang setelah keluargaku pulang, aku sama sekali tidak menangis. Aku justru merasa benci dan marah kepada keluargaku, sehingga membuatku berpikir “Oke, aku akan hidup di sini”. Aku yang sebelumnya berkeinginan untuk pulang, kini hanya ada “Aku harus bertahan hidup”.

Aku mencoba menghapus semua pikiran tentang keluargaku dengan menyibukkan diriku dengan kehidupan di pesantren, bahkan dengan sengaja membuat masalah sehingga aku dihukum. Semua itu agar aku melupakan pikiran tentang mereka. Dan semua pola pikir itu terbukti berhasil karena aku jadi jauh lebih cepat beradaptasi ke kehidupan di pesantren daripada teman temanku lainnya, bahkan aku belum pernah menangis ataupun mengalami kesulitan untuk tidur. Semua cara itu adalah cara yang menyimpang untuk mengatasi masalah, namun aku yang saat itu tak akan sedikitpun terpikir mengenai hal tersebut.

Waktu berjalan dengan cepat di pesantren. Meskipun aku berhasil beradaptasi dengan baik, masalah lama tetap kembali muncul di dalam hidupku. Masalah itu adalah perundungan. Aku hanya butuh beberapa bulan untuk akhirnya menyadari bahwa masalahnya bukan “apa yang salah dengan mereka sehingga mereka merundungku” tapi “apa yang salah dengan diriku hingga aku mendapatkan perlakuan ini”. Akhirnya, aku memutuskan untuk mulai lebih berani dalam berbagai hal, aku mulai melatih tubuhku, aku mulai aktif di kegiatan seperti ceramah dan pidato, dan aku juga mulai belajar lagi.

Titik balik dalam hidupku adalah empat tahun di pesantren itu. Kehidupanku di sana awalnya memang tidak mudah, namun aku bisa bertahan. Aku menyadari bahwa versi baik dari pola pikir menyimpangku sebenarnya hanya untuk merasa cukup dan bersyukur, untuk tetap menyadari bahwa seburuk apapun keadaannya, jika aku masih bisa bertahan, maka itu patut disyukuri. Selama ini aku juga kurang dalam merelakan. Dan yang terpenting, selama ini aku melupakan bahwa aku memiliki Tuhan.

Jadi, mungkin jika dalam hidup terdapat hal hal yang berat dan sulit dihadapi, jangan berpikir bahwa dunia kejam kepada kita. Cobalah untuk berpikir apa yang kurang dari diri kita daripada terus menyalahkan keadaan dan orang lain. Dan jangan pernah lupa kalau kita memiliki Tuhan.(*)