Di balik sejuknya tanah Onje dengan angin yang berhembus setiap sore, terdapat puluhan adat dan tradhisi yang berada di tanah Onje. Begitu makmurnya warga desa, membuat alam pun ikut merayakan kemakmuran desa Onje. Namun, di balik kesuksesan dan kemakmuran warga Onje, tentu saja warga Onje belajar untuk tidak tamak terhadap kekayaan alam. Karena warga Onje mengetahui, apabila mereka tamak, alam akan murka dengan tanah Onje.
Demi melestarikan budaya setempat dan sebagai ungkapan rasa Syukur Masyarakat terhadap hasil panen yang melimpah, warga desa Onje mengadakan tradisi Grebeg Onje. “Grebeg Onje berasal dari wujud rasa syukur warga sekitar pada alam karena telah memberikan warga hasil panen yang melimpah setiap tahunnya, sehingga warga bergotong royong menjaga warisan leluhur” ucap pak Ayon.
Grebeg Onje juga dipercayai oleh warga Onje sebagai pembawa berkah dan perlindungan dari malapetaka. Selain nilai spiritual, Grebeg Onje juga memiliki nilai sosial. Terlihat dari arak-arakan gunung panen bumi, doa bersama, dan kesenian tradisional yang khas.
Grebeg Onje dilakukan dengan mengambil air dari tujuh sumur atau “mata air suci” sebagai simbol awal menyucikan diri sebelum berpuasa selama pra-Paskah. Ketujuh air tersebut berasal dari Belik Daor, Belik Pancur, Belik Sendang Pancur, Belik Sidomas, Belik Nagasari, Belik Muli, dan Belik Gondok. Ritual ini dilakukan berpapasan dengan Karnaval Gunungan di makam Syekh Jambu Karang sebagai pengingat akan pentingnya menghormati leluhur dan nilai-nilai spiritual, juga keharmonisan antara manusia, alam dan Tuhan.(*)
Oleh Amelia Ayunian Nurrochim