Tekan Polusi Udara dan Dukung SDGs 13, Mahasiswa KKN UNNES Bangun Inovasi ROCAP di Desa Depok

BANJARNEGARA — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Semarang (UNNES) Giat 16 yang bertugas di Desa Depok, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara kembali menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Guna mengatasi permasalahan sampah rumah tangga sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, tim mahasiswa menginisiasi program inovatif bernama ROCAP. Fasilitas pengelolaan sampah berbasis teknologi rocket stove ini dibangun secara khusus di wilayah Kedungwuluh RT 04/RW 02, Desa Depok, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara.

Desa Depok memiliki populasi sekitar 1.053 jiwa dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani. Tingginya aktivitas keseharian warga menghasilkan volume sampah organik yang cukup besar, mulai dari sisa dapur hingga tumpukan daun dan ranting kering. Sayangnya, ketiadaan fasilitas pengelolaan sampah di tingkat desa membuat masyarakat terbiasa membuang sampah langsung ke sungai atau melakukan praktik pembakaran terbuka di pekarangan rumah. Merespons kondisi tersebut, mahasiswa menghadirkan Program Kerja ROCAP sebagai fasilitas pembakaran sampah bersama dengan tujuan sebagai contoh. Inovasi ini mengadaptasi teknologi rocket stove dengan menggunakan material utama bata ringan (hebel). Sifat isolasi termal yang tinggi pada bata ringan mampu memfokuskan suhu panas di dalam ruang bakar. Kondisi ini menciptakan proses pembakaran yang jauh lebih optimal sehingga emisi asap beracun dapat ditekan secara drastis.

Pembangunan unit ROCAP di Kedungwuluh dilaksanakan secara terstruktur dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat, khususnya dukungan dari Ketua RT 04, Bapak Rasipan disertai bimbingan langsung dan didukung penuh oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Asep Purwo Yudi Utomo, M.Pd.

“Fasilitas ini menjadi jawaban atas kebingungan warga yang selama ini tidak memiliki tempat pembuangan sampah yang layak. Kami sangat mengapresiasi kebiasaan baru yang mulai terbentuk dari inovasi adik-adik KKN,” ujar Rasipan.

Proses realisasi program ini mencakup beberapa tahapan utama:

  • Perencanaan dan Perizinan: Observasi awal ke lokasi bantaran sungai yang sering dijadikan tempat pembuangan sampah, dilanjutkan dengan permohonan izin lahan kepada perangkat RT setempat.
  • Desain dan Kalkulasi: Penyusunan desain konstruksi presisi yang membutuhkan 102 potong balok bata ringan yang dibagi ke dalam 19 tipe komponen berbeda, serta penambahan 9 batang besi penyangga.
  • Persiapan Material: Pemotongan dan pembentukan bata ringan secara manual sesuai dengan cetak biru konstruksi.
  • Konstruksi Fisik: Proses perakitan yang dilakukan secara gotong royong pada 29–30 Juli, menyusun bagian dasar, tungku utama, hingga struktur cerobong atas.
  • Uji Coba: Pengujian penyalaan menggunakan limbah biomassa kering pada 30 Juli. Hasilnya menunjukkan penurunan intensitas asap yang sangat signifikan ketika suhu ruang bakar telah mencapai titik stabil.
  • Serah Terima: Penyerahan operasional unit ROCAP kepada Ketua RT selaku penanggung jawab pemeliharaan.

Selain menyerahkan unit fisik, mahasiswa juga membekali masyarakat dengan buku panduan konstruksi bergambar. Hal ini bertujuan agar warga dapat merawat, memperbaiki, atau bahkan mereplikasi alat serupa secara mandiri di titik-titik lain di Desa Depok. Melalui intervensi ini, diharapkan terjadi perubahan perilaku masyarakat dari kebiasaan membuang sampah sembarangan menjadi pengelolaan sampah yang bertanggung jawab demi menciptakan lingkungan desa yang bersih, sehat, dan bebas polusi.