Menjelajahi Kota Semarang

Oleh Nanda Shafira Naila Rahma

Pada suatu sore hari yang cukup cerah, aku bersama temanku yang bernama Celsea memutuskan untuk pergi ke Lawang Sewu. Kami sudah merencanakan kegiatan ini sejak beberapa hari sebelumnya karena ingin mengerjakan tugas sekolah sekaligus jalan-jalan. Tugas yang diberikan oleh guru adalah membuat video mengenai sejarah Lawang Sewu. Kami merasa bahwa mengerjakan tugas di tempat langsung akan membuat hasilnya lebih bagus dan jelas. Selain itu, kami juga ingin merasakan suasana di dalam bangunan bersejarah tersebut. Aku sebenarnya sudah cukup lama ingin mengunjungi Lawang Sewu, tetapi baru kali ini memiliki kesempatan. Celsea juga terlihat sangat bersemangat sejak awal merencanakan perjalanan ini. Kami berdua merasa senang karena bisa mengerjakan tugas bersama, jadi tidak terasa membosankan. Selain belajar, kami juga berharap bisa mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan. Aku sempat berkata kepada Celsea, “Akhirnya jadi juga ya ke Lawang Sewu.” Celsea langsung menjawab, “Iya, dari kemarin cuma wacana doang.” Kami pun tertawa kecil karena merasa rencana ini akhirnya benar-benar terlaksana.

Sebelum berangkat, kami terlebih dahulu mempersiapkan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan. Aku memastikan ponsel yang akan digunakan untuk merekam video memiliki baterai yang penuh. Celsea juga membawa ponselnya sebagai cadangan agar tidak terjadi masalah saat merekam. Selain itu, kami membawa buku catatan untuk menulis informasi penting yang kami temukan di sana. Kami juga menyiapkan alat tulis seperti pulpen dan pensil agar bisa mencatat dengan mudah. Tidak lupa, kami membawa tas kecil untuk menyimpan semua perlengkapan tersebut agar tidak tercecer. Kami juga membawa sedikit uang untuk membeli tiket masuk dan berjaga-jaga jika ingin membeli sesuatu. Aku sempat bertanya, “Kamu udah bawa buku catatan belum?” Celsea menjawab santai, “Udah dong, masa lupa.” Kami juga menyiapkan air minum agar tidak merasa haus selama perjalanan. Semua barang kami periksa kembali satu per satu. Setelah yakin semuanya sudah lengkap, kami merasa lebih siap untuk berangkat.

Setelah semua persiapan selesai, kami pun keluar dari rumah dengan penuh semangat. Aku dan Celsea berjalan menuju halte Trans Semarang yang tidak terlalu jauh dari rumah. Selama berjalan, kami berbincang santai tentang apa saja yang akan kami lakukan di Lawang Sewu nanti. Kami juga membahas pembagian tugas agar pekerjaan kami lebih mudah. Celsea berkata, “Nanti aku yang pegang kamera ya.” Aku menjawab, “Oke, aku yang jelasin materinya.” Kami merasa pembagian tugas ini cukup adil dan memudahkan. Sesampainya di halte, kami melihat beberapa orang lain juga sedang menunggu bus. Suasana di halte terlihat cukup ramai, tetapi tetap tertib. Kami duduk di kursi halte sambil menunggu bus datang. Sesekali kami melihat ke arah jalan, berharap bus segera tiba. Tidak lama kemudian, bus yang kami tunggu akhirnya terlihat mendekat. Kami pun berdiri dan bersiap untuk naik.

Ketika bus Trans Semarang tiba, kami segera naik dengan tertib bersama penumpang lain. Kami mencari tempat duduk yang kosong agar bisa duduk dengan nyaman selama perjalanan. Untungnya, masih ada dua kursi kosong yang bersebelahan. Aku langsung duduk di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan di luar. Di dalam bus, suasana terasa cukup ramai dengan berbagai penumpang. Ada yang sibuk bermain ponsel, ada juga yang berbicara dengan temannya. Aku berkata pelan kepada Celsea, “Untung dapet tempat duduk.” Celsea menjawab, “Iya, kalau berdiri capek juga.” Kami lalu mulai menikmati perjalanan dengan santai. Sesekali kami melihat keluar jendela untuk menikmati pemandangan kota. Kendaraan terlihat ramai di jalan, yang membuat suasana terasa hidup. Kami merasa perjalanan ini cukup menyenangkan.

Perjalanan menuju pusat Kota Semarang terasa cukup panjang, tetapi tidak membosankan. Selama perjalanan, kami melihat banyak bangunan di sepanjang jalan. Ada toko-toko kecil, minimarket, hingga gedung-gedung besar. Kami juga melihat beberapa pedagang yang menjual makanan di pinggir jalan. Aroma makanan kadang tercium hingga ke dalam bus. Aku sempat berkata, “Kayaknya enak tuh makanannya.” Celsea menjawab sambil tertawa, “Fokus tugas dulu, jangan mikir makan terus.” Kami pun tertawa kecil mendengar jawabannya. Pemandangan yang terus berubah membuat kami tidak merasa bosan. Bus terus melaju melewati beberapa persimpangan jalan yang ramai. Kami tetap duduk dengan santai sambil menunggu sampai tujuan. Setelah beberapa waktu, bus akhirnya mendekati halte tempat kami harus turun. Kami pun bersiap untuk turun dari bus.

Kami akhirnya tiba di halte dekat kantor Wali Kota Semarang. Setelah turun dari bus, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Lawang Sewu. Jalan yang kami lewati cukup ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang. Kami berjalan di trotoar dengan hati-hati agar tetap aman. Udara sore itu terasa cukup sejuk sehingga membuat perjalanan terasa nyaman. Dari kejauhan, bangunan Lawang Sewu mulai terlihat jelas. Aku langsung menunjuk ke arah gedung itu dan berkata, “Itu loh, Lawang Sewu.” Celsea melihat ke arah yang aku tunjuk dan berkata, “Wah, gede banget ya.” Kami semakin bersemangat untuk segera sampai di sana. Sepanjang perjalanan, kami juga melihat beberapa orang yang sedang berfoto di sekitar area tersebut. Hal itu membuat kami semakin tidak sabar untuk masuk ke dalam. Tidak lama kemudian, kami akhirnya tiba di depan Lawang Sewu.

Sesampainya di Lawang Sewu, kami langsung terpesona oleh keindahan bangunannya. Bangunan tersebut terlihat sangat megah dan kokoh dari luar. Banyak pintu dan jendela tinggi yang tersusun rapi di setiap sisi bangunan. Arsitektur bangunan terlihat unik dan berbeda dari bangunan lain di sekitarnya. Kami sempat berhenti sejenak untuk melihat bangunan tersebut lebih dekat. Aku berkata, “Bagus banget ya tempatnya.” Celsea mengangguk dan menjawab, “Iya, cocok banget buat foto.” Kami lalu mengambil beberapa foto di depan gedung sebagai kenang-kenangan. Banyak pengunjung lain yang juga terlihat sedang berfoto di sekitar area. Suasana di sekitar Lawang Sewu terlihat cukup ramai. Kami merasa sangat kagum melihat bangunan tersebut secara langsung. Setelah puas melihat dari luar, kami pun menuju loket tiket.

Setelah itu, kami menuju loket untuk membeli tiket masuk. Kami mengantre bersama pengunjung lain dengan tertib. Suasana di sekitar loket cukup ramai, tetapi tetap teratur. Ketika giliran kami tiba, kami membeli tiket sesuai ketentuan yang berlaku. Petugas loket memberikan tiket yang kemudian kami simpan dengan baik. Aku berkata, “Jangan sampai hilang ya tiketnya.” Celsea menjawab santai, “Tenang aja, aman.” Setelah mendapatkan tiket, kami berjalan menuju pintu masuk. Kami menunjukkan tiket kepada petugas yang berjaga di pintu. Setelah diperiksa, kami pun diperbolehkan masuk ke dalam gedung. Saat pertama kali masuk, kami langsung merasakan udara yang cukup sejuk. Di dalam gedung terdapat banyak ruangan yang luas dan lorong-lorong panjang. Kami mulai berjalan perlahan sambil melihat-lihat sekeliling.

Di dalam Lawang Sewu, kami melihat banyak foto lama yang dipajang di dinding. Foto-foto tersebut menunjukkan keadaan Lawang Sewu pada masa lalu. Kami juga melihat beberapa peta bangunan yang menjelaskan bagian-bagian gedung. Selain itu, terdapat beberapa benda bersejarah yang disimpan dengan rapi. Aku berkata, “Seru juga lihat sejarah langsung begini.” Celsea menjawab, “Iya, jadi nggak cuma baca di buku.” Kami membaca beberapa informasi yang tertulis di dinding. Tulisan tersebut menjelaskan sejarah pembangunan Lawang Sewu. Suasana di dalam gedung terasa tenang dan nyaman. Udara di dalam juga terasa sejuk meskipun banyak pengunjung. Kami berjalan perlahan sambil mengamati setiap sudut ruangan. Semua informasi yang kami lihat sangat membantu untuk tugas video kami.

Kami mulai mengeksplorasi setiap bagian Lawang Sewu dengan penuh rasa penasaran. Kami naik ke lantai atas melalui tangga yang cukup besar dan kokoh. Lorong-lorong panjang membuat suasana terasa unik dan sedikit menegangkan. Kami berjalan perlahan sambil memperhatikan setiap detail bangunan. Sesekali, kami berhenti untuk mengambil foto sebagai dokumentasi. Aku berkata, “Lorongnya panjang banget ya.” Celsea menjawab, “Iya, kayak nggak ada habisnya.” Kami juga melihat beberapa pengunjung lain yang sedang berkeliling. Setiap ruangan memiliki bentuk yang berbeda-beda. Kami merasa senang bisa melihat bagian dalam gedung secara langsung. Pengalaman ini membuat kami semakin tertarik untuk mempelajari sejarahnya. Kami terus melanjutkan eksplorasi dengan penuh semangat.

Selain berkeliling, kami juga mulai mengerjakan tugas video mengenai sejarah Lawang Sewu. Celsea mulai merekam video menggunakan ponselnya. Aku berdiri di depan kamera untuk menjelaskan informasi yang telah dipelajari sebelumnya. Awalnya aku sempat gugup, tetapi kemudian mulai terbiasa. Aku sempat berkata, “Ulang lagi deh, tadi salah ngomong.” Celsea menjawab sambil tertawa, “Iya, santai aja.” Kami mengulang beberapa bagian agar hasil videonya lebih bagus. Kami memilih tempat yang cukup terang agar video terlihat jelas. Proses perekaman berjalan cukup lancar meskipun harus beberapa kali mengulang. Kami saling membantu dan memberi saran satu sama lain. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya kami mendapatkan hasil yang cukup baik. Kami merasa lega karena tugas hampir selesai.

Kami terus mengeksplorasi Lawang Sewu hingga waktu menjelang magrib. Cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela membuat suasana di dalam gedung terlihat sangat indah. Warna langit yang mulai berubah membuat suasana terasa lebih tenang. Setelah semua kegiatan selesai, kami memeriksa kembali hasil video yang telah direkam. Aku berkata, “Kayaknya udah cukup deh videonya.” Celsea menjawab, “Iya, lumayan juga hasilnya.” Kami merasa puas dengan hasil kerja kami hari itu. Selain menyelesaikan tugas, kami juga mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan. Kami belajar banyak hal baru tentang sejarah Lawang Sewu. Kami juga merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama di tempat bersejarah tersebut. Setelah itu, kami bersiap untuk pulang dengan perasaan bahagia. Perjalanan hari itu menjadi kenangan yang tidak akan mudah dilupakan.(*)