Menembus Batas Tradisi: Resensi Film Kartini (2017)

Film Kartini (2017) merupakan film bergenre sejarah yang sutradarai oleh Hanung Bramantyo dan merupakan film ketiga yang diproduksinya. Film Kartini sendiri dibuat oleh Legacy Pictures, Screenplay Films. Film ini menceritakan tentang perjuangan sosok kartini dan adik-adiknya yang ingin mengubah tradisi yang di mana pada masa itu wanita dianggap rendah. Film ini diperankan oleh aktor dan aktris berbakat seperti Dian Sastrowardoyo, Acha Septriasa, Ayushita, sehingga peran yang diberikan tidak main-main. Para aktris aktor dapat mendalami dan menjiwai peran okoh yang diberikan sehingga dapat memberikan vibes pada era yang ingin diperlihatkan dalam film ini. Berkat kemampuan para artis yang sangat pandai dalam melakoni perannya, film ini mendapat beberapa penghargaan.

Kebanyakan dari kita tentunya sudah tidak asing lagi dengan pahlawan emansipasi yang telah menaikkan derajat para wanita. Film Kartini (2017 menunjukkan proses perjuangan Kartini semasa hidupnya dalam menyetarakan hak bagi semua orang baik dari keturunan ningrat maupun bukan. Namun, film yang masuk dalam daftar 10 besar film terlaris Indonesia di tahun 2017 ini disajikan dari sudut pandang Kartini yang harus melihat secara langsung perihal Ibunya yang bernama Ngasirah menjadi orang terbuang di rumahnya sendiri. Hal ini terjadi karena Ngasirah bukanlah seseorang yang memiliki darah ningrat dan menjadi seorang pembantu.  Raden Sosroningrat atau seseorang yang bisa kita sebut dengan ayah Kartini juga tidak mampu untuk melawan tradisi yang memang sudah turun temurun.

Waktu berlalu hingga Kartini harus dipingit di dalam kamar, hal ini sudah menjadi tradisi pada masa itu bagi keluarga para bangsawan hingga usianya siap untuk dinikahi. Kartini adalah remaja yang jenuh dengan kehidupannya di rumah. Apalagi, setelah kakak tirinya, Soelastri menikah dengan seorang lelaki melalui perjodohan membuat Kartini semakin memberontak.

Kartini selalu memberontak akan hal-hal yang harus diterapkan di rumah bangsawan, ia merasa tidak menjadi diri sendiri. Ketika kedua adiknya dimasukkan ke dalam kamarnya untuk dipingit, Kartini mengajari kedua adiknya untuk tertawa lebar, karena pada masa itu, seorang Raden Ayu dilarang tertawa lebar, mereka harus terlihat anggun.

Kartini juga berusaha untuk tidak menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya, melihat kakaknya yang dijodohkan dan menikah dengan lelaki yang tak dicintainya membuat Kartini semakin memberontak dan berjuang untuk menaikkan harga diri perempuan agar perempuan dapat memilih jalannya sendiri, mengekspresikan diri, dan menjadi dirinya sendiri. Tak merasa dikekang ataupun dikurung bagaikan burung di dalam sangkar. 

Berbagai pemberontakan yang telah dilakukan oleh Kartini membuahkan hasil. Kartini akhirnya mendapatkan angin segar ketika kakaknya, Sosrokartono memberikan kunci lemarinya yang berisi buku-buku sebelum ia pergi ke Belanda. Kartini yang kemudian membaca buku-buku pemberian kakaknya berhasil membuat pikirannya tidak terpenjara dengan berbagai macam khayalan yang divisualisasikannya secara nyata. Sampai pada bagian dimana Kardinah dan Roekmini masuk ke kamar Kartini untuk dipingit. Kartini pun mendapatkan dua ajudan untuk membantu perjuangannya.

Kelebihan dari film ini terdapat pada tema. Hal ini dikarenakan memperlihatkan bagaimana perjuangan kartini beserta adik-adiknya yang ingin mengubah tradisi menjunjung tinggi pendidikan untuk para wanita di Jepara yang dulunya masih memiliki pemikiran bahwa wanita tidak perlu mengenyam pendidikan, wanita hanya diperbolehkan untuk menjadi seorang istri dan melayani suami, kian berubah dengan adanya peran Kartini. Beberapa detail yang ditunjukkan di film ini yaitu, mengangkat karya seni ukir dari Jepara yang diperkenalkan Kartini pada Belanda sehingga Jepara dapat lebih dikenal luas. Selain itu, film ini juga dibintangi oleh aktor dan aktris terkenal, sehingga menjadi daya tarik tersendiri.

Kelebihan lain dari film ini yaitu, aktor dan aktris yang memerankan sangat mendalami perannya masing-masing. Pengambilan gambar sangat menarik, termasuk pada pengambilan gambar ketika memperlihatkan sosok Kartini yang membaca buku seolah-olah dia adalah tokoh dalam buku tersebut.

Namun, ketika menggambarkan tradisi dan keluarga yang menjadi penghalang Kartini untuk menggapai cita-citanya terlalu bertele-tele, sehingga, film ini menjadi kurang menarik dan kurang memfokuskan perjuangan Kartini yang sebenarnya. Cerita yang disajikan tidak sepenuhnya menceritakan kehidupan asli sosok Kartini, tetapi hanya sebagian kisah tertentu yang ditayangkan dalam film tersebut. 

Kekurangan lain dari film ini yaitu pada penggunaan bahasa daerah yang masih sering kali digunakan pada dialog membuat penonton yang bukan berasal dari Jawa menjadi kesulitan untuk memahami isi cerita. Terjemahan yang disediakan membuat beberapa penonton kurang bisa menghayati film yang disajikan.

Oleh:

Fadilah Fauziah, Allamanda Kusumaning Anjora, Hesti Kurnianingtyas, Hawa Amwalya Akasyah, Alayya Edistya Putriayu Dhiya

Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia

Leave a Reply