Oleh Devi Lutfiyah Resya
Suasana pagi di pusat Kota Purwodadi terasa berbeda dari biasanya. Ribuan warga telah memadati sepanjang trotoar Jalan R. Suprapto sejak matahari baru saja menampakkan sinarnya. Udara yang mulai menghangat tidak melunturkan antusiasme masyarakat untuk menyaksikan perhelatan tahunan yang paling dinanti, yakni Parade Seni Budaya Kabupaten Grobogan.
Suara deru perkusi dan lengkingan terompet tradisional menandai dimulainya iring-iringan dari garis start. Barisan paling depan dibuka oleh pasukan pembawa bendera Merah Putih yang berjalan dengan langkah tegap, diikuti oleh barisan pejabat daerah yang mengenakan pakaian adat Jawa lengkap. Kehadiran mereka memberikan kesan formal namun tetap merakyat dalam merayakan kekayaan tradisi lokal.
Sorak-sorai penonton pecah saat rombongan Tari Angguk muncul dengan gerakan yang lincah dan energetik. Para penari, yang didominasi oleh pemuda-pemudi berbakat, mengenakan kostum berwarna cerah dengan hiasan kepala yang unik. Setiap hentakan kaki mereka seakan menceritakan semangat pantang menyerah masyarakat Grobogan dalam menghadapi tantangan zaman.
Tak kalah memukau, replika raksasa Api Abadi Mrapen diarak di atas mobil hias yang didekorasi menyerupai situs sejarah aslinya. Kepulan asap buatan dan tata lampu oranye yang menyala memberikan efek dramatis, mengingatkan semua orang akan kekayaan geologi dan nilai spiritual yang dimiliki daerah ini. Ikon ini menjadi simbol kehangatan dan persaudaraan bagi warga setempat.
Iring-iringan kemudian berlanjut dengan penampilan Reog Ponorogo versi lokal yang dipadukan dengan kesenian barongan. Topeng-topeng kayu yang tampak garang namun bersahabat menari-nari mengikuti irama kendang yang rancak. Interaksi antara penari barongan dengan anak-anak di pinggir jalan menciptakan suasana kekeluargaan yang begitu kental dan penuh tawa.
Kekayaan agraris Grobogan ditampilkan melalui barisan Gunungan Hasil Bumi yang menjulang tinggi. Padi, jagung, kedelai, hingga sayur-mayur disusun sedemikian rupa membentuk kerucut raksasa sebagai simbol rasa syukur atas kesuburan tanah. Penampilan ini menegaskan posisi Grobogan sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Tengah yang patut dibanggakan.
Kelompok musik Lesung yang dimainkan oleh ibu-ibu lansia memberikan warna tersendiri di tengah kemeriahan parade. Dentuman kayu yang beradu menghasilkan harmoni tradisional yang menenangkan hati, membawa ingatan penonton kembali ke masa lalu saat panen raya tiba. Meski usia mereka tak lagi muda, semangat mereka dalam melestarikan budaya terlihat dari senyum tulus yang terpancar.
Di tengah barisan, muncul atraksi Tayub yang menjadi salah satu kesenian khas paling ikonik dari Grobogan. Para penari melenggang dengan gemulai, sesekali mengajak penonton untuk ikut menari bersama menggunakan selendang. Momen ini menjadi bukti bahwa seni tradisi tidak hanya untuk ditonton, tetapi juga untuk dirasakan dan dilestarikan secara kolektif.
Kejutan muncul saat peserta dari berbagai sekolah menengah menampilkan kostum karnaval modern bertema Eco-Art. Mereka menggunakan bahan-bahan daur ulang seperti plastik, kertas, dan daun kering yang disulap menjadi busana megah menyerupai sayap burung cendrawasih atau bunga mekar. Inovasi ini menunjukkan bahwa kreativitas anak muda Grobogan mampu menyatukan isu lingkungan dengan estetika budaya.
Menjelang siang, cuaca yang semakin terik seolah tak dirasakan oleh para peserta yang tetap tampil maksimal hingga garis finis di depan Alun-Alun Purwodadi. Musik pengiring yang tak henti-hentinya bergema menciptakan atmosfer kegembiraan yang meluap. Semua elemen masyarakat, mulai dari petani, pelajar, hingga seniman, bersatu dalam satu barisan panjang yang harmonis.
Parade Seni Budaya ini akhirnya ditutup dengan doa bersama dan pembagian hasil bumi kepada warga yang hadir. Perayaan ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan sebuah pernyataan kuat bahwa identitas budaya Kabupaten Grobogan tetap kokoh di tengah arus modernisasi. Di bawah langit Purwodadi, semangat melestarikan warisan leluhur terus menyala, seabadi api Mrapen yang tak pernah padam.(*)