Desa Sukaragam adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Kini desa ini dikenal sebagai daerah yang terus berkembang. Saat ini sudah banyak perumahan-perumahan, toko-toko, rumah makan, dan masih banyak lagi tempat-tempat yang dibangun seiring perkembangan zaman.
Namun siapa sangka dulu Desa Sukaragam hanyalah hamparan tanah kosong yang sunyi. Walaupun sampai saat ini memang masih ada beberapa lahan persawahan yang belum diganti alih jadi perumahan. Saya baru tahu cerita ini dari tetangga saya, Bu Mira yang menceritakan cerita yang pernah ia dengar pula saat beliau masih kecil, saat saya dan teman-teman saya duduk di teras rumahnya menjelang magrib. “Nak, dulu di sini itu cuma alang-alang dan semak belukar, beda sekali sama saat ini,” katanya sambil memandangi langit jingga.
Menurut cerita yang Bu Mira pernah dengar, sekitar tahun 1960-an, datang sekelompok keluarga dari arah selatan yang ingin menetap. Mereka membawa budaya masing-masing, tapi punya satu tujuan yaitu hidup damai dan membangun kampung. “Mereka datang bukan karena kaya, tapi karena ingin mulai hidup baru,” ucap Bu Mira pelan.
Nama ‘Sukaragam’ bukan diberikan sembarangan. Bu Mira bilang, nama itu muncul dari musyawarah para sesepuh yang duduk melingkar di bawah pohon jati besar yang diduga pohon tersebut sekarang berada di kantor kelurahan. “Waktu itu, mereka sepakat memberi nama yang mencerminkan harapan. ‘Suka’ karena ingin bahagia, ‘Ragam’ karena mereka berasal dari suku yang berbeda-beda,” jelasnya sambil tersenyum kecil.
Yang menarik, kata Bu Mira, dulu masyarakat hidup sangat bergantung pada sungai kecil yang kini sudah mengering. Dari sanalah mereka mengambil air, mencuci, bahkan mencari ikan untuk makan sehari-hari. “Air itu dulu seperti nyawa bagi warga zaman itu, tetapi mereka tetap saling menguatkan dan tolong menolong.”
Ketika desa mulai berkembang, pemerintah daerah pun akhirnya melirik wilayah ini untuk dijadikan desa resmi. Surat-surat diajukan, dan setelah proses panjang, Desa Sukaragam pun resmi berdiri. “Waktu itu warga syukuran ramai-ramai. Masak tumpeng, main rebana, semuanya bahagia,” kata Bu Mira mengingat cerita yang pernah ia dengar.
Bu Mira juga bilang, dulu sebelum ada listrik, anak-anak belajar pakai lampu teplok dan orang-orang masih ke pasar jalan kaki sejauh dua kilometer, sedangkan saat ini sudah banyak pasar bahkan banyak didirikan supermarket yang buka 24 jam.
Kata-kata Bu Mira terasa lebih dalam dari sekadar dongeng. Di balik nama ‘Sukaragam’ ada kisah perjuangan, persatuan, dan harapan. Dan selama masih ada yang menceritakan, sejarah itu tidak akan pernah benar-benar hilang.
Dari cerita yang dituturkan Bu Mira, kita dapat memahami bahwa Desa Sukaragam memiliki sejarah yang penuh makna. Desa ini tumbuh dari sebuah tanah kosong yang dulunya sunyi, menjadi tempat tinggal yang damai berkat semangat kebersamaan dan harapan para pendatang awal. Nama ‘Sukaragam’ pun bukan sekadar nama, melainkan cerminan dari harapan akan kebahagiaan dan keragaman suku yang hidup berdampingan.
Seiring berjalannya waktu, desa ini terus mengalami perkembangan yang pesat. Dari yang awalnya hanya memiliki sungai kecil sebagai sumber kehidupan, kini Desa Sukaragam telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern seperti perumahan, toko, pasar, dan tempat makan. Perubahan ini menunjukkan betapa masyarakatnya mampu beradaptasi dan terus maju tanpa melupakan nilai-nilai kebersamaan yang telah diwariskan sejak dulu.
Kini, Desa Sukaragam menjadi rumah bagi masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan budaya. Keberagaman ini menjadi kekuatan utama dalam mendorong kemajuan desa. Saya merasa bersyukur dan terinspirasi mendengar bagaimana keragaman suku justru menjadi alasan untuk bersatu dan membangun. Desa Sukaragam hari ini adalah bukti nyata bahwa dari perbedaan bisa tumbuh kekuatan.(*)
Oleh Natavia Berlianti Nainggolan