Kemeriahan Pajamasan di Kebasen

Oleh Febrisya Purnama Citra

Suatu hari ketika aku masih duduk di bangku SMA, kelas XII,  salah satu temanku bertanya kepadaku, “Ris, koe reti ora kapan jimatane?” (Ris, kamu tahu nggak kapan jimatan-nya?). Aku jawab bahwa aku tidak tahu. 

Oh ya, jika belum tahu apa itu jimatan atau pajamasan, itu ritual pembersihan benda pusaka peninggalan Raja Mataram, Sunan Amangkurat Agung. Ritual tersebut sudah dilaksanakan dari dahulu dan masih terjaga sampai sekarang, di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas.

Pada malam hari, ketika aku sibuk dengan ponselku, seketika aku teringat pertanyaan temanku itu. “Ma, jimatanne si kapan?” (Ma, jimatannya itu kapan?) tanyaku kepada Mama, 

Minggu ngesuk, pas mulud tanggal 12-13 Mulud” (Minggu besok, saat Maulud tanggal 12-13)  jawab Mama.

Sebenarnya aku tak begitu paham dengan penanggalan Jawa, apa lagi ketika Mama atau nenekku tanya acara apa pun terus dijawab dengan penanggalan Jawa.

Esok harinya, ketika  sudah di kelas, aku temui temanku dan memberitahunya kapan jimatan itu dilaksanakan, “Yof, ngesuk jare Mamaku jimatanne minggu ngesuk, dina Senen” (Yof, besok kata Mamaku jimatan-nya minggu besok, hari Senin). 

Si yofna, temanku mengeluh karena hari Senin harus bersekolah.

Hari demi hari pun berlalu, sampai malam Sabtu ketika temanku yang satu desa dengan ku, nge-chat aku, “Ris, ngesuk kowe rep ming jimatan ora?” (Ris, besok kamu mau ke jimatan, nggak?

Aku tidak langsung menjawab, dan mengecek lagi daftar tugasku. Ternyata aku punya beberapa tugas. Dan aku berniat besok Sabtu ngebut mengerjakan tugas agar aku bisa melihat acara jimatan itu.

Hari sabtu, dari pagi aku mulai mengerjakan tugas-tugas yang bejibun, apalagi soal Matematika, aku paling nggak suka maematika. Kenapa? Ya karena nggak suka, apalagi yang sampai jawaban-nya panjang, berumus-rumus. Sampai sore hari, aku baru selesai mengerjakan tugas-tugasku.

Malam harinya, ketika Mama sedang makan dan aku sedang menonton Tiktok, aku bertanya ke Mama, “Ma, Mama ngesuk ming jimatan?” (Ma, Mama besok ke jimatan?) 

Ya mbuh ngesuk, ndeleng ngesuk,” (Entahlah, lihat besok) jawab Mama.

Pada hari Senin malam, aku jadi menyaksikan acara jimatan. Sebenarnya prosesi pembersihan benda pusaka dilaksanakan Senin pagi, namun karena aku sekolah jadi aku tidak melihat prosesi pembersihannya. Alfi juga ke jimatan pada malam harinya karena dia juga sekolah.

Acara jimatan itu dilaksanakan satu hari saja. Namun di lokasi tempat penyimpanan jimat atau pusaka, keramaian telah dimulai pada Minggu malam hingga Senin malam. Banyak pedagang dan para warga yang turut meramaikan acara tersebut. (*)