Dua Kali Jujur, Dua Kali Patah

Oleh Rakha Naufal Wardoyo

SMA Negeri 2 Pati adalah sekolah yang memiliki 48 kelas yang didukung fasilitas memadai, ruang kelas yang nyaman untuk belajar, serta dedikasi guru dan karyawan yang luar biasa. Jarak antara rumah dan sekolah tak seberapa, hanya sekitar 200 meter. Aku tidak perlu mengendarai sepeda motor sehingga dapat menghemat bensin dan mengurangi polusi. Di sekolah inilah, selain menuntut ilmu, aku merajut cerita yang membekas di hati bersama teman-teman. Tempat ini pula menjadi saksi bisu jalinan kasih antarsiswa. Aku pun mengalami hal serupa, tetapi dengan alur yang sedikit berbeda.

Semuanya berawal pada November 2023 di lobi sekolah. Saat itu, aku menggantikan ketua kelas sebagai perwakilan untuk menyampaikan informasi kepada teman-teman kelasku tentang lomba classmeeting yang akan diadakan pada Desember mendatang. Seorang siswi dari kelas XI-4 bernama Nana tiba-tiba menghampiriku.

“Rakha, bisa jelaskan ulang masing-masing teknis perlombaan?” tanyanya. Aku sempat tertegun, bertanya-tanya dalam hati bagaimana ia tahu namaku, padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya.

“Oh, itu. Sini, biar kujelaskan,” jawabku sembari menjelaskan semuanya yang kucatat. Setelah semua informasi tersampaikan, ia mengucapkan terima kasih. Sebelum kembali ke kelas, kami berbincang sejenak. Kemudian, aku meminta nomor teleponnya agar mempermudah koordinasi informasi terbaru terkait lomba. Sesampainya di kelas, aku langsung menghubunginya dan menyatakan niat untuk berteman. Dia membalas singkat, “Boleh, ayo kita berteman.” Dalam hati aku merutuk, “Sial, seharusnya kutanyakan langsung tadi ya, kenapa baru kepikiran sekarang?”

Meskipun jarang bersua secara fisik, kami saling terhubung melalui pesan singkat. Kami membahas tugas sekolah, mengeluhkan guru yang menyebalkan, hingga bercerita tentang teman-teman kelasnya. Di sekolah kami, penjurusan di kelas XI membuat formasi kelas diacak kembali, sehingga semua murid harus beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru dari berbagai kelas X, sehingga tidak heran kalau dia terkadang mengeluh terkait kurangnya kekompakan dan miskomunikasi di kelasnya.

Komunikasi kami lebih banyak terjadi di dunia maya ketimbang kontak fisik. Mulai dari topik lucu hingga serius, tak lupa saling memberikan semangat. Hingga akhirnya, aku tiba di fase jatuh hati. Tepat tiga bulan setelah lomba classmeeting, yakni bulan Februari 2024, perasaan itu mulai mengakar. Awalnya aku tidak yakin apakah ini hanya sekadar kegaguman atau sesuatu yang lebih. Namun, sikapnya yang dewasa dan kemurahan hatinya membuat perasaan ini kian membuncah hingga sering kali membawaku ke alam lamun.

Namun, aku memiliki warna lain di sekolah ini. Namanya Abel dari kelas XI-5. Mungkin secara fisik, dia jauh dari kata sempurna, namun dia adalah pendengar yang baik pada saat aku butuh tempat untuk mencurahkan isi hati, sesuatu yang tak semua temanku mampu melakukannya. Perkenalan kami bermula pada 26 Februari 2024, saat ia mengirimiku pesan di Instagram setelah dia melihat story yang kuunggah. Pada bulan ini, aku sedang jatuh hati pada Nana.

Bersama Abel, aku menghabiskan waktu dengannya di kantin atau di kelasku. Tetapi kami lebih sering mengirimi pesan via WhatsApp, mulai dari saling mengirim foto hingga bertelepon di waktu senggang. Ia bahkan memberiku gelang couple—sebuah simbol yang biasanya digunakan oleh mereka yang memiliki hubungan spesial. Milikku berhiaskan aksesori bintang, sedangkan miliknya berbentuk bulan.

Tidak ada komitmen, tidak ada status, hanya kemesraan yang tumbuh secara organik tanpa arah yang jelas—sebuah fenomena yang oleh remaja zaman sekarang disebut sebagai hubungan tanpa status (HTS). Saat itu, Abel sebenarnya sedang menjalin hubungan dengan orang lain, namun pacarnya tidak keberatan. Aku sempat tersentak karena aku merasa tidak enak hati dekat dengan seseorang yang sudah “berpunya”. Namun, hatiku tetap terhambat pada Nana walaupun aku nyaman dengan Abel.

Hari demi hari, perasaanku pada Nana semakin bergejolak, bahkan ingin bertemu dengannya pun aku harus berpikir dua kali karena jantungku pasti akan berdetak kencang jika berada di hadapannya. Hal itu terbukti saat aku meminta foto bersama di depan kelasnya. Di satu sisi aku merasa sangat bahagia, namun di sisi lain aku merasa malu karena diledek habis-habisan oleh teman-teman kelasnya dari balik jendela. Rasanya seperti sedang bermimpi di siang bolong. 

Setelah empat bulan memendam rasa, tepatnya di bulan Juni, aku merasa saatnya untuk jujur. Kuambil secarik kertas dan menulis di atasnya. Setelah itu, kulipat menjadi bentuk hati dengan panduan tutorial dari YouTube. Rencananya, aku ingin memberikan surat itu secara langsung di tempat sepi. Aku sempat ingin menyertakan hadiah atau buket, namun anggaranku terbatas. Lagipula, ini hanyalah sebuah pengutaraan rasa sederhana. Sebelum mengeksekusi rencana, aku mengiriminya pesan untuk bertemu.

Namun, rencana itu tertunda karena sebentar lagi akan dilaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS) selama dua minggu. Itu berarti semua harus fokus belajar untuk mendapatkan nilai bagus. Setelah ujian berakhir, kembali pada rencana, yaitu menyerahkan surat kepada Nana. Aku menunggu waktu yang sesuai. Tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Nana, “Rakha, mending bilang saja di sini daripada kelamaan.”

Tanpa berlama-lama, aku mengetikkan balasan, “Sebenarnya, aku mau ngomong berdua langsung, tapi sebelum terlambat, aku ngomong sekarang. Aku mau bilang kalau aku… ada rasa sama kamu.” Hasilnya tidak semanis permen. Nana mengatakan bahwa ia saat ini merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan ingin fokus pada masa depan. Meskipun ia sudah sempat memintaku berbicara lewat pesan saja, aku tetap ingin memberikan secarik kertas berbentuk hati itu. Saat kami bertemu, kuberikan surat itu langsung ke tangannya. Namun, harapanku tetap tak berujung manis. Melalui pesan singkat setelahnya, jawabannya masih sama. Walaupun pahit, aku berusaha menerima kenyataan dan tetap mendukung keputusannya itu. Hatiku menangis. Ada rasa ingin berteriak sekencang-kencangnya, namun tak bisa. Beberapa bulan kemudian, aku sudah berdamai dengan keadaan dan kami masih berteman baik.

Lalu, bagaimana dengan Abel? Hubungan tanpa status ini terus berlanjut sampai kelas XII. Awalnya masih terasa biasa, saling berkabar, menelepon, dan mengirim foto. Namun, aku akhirnya tiba di fase di mana aku juga menaruh rasa padanya. Hal yang kutakuti terjadi. Aku tak ingin menjadi perusak hubungan orang lain, tapi aku pun tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku lantas mengirim pesan dan berterus terang padanya. 

Abel berterima kasih atas kejujuranku, namun aku harus menerima kenyataan pahit untuk kedua kalinya. Kami sempat tidak saling bicara, bahkan tidak bertemu selama kurang lebih seminggu karena rasa canggung yang menyelimuti kami. Namun, setelah seminggu berlalu, ia mengajakku berbicara empat mata. Setelah pembicaraan yang cukup lama dan dalam, kami saling memaafkan dan berjanji untuk menjaga tali persahabatan. 

Dari kejadian ini, aku sadar bahwa dalam pertemanan antara laki-laki dan perempuan, sering kali terselip perasaan yang suatu saat pasti akan terungkap. Ada yang berakhir menjadi asing, ada yang menjadi pasangan, dan ada pula yang memilih untuk berdamai demi menjaga keutuhan persahabatan.(*)