Oleh Raihan Anindhiya Saputra
Namaku Raihan. Aku lahir dan besar di Jakarta. Tepatnya di daerah Kelurahan Cempaka Baru, Kecamatan Kemayoran, Kota Administrasi Jakarta Pusat. Letaknya memang berdekatan dengan pusat ibu kota Republik Indonesia, yaitu DKI Jakarta. Kota yang cukup besar itu penduduknya sangat padat. Hari-hari di sana dipenuhi dengan keramaian, kemacetan, kesibukan lalu lintas, dan mobilitas penduduk yang menggerakkan ekonomi DKI Jakarta.
Lahir dari orang tua yang juga besar di Jakarta, aku diasuh dan dibesarkan dengan bertemu banyak orang di sana. Sebagai suatu kota besar yang dihiasi oleh gedung-gedung tinggi dan kantor-kantor pemerintahan, Jakarta ternyata memiliki banyak sisi dan sudut pandang yang mungkin tidak diketahui oleh orang-orang di luar kota tersebut. Aku tinggal di Jakarta Pusat, namun bukan Jakarta Pusat yang mungkin dibayangkan orang-orang dengan penuh gedung dan kantor-kantor perusahaan maupun pemerintahan.
Memang, secara geografis, Kota Jakarta itu luasnya kecil. Namun, di sisi lain, Kota Jakarta yang secara geografis luasnya kecil itu menyimpan banyak cerita dan pengalaman. Berbagai cerita tersebut aku alami di Jakarta, sebuah kota yang telah aku tempati bertahun-tahun. Kenangan yang terukir bersama keluarga dan tema
Aku mengawali masa kecilku dengan diasuh oleh kedua orang tuaku di daerah Kemayoran. Sebuah kecamatan di kota yang dahulu terkenal dengan lokasi Bandara Kemayoran. Lokasinya cukup dekat dengan rumahku, di mana rumahku tepatnya berada di Kelurahan Cempaka Baru yang terkenal dengan Pasar Sumur Batu, sebuah pasar yang merupakan tempat di mana penduduk di sekitar daerah Jl. Sumur Batu Raya mencari nafkah dan berbelanja.
Namun, Bandara Kemayoran itu setelah saya lahir sudah tidak ada. Saya mengetahui adanya bekas bandara tersebut pun dari kedua orang tua saya dan beberapa anggota keluarga yang langsung menceritakannya. Mereka adalah saksi sejarah berdirinya bandara tersebut. Aku pun penasaran bagaimana tempat itu dahulu pernah ada.
Bandara Kemayoran adalah bandara internasional pertama di Indonesia yang beroperasi dari tahun 1940 hingga 1985. Berada di Jakarta Pusat, bekas area bandara yang sekarang menjadi lokasi Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan kawasan Kemayoran. Terminal VIP dan menara pengawasnya memang masih berdiri, tetapi hanya digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar. Aku pernah berjalan-jalan di sekitar daerah tersebut.
Kebiasaanku bersama teman-teman di dekat rumah pada masa SMP adalah mengayuh sepeda dari rumah ke pusatnya, Kemayoran, terkenal dengan Masjid Akbar Kemayoran dan Jl. Benyamin Suaeb kini sudah dipadati oleh gedung-gedung tinggi seperti perhotelan dan tempat-tempat pameran. Kondisi geografis antara zaman sekarang dan dahulu memang berbeda, tetapi aku tidak terlalu peduli soal itu.
Tempat tinggal terkenal dengan sejarah. Dahulu, Presiden Soeharto pernah menyambut Raja Faisal dari Arab Saudi di Bandara Kemayoran. Selain sejarah yang positif, memang daerah tersebut juga tidak lepas dari sisi kelam dan negatif. Kemayoran terkenal dengan markas beberapa bandar narkoba. Sering terjadi penindakan terhadap pelaku pengedaran narkoba maupun pemakai di daerah tersebut.
Pengalamanku di Jakarta meliputi berbagai pengalaman yang sulit dilupakan bersama keluarga, saudara, tetangga, hingga teman-teman. Mulai dari masa TK, SD, SMP, bahkan hingga SMA.Nyatanya, pengalaman-pengalaman yang aku alami itu menunjukkan bahwa lingkungan tempat tinggal dan orang-orang yang ada di sekitarku memiliki beragam ciri khas dan keunikan.(*)