Di Balik Pendakian Pertamaku

Oleh Wulan Dian Novita 

Hari itu memang udara di Bukit Mongkrang sangat segar. Langit pun tampak cerah meskipun masih diselimuti kabut tipis yang bergerak secara perlahan di antara pepohonan yang berada di sekitarnya. Cahaya matahari juga mulai muncul di balik perbukitan, sehingga memberi warna yang indah pada langit pagi itu. 

Aku dan Ilham, saudara laki-lakiku berdiri di area pintu masuk sambil mempersiapkan barang-barang yang diperlukan untuk mendaki. Setelah selesai membeli tiket, kami mengecek kembali barang yang kami bawa seperti air minum, snack, dan juga topi. 

Mendaki kali ini menjadi pengalaman pertamaku, sedangkan untuk Ilham sudah menjadi kebiasaan baginya, hal itu sering dia lakukan ketika libur pondok tiba. Ia terlihat sangat bersemangat karena akhirnya mendapat izin dari orangtua untuk mengajakku. Kami berdua berharap bisa sampai di puncak seperti yang kami harapkan yaitu mendapatkan cuaca yang cerah dan bukit atau gunung disekitar bisa terlihat.

Saat memasuki jalur pendakian, suasana masih terasa nyaman dan juga menyenangkan. Jalan setapak yang kami lewati sedikit basah oleh embun di pagi itu. Di sebelah kanan dan juga kirinya jalan, berdiri pohon-pohon besar dengan daun hijau yang masih dipenuhi oleh titik-titik air. Beberapa kali, air embun tersebut jatuh ke tanah ketika terkena tiupan angin. Aku beberapa kali berhenti hanya untuk melihat pemandangan disekitar jalur pendakian yang kami lalui. Saat itu menurutku semua terasa baru, karena aku jarang sekali berpergian jauh tanpa orang tua, sehingga perjalanan kali ini sangat Istimewa bagiku. Ilham berjalan santai dibelakangku untuk memastikan aku baik-baik saja didepan.

Jarak yang semakin jauh dari pos masuk, membuat suasana mulai berubah. Jalur pendakian menjadi semakin sepi dan sunyi. Tidak banyak pendaki lain yang terlihat disekitar jalur kami. Hanya terdengar suara langkah kaki kami yang menginjak tanah, suara daun yang bergesakan karena terkena oleh angin, dan juga suara burung yang terdengar sangat kecil mungkin karena jaraknya jauh dari kami. Keadaan ini membuatku sedikit heran karena sebelumnya aku membayangkan jalur pendakian yang akan dilalui sangat ramai. Namun justru yang aku rasakan adalah suasana tenang yang sedikit menegangkan. Meski begitu, aku tetap mencoba untuk menikmati perjalanan sambil terus berjalan sesuai dengan arahan Ilham.

Agar perjalanan tidak melelahkan, kami mulai saling bercerita. Walaupun kami bersaudara, sebenarnya kami jarang sekali mengobrol lama. Karna Ilham sendiri ada dirumah cuma ketika libur hari besar Islam, dan libur tersebut dia gunakan untuk bermain dengan teman-temannya di luar. Sehingga hal itu berbanding terbalik dengan diriku yang lebih suka berada dirumah. Oleh karena itu, perjalanan mendaki ini menjadi kesempatan yang langka bagi kami untuk dapat berbicara banyak hal. Aku memulai pembicaraan dengan bertanya mengenai pengalaman-pengalaman mendakinya, tempat-tempat yang pernah dia kunjungi bersama dengan teman-temannya, dan juga pengalaman dipondoknya yang mungkin belum pernah dia ceritakan kepada orang rumah. Dengan semangat, Ilham mulai menceritakan semuanya satu per satu dengan gaya tengilnya disetiap sela cerita tersebut.

Awalnya cerita Ilham membuatku merasa kagum dan juga termotivasi. Dia menceritakan indahnya matahari yang terbit dari puncak gunung, dinginnya udara pagi, dan juga rasa puas setelah berhasil mencapai tujuan. Namun lama-kelamaan, topik pembicaraan berubah menjadi cerita-cerita menyeramkan yang pernah dialami oleh temannya saat mendaki. Ia menceritakan mulai dari bayangan aneh diantara pepohonan sampai hingga sosok tak dikenal yang muncul tiba-tiba di jalur pendakian. Mendengar cerita dari, Ilham rasanya sebadanku merinding semua.

“Kenapa cerita seperti ini engga diceritain di rumah aja sih? Kenapa harus di sini juga?” protesku kesal.

Ilham justru tertawa kecil dan menjawab bahwa dia baru teringatnya sekarang. Sejak saat itu pikiranku sudah mulai tidak tenang. Jalur yang tadinya terasa biasa saja tiba-tiba terasa berbeda. Pohon-pohon tinggi disebelah kanan dan kiri terasa seperti menyeramkan, dan suasana sunyi membuat pikiranku semakin liar. Tetapi sesekali aku mencoba untuk tetap berpikir positif, tetapi rasa takut yang aku rasakan beberapa kali mnengalahkan pikiran positifku.

Kami terus berjalan hingga tibalah di sebuah tempat datar yang biasa digunakan pendaki lain untuk beristirahat sejenak. Aku merasa kakiku mulai pegal, meskipun tidak mau mengakuinya. 

Ilham menyuruhku duduk sebentar. “Kalau capai kakinya diselonjorin dulu aja, jangan dipaksa ini masih jauh soalnya” kata Ilham. 

Aku tidak percaya sama kata-katanya. Dalam pikiranku, ini hanya bukit, bukan gunung yang tinggi, jadi seharusnya sampai dipuncak tidak akan mencapai beberapa jam lagi. Dengan penuh percaya diri aku mengajaknya untuk tetap lanjut berjalan. Ilham hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Semakin ke atas, jalur mulai berubah menjadi lebih terjal. Tanah yang kami pijak tidak rata, beberapa bagian berupa batu dan juga akar pohon. Pepohonan juga semakin rapat sehingga cahaya matahari yang sulit untuk masuk. Angin bertiup lebih kencang dan terasa dingin di kulit. Nafasku mulai berat, keringat bercucuran, dan langkah kakiku terasa semakin pelan. Sementara itu, Ilham tetap berjalan santai seperti dalam tubuhnya tidak mengalami kelelahan sama sekali. Dari hal itu aku mulai sadar bahwa mendaki ternyata jauh lebih sulit dibandingkan dengan apa yang sudah aku bayangkan sebelumnya.

Di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa pendaki yang turun dari puncak. Mereka berlari-larian sambil bercanda dan sempat menyapa kami. Karena aku sedang sibuk mengatur napas, sehingga hanya Ilham yang membalas sapaan mereka. Setelah rombongan itu lewat, Ilham tiba-tiba mendekat dan berkata pelan, “Mbak, tadi lihat cewek yang lewat itu? Matanya hitam semua.” 

Aku langsung menatapnya dan menganggap bahwa itu yang dikatakan hanya bercanda. Aku mengatakan bahwa ia pasti salah lihat. Namun, Ilham justru memintaku untuk menoleh ke belakang untuk memastikan sendiri.

Dengan ragu-ragu aku mulai menoleh kebelakang. Pada saat yang sama, perempuan yang dimaksud Ilham juga menatap ke arahku. Seketika tubuhku terasa gemetar. Dari jarak itu, matanya memang tampak sangat gelap dan aneh. Jantungku berdetak sangat kencang. Aku langsung berteriak memanggil Ilham dan mengatakan ingin pulang pada saat itu. Tanpa berpikir panjang aku langsung menarik lengannya dan berjalan cepat untuk menjauh. Aku tidak berani untuk menoleh lagi. Mulutku terus beristigfar sambil menahan rasa takut yang luar biasa.

Belum sempat untuk menenangkan diri, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Topi yang kupakai terlepas dan terbang ke arah semak-semak di pinggir jalur. Aku semakin panik dan hampir menangis, “Ilham, topi aku….”

Namun Ilham tetap tenang. Dia memintaku untuk menunggu, lalu berusaha untuk mengambil topi itu. Saat menunggu sendirian tiba-tiba mataku melihat pohon disebelah kanan yang sangat rindang atau berbeda dengan pohon disekitarnya, rasa takutku semakin menjadi-jadi. Pohon itu tampak tua dengan batang yang besar dan akarnya menjalar kemana-mana, dan dapat terlihat dipermukaan. Daunnya lebat sampai menutupi sebagian jalan setapak yang akan kami lalui. Dalam bayanganku, pohon itu seperti tempat yang menyeramkan. 

Tidak lama kemudian Ilham berhasil mengambil topiku. Ia menyerahkannya sambil tetap bercanda dan juga dengan sifat tengilnya, “Makanya kalau pakai topi yang benar.” katanya. Aku tidak menanggapi kata Ilham barusan, akan tetapi tiba-tiba aku langsung kepikiran untuk turun saja dan tidak mau melanjutkan perjalanan sampai puncak. Namun Ilham terus membujukku untuk tetap melanjutkan perjalanan. Dia berkata bahwa puncak sudah tidak terlalu jauh dan akan disayangkan jika kembali maka pengalaman mendaki pertamaku tentu akan hilang begitu saja. Akan tetapi aku masih merasa ada perasaan ragu didalam diriku, walaupun berpikir lumayan lama akhirnya aku mengikuti apa yang dikatakan oleh Ilham, karena jika dipikir lagi jika kembali akan membuat perjalanan yang sudah lumayan jauh ini sia-sia.

Saat akan melewati pohon besar tadi, Ilham memintaku untuk membaca doa sepanjang jalan. Ia mengatakan agar hati menjadi lebih tenang, dan perjalanan ketika melewati pohon tidak akan terjadi sesuatu. Aku mengikuti perintah Ilham dan membaca pelan-pelan karena masih ada rasa takut. Namun, Ilham justru menyuruhku untuk membacanya yang lebih keras. Aku kesal mendengarnya dan mengatakan,  “Orang takut disuruh baca yang keras, kamu aja mending yang baca. Kamu kan anak pondok mesti lebih tahu sama bacaannya.” 

Mendengar perkataanku Ilham tertawa kecil lalu mulai membaca doa dengan suara yang lebih keras dan jelas. Sehingga dari bacaan itu aku merasa lebih tenang dan kemudian aku berjalan didepan Ilham sambil terus mempercepat langkah.

Setelah berhasil melewati pohon itu, aku merasa sedikit lega. Namun, rasa takut masih tersisa sehingga aku memutuskan untuk terus berjalan lebih cepat menuju puncak. Ilham sampai berteriak dari belakang agar aku menunggunya. Dia lalu berlari kecil mengejarku sambil tertawa melihat tingkahku yang masih ketakutan. Meski kesal, aku juga mulai bisa tertawa kecil. Suasana yang tadinya menegangkan perlahan berubah menjadi lebih ringan.

Tidak lama kemudian kami sampai di area dekat dengan puncak. Di sana terdapat beberapa pendaki lain yang juga sedang beristirahat. Aku merasa sangat lega melihat banyak orang. Kami duduk sejenak di salah satu batu sambil minum dan mengatur napas. Kakiku terasa sangat pegal, betisku rasanya tegang sekali, dan napas masih belum bisa diatur seperti sedia kala. Aku menatap ke arah bawah dan melihat jalur yang sudah kami lewati. Baru saat itu aku sadar bahwa perjalanan kami sudah cukup jauh.

Setelah tenaga kembali, kami melanjutkan langkah terakhir menuju puncak. Jalan terakhir ternyata lebih sulit. Tanahnya kering dan berdebu sehingga licin saat diinjak. Matahari juga mulai terasa panas karena sudah semakin tinggi. Namun, semangatku justru semakin bertambah besar. Aku ingin segera membuktikan bahwa aku bisa menyelesaikan pendakian pertamaku. Dengan langkah perlahan namun pasti, kami terus naik sampai akhirnya tiba di puncak bukit tersebut.

Sesampainya di atas, semua rasa takut dan juga lelah rasanya langsung terbayar lunas. Pemandangan di depan mata begitu indah. Gunung-gunung berdiri sangat megah di kejauhan, perbukitan hijau yang membentang luas, juga langit yang tampak biru cerah tanpa batas. Angin sejuk berhembus secara pelan mengenai tubuh kami. Aku berdiri beberapa saat sambil menikmati susasana. Tidak menyangka aku bisa sampai dipuncak, walaupun di perjalanan penuh rasa takut tapi dengan keteguhan dan dorongan dari Ilham akhirnya bisa membawaku sampai ketempat seindah ini. Aku menoleh kearah Ilham yang sedang tersenyum puas. Kami saling tertawa mengingat kejadian ditengah perjalanan tadi, terutama saat aku panik melihat perempuan bermata hitam dan ketika topiku terbang. (*)