Seribu Cerita di Pantai Widuri

Setiap hari libur atau akhir pekan, Pantai Widuri menjadi destinasi favoritku. Aku sering ke sana naik sepeda sendirian, menyusuri jalanan pantai, lalu duduk di tepi jalan dekat mercusuar sambil melamun dan menikmati suasana pantai. Rasanya tenang sekali menikmati angin laut dan suara ombak, beban yang ada di pikiran serasa hilang seketika. Itulah mengapa tempat ini menjadi favoritku untuk melepas penat dari hiruk-pikuk kehidupan.

Kadang, aku pergi bersama keluargaku berlibur ke pantai ini untuk mencari sarapan pagi seraya menikmati suasana pantai. Biasanya, kami ditemani seporsi tempe mendoan hangat dan juga teh manis panas untuk menemani pagi kami. Suatu saat, ibuku pernah menceritakan sebuah kisah asal-usul Pantai Widuri yang ia dengar dari kakeknya saat masih kecil. Ia menceritakan bagaimana tempat ini dinamakan “Widuri” dan cerita-cerita yang berkembang di masyarakat setempat.

Setelah mendengar cerita itu, aku takjub. Kupikir tempat ini hanyalah tempat wisata biasa. Ternyata, di balik pasir dan ombaknya, tersimpan kisah cinta, pengorbanan, dan kesetiaan. 

Cerita itu bermula dari pasangan bernama Ki dan Nyai Pedaringan.

Dahulu kala, jauh sebelum daerah pesisir utara Jawa Tengah ramai penduduk, terbentang luas hutan lebat dan rawa-rawa yang mengelilingi daerah tersebut. Di antara pepohonan rindang dan suara kicauan burung yang bersaut-sautan, berdirilah sebuah gubuk kayu sederhana. Gubuk itu dihuni sepasang suami-istri bernama Ki dan Nyai Pedaringan.

Pagi itu, matahari masih malu-malu untuk muncul di balik pepohonan yang rindang. Di dapur sederhana, Nyai Pedaringan sedang memasak sayur lodeh kesukaan suaminya, aroma sedap dari masakan Nyai memenuhi udara gubuk. Setelah seluruh masakan sudah siap, ia lalu memanggil lembut, “Ki… sarapannya sudah siap.”

Ki Pedaringan keluar dari kamar, lalu duduk di samping Nyai.

   “Makasih, Nduk. Biar cepet, aku berangkat sekarang, matahari sudah mulai naik,” katanya sambil menyuap nasi dan sayur lodeh.

  “Nggih Mas, hati-hati di jalan, jangan lupa bawa bekal siangnya, aku taruh di buntalan kain itu ya,” ujar Nyai.

   Seusai makan, Ki Pedaringan langsung bergegas-gegas berangkat ke ladang, sampai lupa tidak membawa bekal yang sudah disiapkan istrinya.

   Selang beberapa waktu setelah Ki Pedaringan pergi, terdengar suara ranting patah di halaman depan gubuk. Nyai Pedaringan lalu mengintip dari jendela dan terkejut melihat seorang pemuda tampan berdiri dengan lemah, lengannya terluka parah dengan keris yang masih tertancap.

   “Astaghfirullah… siapa dia?” tanyanya dalam hati.

   Pemuda itu menatap Nyai dengan mata penuh harap.

   “Maaf… bolehkah saya berteduh di gubuk ini dan meminta sedikit bantuan? lengan saya terluka.”

   “Masuklah,” ucap Nyai sambil membuka pintu, “Lengan Anda berdarah, silahkan duduk dulu, saya ambilkan air bersih dan obat-obatan.”

   Pemuda itu duduk pelan, lalu memperkenalkan diri, “Nama saya Pangeran Purbaya, berasal dari Kerajaan Mataram. Saya sedang melaksanakan tugas untuk memberantas pemberontakan yang dipimpin Salingsingan di Cirebon, beruntung saya berhasil melumpuhkannya. Perlawanan itu tidaklah mudah, lengan saya tertancap keris. Dalam perjalanan pulang, saya berusaha menahan rasa sakit, dan akhirnya menjumpai sebuah gubuk ini.”

   Nyai Pedaringan mengangguk sambil membersihkan luka pangeran.

   “Anda istirahat saja dulu, luka seperti ini harus dibalut rapat-rapat.”

   Setelah selesai diobati, Pangeran Purbaya lalu menyerahkan keris yang semula tertancap di lengannya.

   “Terima kasih atas bantuanmu Nyai. Simpanlah keris ini, namanya Simonglang. Jagalah baik-baik keris ini dan hanya keturunanmu yang boleh memilikinya.”

   Nyai Pedaringan terdiam sesaat. Tangannya gemetar saat menerima keris itu.

   “Eee… saya akan menjaga keris ini dengan sepenuh jiwa dan raga, Pangeran…,” ucapnya lirih, “Tak ada seorangpun yang boleh mengambilnya dariku.”

   Pangeran Purbaya lalu meninggalkan gubuk, menghilang melewati rimbunan semak menuju selatan. Di tengah perjalanan, ia melewati sebuah sungai kecil yang melintang, jika dalam bahasa Jawa disebut “malang”. Ia melihat sungai itu dari arah timur ke barat dan lokasinya sangat dekat dengan lautan. 

   “Tempat ini… akan kupanggil Pemalang.” ujar pangeran, lalu ia melanjutkan perjalanannya.

   Sementara itu, matahari mulai condong ke barat. Ki Pedaringan kembali dari ladang dengan perasaan kesal karena lupa membawa bekal makan siang. Saat melangkah masuk dapur, ia melihat sebuah keris pusaka di meja yang belum pernah ia lihat. Ia curiga dengan keris pusaka yang biasanya dimiliki oleh seorang lelaki.

   “Dari mana keris ini kau dapat Nyai?’’ ucapnya dengan nada kesal dan curiga.

   Nyai Pedaringan menjelaskan asal keris pusaka itu, “Tadi ada seorang pangeran… Ia terluka, dan datang memintaku untuk mengobatinya. Setelah selesai kuobati, dia memberikan keris yang tertancap di lengannya kepadaku. Dia memintaku untuk menjaga dan merawat keris ini sebagai tanda terima kasih.”

   “Keris dari seorang pangeran? dan kau simpan di rumah tanpa bilang apa-apa? apa yang sebenarnya kau perbuat Nyai?”

   “Aku hanya menolong dia Ki, tidak berbuat aneh-aneh.”

   “Aku tidak percaya omong kosongmu itu tanpa bukti.”

   “Aku tidak berdusta Ki. Jika kau tidak percaya, aku akan buktikan kesucianku dengan memotong jari-jariku. Jika darah yang keluar berwarna ungu maka artinya cintaku masih suci, namun jika darah yang keluar adalah merah berarti aku berbohong kepadamu,” ujar Nyai Pedaringan.

   Ia lalu mengambil keris, menggenggamnya dengan erat, lalu menggores jari-jarinya yang lentik. Tetesan darah jatuh ke bunga putih di meja. Seketika, warna ungu menyebar di kelopak bunga itu, bunga itu bernama Bunga Widuri. Bunga yang berwarna putih menjadi ungu karena darah Nyai Pedaringan.

   “Lihatlah! Ungu ini tanda cintaku tak ternoda. Aku hanya menolong, tidak lebih.”

   Ki Pedaringan lalu tertunduk lemas dengan perasaan menyesal.

   “Aku… salah menuduhmu Nyai, tolong maafkanlah aku.”

   Untuk menebus kesalahpahaman itu, Ki Pedaringan langsung berlari keluar dari gubuk untuk menyusul Pangeran Purbaya. Ia merasa harus meminta maaf padanya juga.

   Hari demi hari, musim pun berganti. Sejak saat itu, Ki Pedaringan tak pernah kembali. Nyai Pedaringan tetap setia menunggu di gubuk tua, memandangi lautan lepas sambil memeluk keris Simonglang. Nyai Pedaringan pun mendapat julukan oleh warga sekitar yaitu Nyai Widuri yang hidup seorang diri di gubuk tua. 

   Diduga, Ki Pedaringan diserang oleh pasukan Salingsingan yang tersisa di tengah perjalanannya, hingga ia tewas dan tak pernah kembali lagi. Bahkan sampai akhir hayat Nyai Pedaringan masih tetap hidup seorang diri.

   Dari kejadian itu, nama Widuri menjadi nama desa yang ditinggali oleh Nyai Pedaringan atau lebih dikenal Nyai Widuri. Selain itu, pantai yang berdekatan dengan desa ini pun juga dinamai Pantai Widuri.

   Bagiku, pantai ini bukan hanya untuk melepas penat, tetapi juga menyimpan sejarah yang luar biasa, pengalaman pribadi, dan momen kebersamaan keluarga yang membuatku merasa selalu dekat dengannya. Sebab di balik keindahannya, tersimpan seribu cerita yang selalu hidup di dalamnya.(*)

Oleh Cevila Sultan Alamsyah