Tahu Jengger: Transisi Tahu Aci di Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal

Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal menjadi saksi seorang legendaris pembuat makanan khas Slawi, Kabupaten Tegal. Rambut yang telah memutih bagai kapas, tenaga yang tak lagi muda, namun semangat nya tak pernah menua. Orang bilang beliau memiliki tangan emas, apapun makanan yang dibuatnya, mereka tak pernah lupa akan rasanya. Mbok Yem dikenal sebagai legendaris tahu jengger di Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal. Namanya dikenal masyarakat sebagai pencetus tahu legendaris hingga kini yang disebut Tahu Aci.

Setiap sore para tetangga srawung di pelataran rumah Mbok Yem. Itu membuat rumah Mbok Yem menjadi tempat kumpul para tetangga. Srawung menjadi salah satu tradisi melekat di Kabupaten Tegal untuk meningkatkan persaudaraan dan kebersamaan antartetangga. Saling bertukar cerita, kabar, canda dan tawa, hingga saling bersua makanan. Tidak dapat dipungkiri, kala srawung akan semakin gayeng jika ada Ciblek, sosok sinden pewayangan yang dikenal dengan guyonannya yang matang.

Kiye rene loh Mbok Yem, rame koyo ngene kok malah ngosrang ngasreng neng dapur wae.” (Ayo ke sini Mbok Yem, di sini ramai kok malah masak-masak di dapur terus)

Sindiran Ciblek untuk Mbok Yem yang tengah sibuk di dapur sendirian. Mbok Yem senang ketika banyak orang yang srawung di pelataran rumahnya. Tak sedikit pun ia risih soal kebisingan dari obrolan tetangga nya itu. Justru ia merasa bahagia, karena di masa belia nya ia tak kesepian. Apalagi tradisi srawung membuat para tetangga semakin gayeng. Hampir setiap hari Mbok Yem selalu menyediakan makanan untuk menjadi teman ngobrol saat srawung. Apa pun yang dibuatnya, para tetangga selalu memuji makanannya, tak sesekali Mbok Yem membuat makanan yang terkadang terlihat asing oleh orang-orang. Anehnya, makanan yang terlihat asing tersebut terasa enak ketika dimakan, terlebih dimakan bersama-sama. Akan lebih lengkap rasanya seperti kumpul dengan sanak saudara.

Tak lama setelah Ciblek menyindir Mbok Yem, ia pun datang dengan membawa satu piring tahu. Namun, tahu yang dibawanya terlihat asing bagi para tetangganya itu.

Gawe apa kiye, Mbok? Kok bentuke jengger ayam kaya kiye? Kok unik?” (Buat apa ini, Mbok? Kok bentuknya jengger ayam seperti ini? Kok unik?) tanya Pak Darmo, ketua RT setempat.

Mbok Yem yang juga tak tahu nama masakannya itu pun kebingungan menjawabnya, “Mbuh, Pak RT, nyong ya bingung jenenge apa kuwe. Coba dicicipi disit bae.” (Tidak tahu Pak, saya juga bingung namanya apa itu)

Lah kebiasaane Mbok Yem iku gawe masakan dhewe tapi ora ngerti jenenge apa” (lah, kebiasaannya Mbok Yem kalau membuat masakan sendiri tapi tidak tahu apa namanya) ujar Ciblek sambil memakan tahu tersebut.

“Lho enak Mbok tahune, kiye tahu ana jengger ayame kaya pan ngadu ayam ana jenggere kaya kiye Mbok,” (Lho enak Mbok tahunya. Ini tahu ada jengger ayamnya seperti mau sabung ayam dengan ayam karena ada jengger ayamnya seperti ini, Mbok) sambung Ciblek yang terus mengoceh tahu buatan Mbok Yem dengan nada medhok nya. Ramai tetangga mencicipi tahu berbentuk jengger ayam, mereka memuji karena rasanya yang begitu enak, apalagi ketika disantap saat masih hangat.

Tahu dengan aci yang berbentuk jengger ayam seketika menjadi perbincangan srawung kala itu. Mereka sibuk memikirkan sebutan untuk tahu yang dibuat oleh Mbok Yem. Berbagai macam nama mereka usulkan, namun pada akhirnya nama tahu tersebut tetap diberi nama “Tahu Jengger”.

Mbok, tahu sing njenengan gawe kiye eman-eman lho yen ora didadikna bisnis. Cobi di dolke” (Mbok, tahu yang dibuat ini sayang kalau tidak dijadikan bisnis. Coba di perjual-belikan) ujar Pak Rano tukang becak juga salah satu tetangga Mbok Yem. 

Sontak para tetangga setuju akan pendapat dari Pak Rano. Tak lama suara bedug masjid terdengar, pertanda waktu maghrib telah tiba. Para tetangga kembali ke rumah masing-masing dan Mbok Yem masuk ke dalam rumahnya. Mbok Yem akhirnya memutuskan akan berjualan tahu jengger.

Keesokan harinya Mbok Yem mulai berjualan di depan rumahnya, etalase dengan tulisan “Tahu Jengger” membuat orang-orang yang melewati rumahnya itu kebingungan. Namun, tuah dari nama “Tahu Jengger” membuat orang-orang terpikat akan keunikan nama tersebut. Jualan Mbok Yem laris manis. Tak sampai 2 jam berjualan, tahu buatannya habis begitu saja. Banyak orang setelah membeli dan mencicipi tahu tersebut memuji bahwa tahu jengger yang diciptakan dan diolah Mbok Yem rasanya sangat enak juga gurih. Beberapa orang bertanya dengan nama tahu tersebut, mengapa dinamakan tahu jengger. Hal ini membuat Mbok Yem juga kebingungan akan menjawab apa.

Tahu jengger buatan Mbok Yem terus di perjualbelikan. Pada akhirnya warga kabupaten Tegal banyak yang berjualan tahu jengger seperti Mbok Yem. Namun, rasanya tetap berbeda tak seenak buatan dari tangan emas Mbok Yem. Setiap pembeli datang untuk membeli tahu jengger buatan Mbok Yem

Tahu jengger buatan Mbok Yem terus bersinergi sampai ke luar kota. Nama uniknya kian melejit yang menimbulkan banyak sekali pertanyaan bagi masyarakat. Ciblek menjadi salah satu pembeli langganan tahu jengger Mbok Yem, sebab setiap hari Ciblek selalu membeli tahu tersebut.

Mbok, kiye namane ora pan diganti apa? Jan namane angelan, kuwe Tahu Jengger tapi gawene dudu saking jengger ayam, tapi saking Aci. Pimen yen diganti saking Tahu Jengger dadi Tahu Aci Mbok?” (Mbok, ini namanya tidak mau diganti? Namanya terlalu susah, tahu jengger tapi dibuatnya bukan dari jengger ayam, tapi dari aci) kata Ciblek memulai percakapan dengan Mbok Yem.

Pembeli yang sedang menunggu tahu jengger Mbok Yem pun ikut menyimak pembicaraan Mbok Yem dengan Ciblek. Mereka sangat setuju sebutan tahu jengger diganti menjadi tahu aci karena tahu yang berbentuk jengger itu terbuat dari aci. Semua sepakat dengan usulan Ciblek, sehingga Mbok Yem mengganti nama Tahu Jengger yang ada di etalase nya dengan nama Tahu Aci Khas Tegal. Dari situlah transisi nama tahu jengger menjadi tahu aci. Walaupun sebutannya sudah berbeda, namun rasanya dan khas dari tahu jengger buatan Mbok Yem tak pernah berbeda, rasanya tetap sama enaknya.(*)

Oleh Hellen Alfia Kurnia