Film Sabrina ini disutradarai oleh Rocky Soraya. Selain film Sabrina, Rocky Soraya juga menyutradarai banyak film horor yang kurang lebih berjumlah 10 film. Film Sabrina ini ditulis oleh Riheam Junianti dan Fajar Umbara. Film ini diperankan oleh Sara Wijayanto (Laras), Luna Maya (Maira), Christian Sugiono (Aiden), Richelle Skornicki (Vanya), Rizky Hanggono (Arka), Jeremy Thomas (Rayard) yang ditayangkan pada tahun 2018.
Film Sabrina menceritakan tentang Maira yang hidup bahagia di pernikahan barunya bersama Aiden pemilik sebuah perusahaan mainan yang sukses. Aiden membuat boneka Sabrina versi baru untuk istrinya sebagai tanda cinta karena boneka Sabrina merupakan mainan kesukaan anak Maira yang sudah meninggal. Tetapi kebahagiaan mereka belum sempurna karena Vanya keponakan dari Aidbelum bisa menerima kehadiran Maira sebagai ibu sambungnya, karena Vanya masih belum bisa merelakan kepergian sosok ibunya.
Andini, ibunya Vanya meninggal karena pesugihan yang dilakukan oleh Aiden, dimana ibunya Vanya dijadikan tumbal supaya usaha Aiden berjalan dengan mulus. Akibat kesalahan yang Aiden lakukan, Vanya kehilangan kedua orang tua. Untuk mengobati rasa rindu kepada ibunya, suatu Ketika Vanya mencoba memainkan permainan Pensil Charlie didalam kamarnya untuk memanggil arwah sang ibu. Dari permainan tersebut kejanggalan-kejanggalan dan kejadian aneh pun terjadi, mulai dari boneka Sabrina berpindah tempat sendiri, kotak musik tiba-tiba berbunyi dan Vanya suka mengobrol sendirian bahkan sering kali ia bilang bahwa ibunya telah datang. Namun, Maira dan Aiden tidak percaya hingga akhirnya Maira mengalami rentetan kejadian mengerikan dan mereka melihat sendiri sosok Andini (ibu Vanya).
Maira pun memanggil Bu Laras seorang paranormal yang dulu pernah membantunya, tapi Andini ternyata bukanlah Andini ibunya Vanya, melainkan iblis keji bernama Baghiah yang menetap di boneka Sabrina dan menginginkan tubuh manusia. Keluarga Aiden mulai terancam adanya iblis jahat tersebut,tujuan iblis itu hanya satu yaitu menginginkan tubuh manusia satu per satu sebagai tumbal atas kejahatan yang pernah mereka lakukan. Plot twist hadir sebagai konklusi di akhir. Tanpa tedeng aling-aling,Aiden justru ditangkap polisi karena pernah bersekutu dengan iblis untuk membunuh adiknya sendiri hingga berakibat pada teror yang menimpa keluarganya.
Film Sabrina ini ditayangkan dengan durasi satu jam lima puluh dua menit, dan menyajikan banyak jumpscare di sela-sela film yang menurut kami cukup mengagetkan. Namun, ada beberapa jumpscare yang juga gagal membuat kami terkejut. Alur cerita yang ada di film ini cukup lambat, alur ini membuat para penonton merasa bosan dan plot twist yang ada di dalam film cukup membingungkan, jadi menurut kami cukup sulit memahami alur ceritanya. Film ini mengandalkan unsur-unsur horor konvensional dan cenderung mengandalkan kisah yang sudah terlalu sering digunakan, sehingga bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya walaupun alur cukup membingungkan.
Film ini juga terdapat beberapa animasi visual yang menurut kami membuat adegan itu terlihat kurang nyata dan terkesan berlebihan, seperti karakter yang kebal dengan benda tajam meskipun dilukai berulang kali menggunakan pisau tajam tetapi tetap gesit. Beberapa karakter pendukung juga kurang dikembangkan dengan baik karena karakter-karakter tersebut hanya muncul sebentar dan tidak memiliki perkembangan yang jelas sehingga kehadiran mereka seperti tidak ada gunanya. Saat keluarga tersebut diteror iblis di pabrik juga semakin tidak masuk akal. Awalnya ada dialog yang menyatakan bahwa selama berada di dalam pabrik akan susah mendapatkan sinyal. Namun Ketika keluarga itu butuh bantuan,sepasang paranormal seketika langsung tiba di pabrik entah mendapat informasi dari mana. Hanya eksekusi berdasarkan dugaan. Selain itu kemunculan iblis juga semakin tidak konsisten. Kadang merangkak, kadang jalan bahkan kadang terbang. Saat iblis merasuki Aiden dan mengejar Bu Laras terlihat tidak mampu menembus pintu,sangat tidak masuk akal.
Film ini dikemas dengan sangat baik sehingga menciptakan nuansa mistis dan menegangkan yang memiliki daya tarik emosional. Film ini menggambarkan hubungan yang sangat baik antara satu tokoh dengan tokoh yang lain sehingga para penonton bisa masuk ke dalam imajinasi dan emosional film tersebut. Film ini juga didukung oleh tokoh dan karakter yang sangat mendalami peran, dan para pemain mampu menghidupkan karakter dengan sangat baik sehingga cerita film ini menjadi lebih hidup dan mendalam. Film ini memiliki efek visual yang memukau dan tidak hanya tentang horror, tetapi juga mengandung pesan moral dimana film ini mengandung pesan tentang kekeluargaan, dimana sesama keluarga harus saling menjaga perasaan dan menjaga kekeluargaan dengan baik, sehingga tidak menimbulkan persaingan antar keluarga yang menyebabkan perpecahan antar keluarga. Pemilihan musik yang ada pada film ini juga sangat cocok sehingga bisa membuat penonton memperkuat nuansa emosional yang ingin disampaikan oleh film Sabrina.
Kesimpulan dari film horor “Sabrina” ini memiliki cerita yang menarik, nuansa mistis yang kuat, efek visual yang memukau, terdapat salah satu pesan moral yaitu Sesama keluarga seharusnya tidak boleh menyimpan rasa iri dengki supaya rasa persaudaraan tetap harmonis,dan saling menyayangi. Di film ini juga mengajarkan kita tentang rasa bersyukur atas pemberian rezeki dari tuhan, jangan melakukan pesugihan dalam hal apapun, karena itu dapat memicu perselisihan antar sesama manusia dan juga kita sebagai manusia harus pandai-pandainya memahami dan berwaspada agar tidak mudah tertipu,karena dalam film Sabrina ini setan atau iblis bisa menipu semua orang,tidak mesti dengan wajah yang seram bisa saja dengan wajah yang terlihat baik tetapi sebenarnya Jahat seperti iblis . Secara keseluruhan film Sabrina ini adalah film horor Indonesia yang layak dipertonton dan berhasil menciptakan pengalaman horor yang menghibur dan mencekam bagi orang yang menontonnya. Film ini juga memiliki kesan yang mendalam dan kualitas produksi yang mengesankan. Sehingga para penonton susah untuk melupakan adegan demi adegan yang sudah dilihat.
Oleh:
Yessi Ine Rahmandhani, Nadya Fransiska Julianti, Sekar Cahya Ningrum, Akhmad Faqih Kaerussani, & Fifi Aulia Hakiki
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia