Mengulik Tempat Bersejarah di Kudus

Kota Kudus merupakan kota yang kaya akan warisan budaya dan sejarah yang mendalam. Salah satu aspek yang paling mencolok dari kota ini adalah tempat bersejarahnya yang menjadikan Kudus sebagai tujuan wisata sejarah yang menarik. Kota Kudus sendiri terkenal dengan julukannya yang ikonik yaitu “Kota Santri”. Hal ini dikarenakan di Kota Kudus terdapat ratusan pondok pesantren, selain itu di Kudus juga terdapat tempat dimakamkannya dua tokoh Walisongo yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria. Tak hanya itu, Kota Kudus juga dijuluki sebagai “Kota Kretek” karena di Kudus terdapat banyak perusahaan industri hasil tembakau atau industri rokok kretek yang khas Nusantara. 

Sejarah dan cerita dari kota Kudus sangatlah banyak. Tempat bersejarah pertama yang akan kita bahas adalah Masjid Menara Kudus. Bagi sebagian orang pasti sudah tidak asing lagi dengan Masjid Menara Kudus, apalagi untuk para peziarah. Masjid Menara Kudus terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Masjid Menara Kudus dibangun pada tahun 1549 atau 956 Hijriyah oleh Jafar Shodiq. Konon tidak ada yang serupa dengan masjid ini yang merupakan salah satu masjid tertua di pulau jawa. Masjid Kudus awalnya bernama Al-Aqsha. Masjid ini menyimpan cerita menarik dalam proses pembangunannya. Konon Sunan Kudus membangun menara masjid dengan menggosok-gosokan batu bata hingga lecet di samping menara. Bentuk menaranya seperti candi dan di dalamnya terdapat  batu  Baitul Maqdis atau Al-Quds di Yerusalem, Palestina, sesuai dengan sejarah pembangunan masjid tersebut.

Masjidnya pun memiliki keunikan lain salah satu pintu gapura yang berbentuk menyerupai gapura candi-candi di Bali. Selain di depan gapura ini juga terdapat di dalam ruang utama ibadah. Menurut sejarah, gapura tersebut merupakan sisa  gerbang dari masa awal masjid. Gerbang ini dahulu dikenal dengan “Lawang Kembar” atau pintu kembar. Masjid yang dibangun pada zaman kekuasaan Majapahit ini memiliki ciri candi Hindu khas Majapahit. Meskipun berarsitektur Hindu tidak ada hiasan berupa makhluk hidup pada menara tersebut. Menurut ahli sejarah,bangunan ini sudah disesuaikan dengan ajaran islam yang melarang adanya gambar makhluk hidup di dalam areal masjid tepatnya di bagian belakang terdapat kompleks pemakaman. Disinilah Sunan Kudus beserta para ahli waris dan tokoh-tokoh lainnya dimakamkan. Oleh karena itu, masjid ini dikategorikan sebagai masjid ziarah dalam daftar cagar budaya. 

Tempat bersejarah selanjutnya, yaitu “Rajah Kolocokro”. Rajah Kolocokro terdapat di gerbang pintu masuk menuju Masjid Menara Kudus. Tempat ini memiliki  satu cerita yang menyatakan bahwa konon tak banyak penguasa, pejabat, politisi, maupun orang yang memiliki kekuatan khusus yang mau singgah ke masjid ini atau berziarah ke makam Sunan. Masyarakat mengaitkan dengan cerita rakyat bahwa Sunan Kudus telah memasang Rajah Kolocokro di gerbang pintu masuk menuju masjid. Rajah tersebut konon mampu melemahkan semua kekuatan atau daya linuwih seseorang. Bahkan penguasa akan kehilangan kekuasaannya jika melewati rajah itu, begitu pula pejabat. 

Ceritanya bermula dari konflik internal di kesultanan Demak sepeninggalan raja kedua, Pati Unus. Penerus selanjutnya yaitu Sultan Trenggono tidak sepenuhnya didukung oleh kalangan internal sehingga terus terjadi gejolak dan pemberontakan. Puncak perseteruan terjadi pada masa akhir kesultanan demak, ketika Hadiwijaya, menantu Trenggono menyatakan diri sebagai penerus sultan dan memindahkan pemerintahan di Pajang, Solo.

Perlawanan datang dari Aryo Penangsang, anak dari Raden Kikin Surowiyoto,  yang dibunuh saat konspirasi kenaikan tahta Trenggono. Seharusnya Surowiyoto lebih berhak atas tahta karena Aryo Penangsang sebagai anak Surowiyoto merasa lebih berhak atas tahta sebagai sultan dibandingkan menantu Trenggono, Hadiwiyoto. Pada saat situasi panas politik itulah  kedua belah pihak datang ke pesantren milik kanjeng Sunan Kudus untuk meminta nasihat kepada sang Sunan.

Pada masa itu Kanjeng Sunan Kudus dipandang sebagai Sunan yang sangat disegani di kalangan lingkungan kerajaan Demak. Demi mendapatkan tahta Hadiwiyoto dan Aryo Penangsang, keduanya berusaha merebut simpati dari sang Sunan. Sunan kudus rupanya menghendaki semua dikembalikan dari nol jika ingin mencari solusi dari konflik. Solusi konflik ini semua harus menanggalkan posisi politik, jabatan, atau kekuasaan masing-masing. Karena itulah beliau memasang Kolocokro untuk menihilkan semua kekuatan.

Rajah dipasang di pintu masuk panti kudus sehingga siapapun yang masuk atau melewatinya terkena daya dari rajah yang dipasang oleh sang sunan yang terkenal kesaktiannya itu. Sunan Kudus membuat Rajah Kolocokro yang diletakkan di gerbang masuk Menara Kudus. Siapapun yang melewati akan kehilangan kedigdayaan, yang mana diharapkan Hadiwijaya yang akan melewati rajah itu. Ternyata dia menyusup lewat jalan lain, justru Aryo Penangsang lah yang lalai dan melewati gerbang tersebut. Celaka dia setelahnya seketika kekuatannya luntur dan tewas di tangan sultan Hadiwijaya. Hingga saat ini cerita tersebut masih terus berkembang dan dilestarikan oleh masyarakat Kudus. Banyak pejabat dan politisi yang tidak mau mengambil risiko setelah datang ke Menara Kudus karena takut kehilangan jabatannya. Untuk mengakali hal tersebut, banyak sekali pejabat mencari cara lain untuk masuk ke Menara Kudus melalui pintu samping. Apalagi mereka tidak mengetahui di pintu mana Sunan Kudus memasang Rajah tersebut. Kabarnya Sunan Kudus sengaja memasang Rajah tersebut agar siapapun yang datang ke kawasan Menara Kudus dapat menanggalkan segala kepentingan duniawinya. Termasuk segala urusan terkait kekuasaan dan jabatan, agar mereka terfokus dengan hubungan spiritual kepada sang maha pencipta.

Selain Sunan Kudus, di Kudus juga memiliki Sunan Muria. Sunan Muria adalah anak dari Sunan Kalijaga dalam pernikahannya dengan Dewi Saroh yang merupakan putri Syekh Maulana Ishaq. Sunan Muria lebih memilih berdakwah dengan rakyat jelata yang dikenal dengan Topo Ngeli. Topo Ngeli memiliki arti menghanyutkan diri dalam kehidupan masyarakat. Salah satu cara berdakwah Sunan Muria cukup unik yaitu dengan memberikan kursus gratis kepada masyarakat. Kursus tersebut adalah kursus keterampilan untuk para nelayan dan pelaut sehingga ajaran yang beliau berikan mudah diterima oleh para masyarakat. 

Sunan Muria memiliki filosofi ajaran Pagarong Omahku Kanthi Mangkok. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti pagarilah rumahmu dengan mangkuk, maksudnya adalah sejak dahulu masyarakat kawasan Muria dan sekitarnya telah diajarkan untuk ringan tangan membantu apa yang dibutuhkan oleh orang lain terutama tetangga terdekat. Keistimewaan Sunan Muria berada pada benda-benda peninggalannya. Diantaranya adalah pelana kuda yang sering digunakan masyarakat gunung Muria untuk meminta hujan. Ritual meminta hujan tersebut disebut Guyang Cekathak. Guyang Cekathak sendiri yaitu memandikan pelana kuda dari komplek Masjid Muria sampai mata air Sendang Rejoso. Pelana kuda dicuci kemudian dipercikkan ke warga gunung Muria lalu dilanjutkan dengan sholat meminta hujan.

Pada komplek makam Sunan Muria, terdapat makam lain yang berada di cungkup yaitu makam Dewi Sujinah yang merupakan istri pertama Sunan Muria. Sunan Muria dijadikan sebagai penengah dalam konflik di kesultanan Demak pada tahun 1518-1530 M, beliau dikenal sebagai seseorang yang bisa memecahkan masalah seberapapun rumitnya masalah tersebut. Solusi permasalahannya selalu bisa diterima oleh semua pihak yang berseteru.

Oleh:

Esti Maurilla, Neri Vedita Putri, Moch. Yusuf Ilham Noer, Alifia Diva Juniar, Siti Rizkia Latifa

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Leave a Reply