Oleh Raditya Hadyansyah Lubis
Suhu udara pagi di lereng Gunung Merapi benar-benar menusuk tulang saat aku turun dari mobil di area parkir Kaliurang. Di sampingku, Ayah sibuk merapatkan jaketnya, sementara Mamah memastikan adik perempuanku sudah memakai syalnya dengan benar. Di depan kami, deretan mobil Jeep Willys dan Land Rover tua yang tampak gagah sudah berjejer rapi, siap membawa keluarga kami menantang medan terjal sisa-sisa erupsi.
Kami memutuskan untuk mengambil satu Jeep agar bisa duduk berdekatan. Mas Eko, pengemudi Jeep kami, membantu aku, Mamah, dan adikku naik ke kursi belakang, sementara Ayah duduk di baris depan di samping Mas Eko. Bau knalpot yang khas bercampur dengan aroma tanah basah menciptakan atmosfer petualangan yang membuat adikku tampak sedikit gugup, namun sangat bersemangat. “Siap-siap pegangan yang kuat ya, ini jalannya bakal seru,” ucapku, mencoba menenangkan adikku yang mulai mencengkeram besi pegangan Jeep.
Mesin menderu dan perjalanan pun dimulai. Saat Jeep mulai merayap meninggalkan aspal halus menuju jalanan berbatu yang tak beraturan, aku mendengar pekikan kecil dari adikku dan tawa renyah dari Ayah. Tubuh kami terguncang hebat ke kiri dan ke kanan, namun pandangan kami seolah terkunci pada kegagahan puncak Merapi yang sesekali terlihat di balik kabut tipis. Rasanya luar biasa bisa berbagi momen adrenalin ini bersama orang-orang tersayang, melintasi hamparan pasir dan batu besar hasil muntahan perut bumi.
Pemberhentian pertama kami adalah Museum Sisa Hartaku. Begitu melangkah masuk, suasana riang keluarga kami seketika berubah menjadi hening. Aku melihat Mamah mengusap matanya saat melihat kerangka sepeda motor yang meleleh dan jam dinding yang berhenti tepat pada waktu erupsi terjadi. Aku merangkul pundak adikku, mencoba menjelaskan betapa dahsyatnya peristiwa itu melalui benda-benda yang kini menjadi saksi bisu. Ayah berdiri diam di sudut ruangan, tampak merenungi betapa kecilnya kita di hadapan kekuatan alam.
Setelah dari museum, kami melanjutkan perjalanan menuju Batu Alien. Adikku langsung sibuk mencari sudut terbaik untuk memotret batu raksasa yang menyerupai wajah manusia itu. Kami sempat berfoto bersama, sebuah potret keluarga dengan latar belakang batu vulkanik dan langit biru yang mulai cerah. Aku melihat Ayah dan Mamah tersenyum lebar, seolah beban pikiran mereka sejenak terangkat oleh udara pegunungan yang segar dan pemandangan yang tak biasa ini.
Perjalanan berlanjut ke Bunker Kaliadem. Saat kami menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah yang dingin, adikku memegang erat lenganku karena suasana remang-remang di dalam. Mas Eko menceritakan kisah tragis yang pernah terjadi di sana, yang membuat kami semua terdiam membayangkan panasnya awan panas yang pernah menyapu kawasan ini. Keluar dari bunker, kami disuguhi pemandangan Merapi yang sangat dekat; sebuah momen yang kami manfaatkan untuk sekadar duduk diam dan mengagumi kemegahan gunung tersebut.
Di sepanjang jalan menuju destinasi berikutnya, Ayah sesekali bertanya kepada Mas Eko tentang proses pemulihan alam di sana. Kami memperhatikan bagaimana pepohonan hijau mulai tumbuh kembali di lahan yang dulunya gersang. Mamah sesekali mengingatkan adikku untuk tetap memakai maskernya karena debu pasir yang beterbangan. Melihat interaksi ini, aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya soal pemandangan, tapi tentang bagaimana kami saling menjaga satu sama lain di tengah perjalanan yang menantang.
Bagian yang paling dinantikan adikku akhirnya tiba: Manuver Air di Kali Kuning. Mas Eko menoleh ke arah kami dengan tatapan jahil, memastikan apakah kami semua siap untuk basah. Mamah sempat ragu, tapi Ayah justru menyemangatinya dengan semangat. Belum sempat kami bersiap sepenuhnya, Jeep sudah melesat masuk ke dalam aliran sungai. Cipratan air setinggi dua meter langsung menghujam kami semua saat Jeep bermanuver zig-zag dengan kecepatan tinggi.
Suara teriakan gembira adikku pecah, menyatu dengan tawa keras Ayah dan jeritan kecil Mamah yang terkejut karena bajunya basah kuyup. Aku sendiri hanya bisa tertawa lebar sambil berusaha melindungi kamera dari cipratan air. Air sungai yang dingin terasa begitu segar di kulit kami yang mulai terasa panas terpapar matahari. Di titik ini, tidak ada lagi kecanggungan atau kekhawatiran; yang ada hanya kebahagiaan murni sebuah keluarga yang sedang menikmati waktu bersama.
Saat perjalanan pulang menuju basecamp, kami semua tampak berantakan, namun sangat puas. Rambut adikku sedikit acak-acakan karena angin, dan baju kami semua bercampur antara debu dan air sungai. Namun, melihat wajah Mamah dan Ayah yang tampak begitu awet muda karena tertawa lepas sepanjang jalan tadi membuatku merasa perjalanan ini adalah keputusan terbaik yang pernah kami ambil untuk menghabiskan akhir pekan.
Perjalanan Jeep Tour Merapi ini memberiku makna baru tentang arti liburan keluarga. Bagiku, ini bukan sekadar wisata pemicu adrenalin atau kunjungan sejarah biasa. Ini adalah momen langka di mana aku bisa melihat sisi lain dari orang tuaku yang biasanya serius, serta melihat keberanian adikku yang biasanya pendiam. Kami pulang membawa segudang cerita, dari rasa haru di museum hingga keseruan basah-basahan di sungai. Satu hal yang pasti, foto keluarga kami yang sedikit kotor karena debu dan basah karena air sungai itu akan menjadi kenangan yang paling berharga di rumah nanti. Merapi tidak hanya menyuguhkan keindahan alamnya yang megah, tetapi juga memberikan ruang bagi kami untuk mempererat ikatan satu sama lain. Aku berharap suatu saat nanti bisa membawa mereka kembali ke sini, mungkin untuk melihat matahari terbit yang kabarnya jauh lebih memesona.(*)