Dahulu kala, sebelum Ngaliyan menjadi daerah yang ramai seperti sekarang, wilayah ini adalah hutan lebat yang jarang dijamah manusia. Konon, hutan itu penuh dengan tantangan dan misteri, sehingga orang-orang enggan untuk tinggal di sana. Namun, semuanya berubah ketika seorang tokoh bernama Mbah Alian datang dan membuka hutan tersebut, membuka jalan bagi kehidupan baru di daerah yang kini kita kenal sebagai Ngaliyan.
Mbah Alian dikenal sebagai sosok yang sangat berani dan taat beribadah. Beliau juga dipercaya memiliki hubungan kekerabatan dengan Keraton Cirebon. Kisah perjalanan beliau dari Ponorogo hingga akhirnya menetap di Ngaliyan menjadi bagian penting dari sejarah daerah ini. Konon, beliau menempuh perjalanan jauh dengan menunggang kuda, melewati berbagai medan berat, sampai akhirnya sampai di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Ngaliyan.
Salah satu tempat yang masih menjadi saksi bisu perjuangan Mbah Alian adalah petilasan beliau di Perumahan Wahyu Utomo. Di sana terdapat sumur tua yang konon tidak pernah kering, bahkan saat musim kemarau panjang. Sumur ini dianggap penuh berkah oleh warga sekitar dan menjadi tempat ziarah yang rutin dikunjungi. Saya pernah berkesempatan mengunjungi petilasan itu, dan suasana di sana terasa sangat tenang dan damai. Banyak orang datang bukan hanya untuk berdoa, tapi juga untuk mencari ketenangan hati.
Nama Ngaliyan sendiri berasal dari nama Mbah Alian. Dahulu, masyarakat menyebut daerah ini sebagai “tempatnya Mbah Alian”, yang kemudian lama-kelamaan berubah menjadi Ngaliyan.
Nama ini akhirnya resmi digunakan sebagai nama kecamatan hingga sekarang. Saya ingat waktu kecil sering mendengar cerita ini dari orang tua dan tetua kampung, dan sejak itu saya merasa nama daerah ini sangat istimewa.
Setiap tahun, warga setempat mengadakan acara doa bersama dan ziarah ke petilasan sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas jasa-jasa Mbah Alian. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan sosial dan budaya di daerah tersebut. Suasana kebersamaan dan kekeluargaan terasa sangat kental saat acara itu berlangsung.
Cerita tentang Mbah Alian mengajarkan banyak hal, terutama tentang keberanian, ketulusan, dan pentingnya menjaga warisan budaya leluhur. Kisah beliau menjadi inspirasi bagi banyak orang yang tinggal di sekitar Ngaliyan. Seperti yang sering diceritakan oleh tetua, “Jaga warisan leluhur, agar kita tidak kehilangan akar dan jati diri.” Ungkapan ini mengingatkan kita untuk selalu menghargai dan melestarikan nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendahulu.
Selain sejarahnya, Ngaliyan juga dikenal sebagai daerah yang asri dan sejuk, dengan warga yang ramah dan berbagai fasilitas pendukung kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat Ngaliyan menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Saya sering menikmati suasana pagi yang segar di sini, berjalan kaki di sekitar kampung sambil menyapa tetangga yang ramah. (*)
Oleh Muhammad Afuw Dhiya ‘Ulhaq