Perjuangan Keke Melawan Kanker Ganas

Novel yang kami resensi berjudul Surat Kecil untuk Tuhan ditulis oleh seorang wanita bernama Agnes Davonar yang lahir di Jakarta. Ia memulai karirnya sebagai penulis dengan menerbitkan karya-karyanya secara online. Novel ini diterbitkan oleh Nauli Media pada tahun 2008 dengan tebal buku 201 halaman. Novel Surat Kecil Untuk Tuhan kemudian juga dijadikan film yang disutradarai oleh Fajar Bustomi pada tahun 2011.

Sinopsis novel yang berjudul “Surat Kecil untuk Tuhan” menceritakan tentang seorang gadis remaja yang Bernama Gita Sesawanda Cantika atau yang akrab dipanggil “Keke”. Ibu dan ayah Keke sudah bercerai sehingga dia tinggal bersama ayahnya dan kedua saudaranya. Keke juga mempunyai sahabat yaitu Maya, Syifa, Echda, Chika, Andini, Neli, Idha, Dhiton, Sysca , dan Nozia. Keke mempunyai hobi menyanyi dan modelling, dia juga beberapa kali menjadi juara model dan dia sempat membuat album cilik. 

Pada suatu hari saat dia bangun tidur matanya terasa perih dan dia langsung bercermin ternyata matanya memerah. Ketika di sekolah, teman Keke melihat hidungnya mimisan. Setelah itu, ia dibawa ke Unit Kesehatan Siswa sambil menunggu jemputan ayahnya. Kemudian Keke dibawa ke dokter pribadi keluarganya yang bernama Dr. Fendy. Keke diberi obat oleh Dr. Fendy selama lima hari. Namun selama lima hari minum obat tersebut, kondisi Keke belum mengalami perubahan. 

Sesuai perintah Dr. Fendy jika selama lima hari tidak ada perkembangan, Keke harus kembali lagi ke rumah sakit menemui Prof. Lukman untuk melakukan tindakan awal. Setelah diperiksa, Prof. Lukman meminta Keke untuk keluar dari ruangan. Tetapi, ayahnya diminta untuk tetap berada dalam ruangan tersebut. Prof. Lukman memberi tahu penyakit yang diderita oleh putrinya. Setelah di diagnosa, ternyata Keke mengidap penyakit kanker ganas (Rabdomiosarkoma). Kanker tersebut merupakan jenis kanker stadium 3 dan perkembangannya hanya lima hari. Tetapi, sang ayah merahasiakan penyakit yang dideritanya dan hanya memberi tahu bahwa Keke sedang terkena flu. Kemudian ayahnya memberi tahu kepada ibu dan saudaranya tentang penyakit yang diderita oleh Keke. 

Keke mengalami perubahan pada dirinya mulai dari kehilangan rasa peka, penciuman, wajahnya semakin tak beraturan. Dia curiga dengan perubahan tersebut lalu dia melakukan pengobatan tradisional tetapi tidak mampu menyembuhkannya, selanjutnya ia mendapat informasi ada seorang haji yang bisa melenyapkan segala penyakit , lalu ia dan ayahnya mendatanginya, pak haji mengatakan bahwa Keke mengidap kanker bukan tumor. Dari situ Keke mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit kanker. Setelah Keke tahu penyakit yang diderita ia mengurung diri dikamar dan tidak boleh ada satu pun yang menganggunya.

Setelah itu, ia menjalani kemoterapi di rumah sakit selama 6 bulan. Berkat usaha yang Keke lalui ia bisa hidup lebih lama setelah vonis meninggal oleh dokternya. Efek dari kemoterapi membuat rambutnya rontok. Di tengah kegembiraannya kondisi Keke semakin memburuk dan kanker yang dialami kembali menyerang tubuhnya. Keke sempat melakukan pengobatan di Singapura dan Amerika karena tidak membuahkan hasil, lalu ia kembali ke Indonesia dan ternyata kanker tersebut mulai menjalar ke jantung, paru-paru, dan beberapa anggota tubuh lainnya. Kasus kanker ganas yang diidap oleh Keke merupakan kasus pertama yang terjadi di Indonesia dan menjadi sebuah perdebatan di kalangan kedokteran karena kanker tersebut hanya terjadi pada orang tua.

Saat melakukan perawatan di Indonesia Keke mengalami koma selama tiga hari. Di hari terakhir sebelum meninggal Keke sempat sadar dari komanya lalu paman saya memberikan selembar kertas dan bolpoin untuk menuliskan harapan. Surat itu berisi tentang kebesaran hati Keke yang Ikhlas menerima apapun yang terjadi nantinya. Dalam surat tersebut Keke juga berharap di dunia ini tidak ada lagi orang yang menderita penyakit seperti yang dideritanya. Selain itu, dia juga berharap setelah kepergiannya, keluarganya bisa kembali rukun dan mengikhlaskan kepergiannya. Dan sebuah wangi Melati muncul disaksikan oleh keluarga serta sahabatnya yang berada di detik-detik terakhir nafas Keke. Ia menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 25 Desember 2006 bertepatan dengan berakhirnya bulan Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri.

Kelebihan dari novel ini adalah diangkat dari kisah nyata , bahkan di novel tersebut juga melampirkan beberapa foto asli keke hingga pemakamannya. Selain itu pembaca juga terbawa suasana saat membacanya. Novel ini memiliki beragam pesan moral diantaranya yaitu mengajarkan kepada kita agar ikhlas, tabah, dan pantang menyerah setiap menghadapi cobaan dari tuhan. Gaya Bahasa dan alur cerita yang digunakan novel tersebut dapat membuat pembaca seolah-olah menyaksikan kisah Keke. 

Novel berjudul Surat Kecil untuk Tuhan hampir tidak memiliki kekurangan didalamnya. Akan tetapi, setiap karya manusia pasti memiliki kekurangan yang tak luput dari penilaian yang akan menghasilkan sebuah kritikan. Dalam penyusunan kata dan kalimat, novel ini masih terdapat kesalahan dalam penulisan. Selain itu juga terdapat diksi yang tidak tepat, kurang menarik, dan sulit untuk dimengerti. Novel ini juga terdapat kesalahan penulisan dalam beberapa kata yang ditulis oleh penulis, sehingga membuat penafsiran ganda pada cerita. 

Menurut kami, novel ini sangat dianjurkan untuk semua kalangan dari remaja sampai orang tua, karena didalamnya mengandung banyak pesan dan amanat. Serta novel ini dipuji sebab dapat membuat pembaca merasa seperti menyaksikan langsung cerita Keke. Selain itu mengajarkan kita tentang arti kehidupan yang sebenarnya bahwa kehidupan di dunia ini tidak ada yang kekal atau abadi dan menerima takdir dengan Ikhlas yang telah ditetapkan Tuhan kepada kita baik berupa kenikmatan maupun musibah.

Dapat disimpulkan bahwa novel berjudul Surat Kecil untuk Tuhan karya Agnes Davonar ini layak dibaca karena bahasa yang digunakan dalam novel sederhana dan mudah dipahami. Kisah perjuangan Keke dalam menghadapi kanker ganas sangat baik untuk dicerna sebagai bahan bacaan karya sastra novel. Novel ini juga mengajarkan kita tentang bagaimana kita menjalani hidup di dunia ini yang terkadang ada manis, asam, pahit kehidupan yang harus dijalani. Sebagai seorang manusia kita jangan pernah patah semangat serta pantang menyerah ketika menghadapi cobaan sebesar apapun itu. 

Oleh:

Fahmi Nur Hidayana, Ulya Fadhilatur Rohmah, Adhela Fathma Setiyani, & Efriza Kharidatul Bahiyah

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Leave a Reply