Tradisi ruwatan anak kembang sepasang adalah sebuah ritual yang sarat makna dan simbolisme dalam budaya Jawa, khususnya di wilayah Pati. Ritual ini dilaksanakan untuk dua anak perempuan bersaudara yang dikenal sebagai kembang sepasang. Ritual ini bertujuan untuk menjaga agar kedua anak tersebut jauh dari nasib buruk atau sengkala yang mungkin mengancam kehidupan mereka. Ruwatan berasal dari kata luwar, yang berarti melepaskan atau membebaskan. Dalam situasi ini, ruwatan dilakukan untuk melindungi anak-anak dari hal-hal buruk dan malapetaka. Anak-anak yang lahir dalam kondisi tertentu, seperti anak tunggal dan kembang sepasang, dianggap dapat memiliki nasib buruk. Oleh karena itu, ritual ruwatan sangat penting untuk memastikan bahwa mereka aman dan sehat.
Bu Sundari melakukan tradisi ruwatan untuk kedua putrinya, beliau melakukan tradisi tersebut sehari sebelum putri perempuan pertamanya menikah. Walaupun acara pernikahan putri pertamanya diwarnai kebahagiaan, tetapi mereka diwarnai kekhawatiran karena menurut kepercayaan keluarga beliau, anak kembang sepasang diyakini membawa sengkala atau kesialan bagi keluarga jika tidak diruwat. Oleh karena itu, Bu Sundari melakukan tradisi ruwatan.
Sebelum melakukan acara tersebut, Bu Sundari mendatangi seorang dalang sepuh yang dikenal memiliki ilmu ruwatan. Dalang tersebut menyarankan agar dilakukan upacara ruwatan dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon tentang penyucian diri dari bala dan marabahaya. Dalang tersebut memberikan instruksi kepada Bu Sundari untuk memenuhi berbagai persyaratan sebelum pagelaran dimulai. Persyaratan tersebut mencakup dua baju, dua sandal, dan dua kerudung dengan warna atau motif yang sama. Selain itu, Bu Sundari juga diminta untuk menyediakan satu tandan pisang, wawal (arit), bantal/guling, kelambi, cincin, uang yang sama, kelapa cikal, kupat lepet, air dalam gentong kecil yang telah diberi bunga-bunga atau air kembang setaman, serta dua ekor ayam yang telah dimasak. Tak hanya itu, masih ada beberapa sesaji lain yang harus dipenuhi guna memastikan kelancaran dan kesakralan acara tersebut.
Siang hari, sebelum acara, tenda (terop) sudah dipasang, tetangga-tetangga beliau sudah sibuk ke sana kemari membagi tugas untuk berjalannya acara. Salah satunya yang tidak kalah penting menyiapkan gedebog (batang pohon pisang) untuk menancapkan wayang-wayang. Pengeras suara mulai dinyalakan dengan dentuman dangdut yang menandakan bahwa keluarga Bu Sundari duwe gawe atau, dalam istilah lain, sedang mengadakan hajatan.
Malam ruwatan pun tiba, warga mulai berdatangan antusias untuk menyaksikan pertunjukan wayang, alunan gamelan mulai dilantunkan. Acara dimulai setelah adzan isya, suasana semakin menususk dinginnya malam. “Saya ke sini mengikuti suara gamelan, ternyata disini ada pertunjukan wayang,” ucap Bapak Yanto, tetangga yang rumahnya jauh dari ibu Sundari. Dengan penuh khidmat dalang memulai alur cerita, diawali dengan pengenalan tokoh, diiringi gamelan yang perlahan-lahan meningkatkan ketegangannya. Saat adegan puncak dimainkan, dalang memanggil kedua kembang sepasang tersebut, untuk duduk didepan beliau di atas mimbar, dalang menyisipkan doa-doa dan mantra khusus. Kemudian, air kembang setaman dipercikkan ke kepala kedua putri Bu Sundari sebagai simbol penyucian. Sisa air di gentong tersebut dapat diminum karena dianggap sebagai obat dari segala penyakit. Beberapa keluarga beliau meminum air tersebut. Kemudian, prosesi ditutup dengan pemotongan rambut mereka, serta pelepasan sesaji ke sungai sebagai bentuk pelepasan segala sengkala. Tetapi, Bu Sundari meminta bantuan saudaranya untuk melepaskan sesaji tersebut ke Sungai pada tengah malam.
Tradisi ruwatan kembang sepasang adalah ritual Jawa yang menggabungkan budaya lokal dan seni pertunjukan. Pementasan wayang kulit sebagai bagian dari ruwatan menunjukkan bagaimana seni dapat berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan prinsip moral dan spiritual kepada masyarakat. Masyarakat percaya bahwa ruwatan dapat menolak bala, dan terbebas dari ancaman sengkala. Hingga kini, tradisi ruwatan anak kembang sepasang masih dijalankan oleh masyarakat Pati sebagai bentuk sinergi antara wayang dan budaya lokal dalam menjaga keseimbangan hidup.(*)
Oleh Aisah Nurul Aini